Berita UtamaLensa PerbatasanPariwisataPendidikanwarta Kota

Ketika Bahasa Ibu Menjadi Akar Pikiran Anak

54
×

Ketika Bahasa Ibu Menjadi Akar Pikiran Anak

Sebarkan artikel ini

Penulis: Oktaf M.Klau,S.Fil

 — Ada sesuatu yang perlahan hilang dari rumah-rumah di tanah Timor: suara bahasa ibu.

Ia pernah begitu dekat dengan kehidupan anak-anak—mengalir dari panggilan Ina untuk ibu, Ama untuk ayah, hingga ungkapan-ungkapan sederhana yang menjadi jembatan pertama seorang anak mengenal keluarga, kampung, adat, dan dunia di sekelilingnya.

Namun, suara itu kini berhadapan dengan dunia baru. Layar gawai, tayangan video, dan bahasa yang datang dari berbagai penjuru perlahan mengambil ruang yang dahulu menjadi milik bahasa ibu.

Fenomena itu bahkan pernah merambah ruang sekolah. Anak-anak di sejumlah tempat dilarang menggunakan bahasa daerah seperti Bahasa Tetun dan Bahasa Dawan, maupun dialek daerah lainnya di Nusa Tenggara Timur.

Alasannya tampak sederhana dan dapat dipahami: anak-anak diharapkan mampu menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar sejak bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah.

Tetapi di balik tujuan tersebut, muncul persoalan lain. Ketika bahasa daerah terlalu lama disingkirkan dari ruang pendidikan dan komunikasi keluarga, anak-anak berisiko semakin jauh dari akar budayanya sendiri. Pemahaman terhadap adat istiadat dan nilai-nilai luhur warisan leluhur pun perlahan dapat menipis.

Di kampung-kampung wilayah Malaka, Belu, maupun kawasan Dawan, gejala serupa terlihat dalam kehidupan keluarga. Sebagian orang tua memilih menggunakan Bahasa Indonesia ketika berbicara dengan anak-anak mereka.

Motivasinya pun bukan untuk meninggalkan budaya. Sebaliknya, banyak orang tua melakukannya karena ingin anak lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan lebih mudah memahami pelajaran.

Namun, pilihan yang pada awalnya terasa praktis itu menyimpan konsekuensi budaya.

Ketika bahasa daerah tidak lagi menjadi bahasa utama di rumah, anak-anak kehilangan salah satu ruang pertama untuk mengenal istilah adat, tata krama, ungkapan leluhur, serta cara masyarakat memaknai kehidupan.

Bahasa daerah sesungguhnya bukan hanya alat berbicara. Ia adalah guru pertama yang mengajarkan seorang anak bagaimana memahami dunia.

Sejak lahir, seorang anak mengenal dunia melalui suara orang-orang terdekatnya. Sebelum mengenal buku, sebelum memahami pelajaran di sekolah, bahkan sebelum mampu membaca, ia lebih dahulu belajar melalui suara ibu dan ayah.

Di situlah bahasa ibu bekerja secara diam-diam.

Kini, suara tersebut menghadapi tantangan baru. Anak-anak usia balita hingga Taman Kanak-Kanak semakin akrab dengan bahasa yang mereka dengar dari tayangan digital. Mereka dapat menghafal kata, bunyi, bahkan ungkapan dari layar gawai sebelum memahami kekayaan bahasa yang tumbuh dari tanah kelahirannya sendiri.

Pandangan mengenai pentingnya penguasaan bahasa ibu juga pernah disampaikan Prof. Dr. Frans Magnis Suseno, SJ. Dalam sebuah wawancara, ia menegaskan filosofi tentang pentingnya menguasai bahasa sendiri sebelum mempelajari bahasa asing.

“Kami orang Jerman, sebelum berbicara bahasa asing lain, kami harus menguasai secara baik bahasa ibu kami, yakni Bahasa Jerman.”

