ATAMBUA |BELUPOS.Com – Langit siang di Atambua tampak tenang, namun halaman Kantor Bupati Belu berubah menjadi ruang gugatan. Sejumlah massa dari GMNI Kabupaten Belu berdiri dengan suara lantang, membawa satu pesan yang tak lagi bisa ditunda: janji harus ditepati.
Aksi damai itu digelar pada Senin, 4 Mei 2026,di depan Gedung DPRD Belu, tepat ketika kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati memasuki tahun kedua. Dua belas program yang pernah dideklarasikan, menurut para demonstran, belum menunjukkan gerak yang berarti.
Di bawah pengawalan aparat , aksi berlangsung tertib. Namun di balik ketertiban itu, tersimpan kegelisahan yang lama terpendam.
Massa akhirnya diterima oleh Bupati melalui fasilitasi Asisten I Sekda Belu, . Dalam forum tersebut, suara mahasiswa berbaur dengan denyut nadi masyarakat kecil yang selama ini merasa terpinggirkan.
╔════════════════════════════════════╗
“Kami tidak datang untuk gaduh. Kami datang membawa janji yang pernah diucapkan,
dan menagihnya atas nama rakyat yang mulai kehilangan percaya.”
╚════════════════════════════════════╝
GMNI menyoroti ketimpangan sosial yang kian terasa di tengah masyarakat. Hak-hak dasar, terutama bagi para guru, RT, RW, hingga kader posyandu, disebut belum terpenuhi secara layak dan tepat waktu.
Ironi pun mencuat. Di satu sisi, aparat di tingkat bawah terus dituntut bekerja maksimal oleh pemerintah di kecamatan, desa, dan kelurahan. Namun di sisi lain, hak mereka justru kerap tertunda, bahkan tak pasti.
Kondisi ini, menurut para demonstran, bukan sekadar persoalan administratif, melainkan cerminan dari ketidakhadiran negara dalam menjamin keadilan sosial di level paling dasar.
Aksi yang berlangsung damai itu menjadi penanda: bahwa kesabaran publik memiliki batas. Ketika janji tak kunjung menemukan wujud, maka jalanan menjadi ruang bicara.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan rinci dari pihak pemerintah daerah terkait progres konkret dari dua belas program yang dimaksud maupun kepastian pembayaran hak-hak masyarakat yang disorot.
Namun satu hal menjadi terang—di tahun kedua kepemimpinan, rakyat Belu mulai bertanya lebih keras: ke mana arah janji itu berjalan?