Menurut prinsip tersebut, penguasaan bahasa ibu menjadi bagian penting dalam membangun pola komunikasi verbal yang benar dan kokoh.

Gagasan itu menemukan relevansinya di tanah Timor. Bahasa daerah bukan penghalang bagi anak untuk menguasai Bahasa Indonesia. Sebaliknya, penguasaan bahasa pertama yang baik dapat menjadi fondasi bagi anak untuk memahami struktur bahasa, menyampaikan gagasan, serta mengenali lingkungan sosial dan budayanya.

Dari perspektif pendidikan dan kebudayaan, persoalannya bukan memilih Bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda sekaligus saling melengkapi. Bahasa Indonesia membuka ruang komunikasi nasional, sementara bahasa daerah menjaga hubungan anak dengan sejarah, keluarga, komunitas, dan identitas budayanya.

Karena itu, ketika bahasa daerah mulai kehilangan penutur muda, yang dipertaruhkan bukan semata-mata hilangnya sejumlah kosakata. Yang ikut terancam adalah cara suatu masyarakat menyimpan ingatan, menyampaikan nilai, dan mewariskan kebijaksanaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Kekhawatiran terhadap semakin tidak lancarnya anak-anak di wilayah Dawan, Timor Tengah Utara, dalam menggunakan bahasa daerah menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara.

Bupati Yosep Falentinus Delasale Kebo kemudian mengambil langkah dengan mengeluarkan instruksi yang menetapkan setiap hari Kamis sebagai hari penggunaan Bahasa Dawan di lingkungan sekolah.

Kebijakan itu menempatkan sekolah bukan hanya sebagai ruang untuk mengejar prestasi akademik, tetapi juga sebagai tempat anak-anak kembali berjumpa dengan akar kebudayaannya.

Pada hari itu, Bahasa Dawan mendapat ruang untuk hidup. Ia hadir dalam percakapan, interaksi, penyampaian pendapat, maupun ungkapan perasaan anak-anak di lingkungan pendidikan.

Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pergantian bahasa dalam satu hari.

Anak-anak sedang diajak mengenali kembali suara yang mungkin selama ini semakin jarang mereka dengar.

Bahasa daerah tidak menghalangi kemajuan. Ia justru dapat menjadi akar yang membuat seorang anak berdiri lebih teguh ketika memasuki dunia yang semakin luas.

Bahasa daerah adalah akar yang menancap di tanah kelahiran. Bahasa Indonesia menjadi batang dan dahan yang menghubungkan anak dengan bangsa. Sementara bahasa asing dapat menjadi cabang yang membawanya menjelajah dunia.

Pohon yang kehilangan akar mungkin masih dapat berdiri untuk sementara. Tetapi pohon yang akarnya kuat memiliki daya hidup yang berbeda.

Karena itu, upaya menghidupkan kembali Bahasa Dawan, Bahasa Tetun, dan bahasa-bahasa daerah lainnya di Nusa Tenggara Timur membutuhkan keterlibatan bersama—sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat.

Sebab pelestarian bahasa tidak akan cukup jika hanya dibebankan kepada ruang kelas.

Ia harus kembali terdengar di rumah.

Kembali hidup di halaman.

Kembali digunakan ketika seorang anak memanggil Ina dan Ama.

Dan kembali menjadi bahasa yang membuat mereka mengenal dari mana mereka berasal.

Jangan sampai anak-anak tumbuh menjadi generasi yang fasih berbicara, tetapi gagap mengenali akar budayanya sendiri.

Sebab ketika seorang anak kehilangan bahasa ibunya, yang perlahan menghilang bukan hanya kata-kata, melainkan sebagian dari cara sebuah bangsa mengingat dirinya sendiri.

Bahasa daerah adalah suara pertama yang mengajarkan anak mengenal dunia. Merawatnya berarti merawat ingatan, nalar, dan jati diri generasi yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *