Belu Bangun Kota Perbatasan yang Seimbang, Harmonis, dan Berkelanjutan
ATAMBUA | BELUPOS.Com – Deretan tanaman hias mulai menghiasi jalur dua Hutan Jati Nenuk. Warna-warna bunga menyatu dengan hijau pepohonan, menghadirkan wajah baru bagi Kota Atambua yang dikenal sebagai beranda terdepan Indonesia di wilayah perbatasan.
Di balik penataan itu, ada gagasan besar yang sedang dibangun.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Belu, Robert Mali, menegaskan bahwa kegiatan penataan lingkungan bukan sekadar memperindah kota, tetapi merupakan upaya strategis mengelola lingkungan hidup secara seimbang, harmonis, dan berkelanjutan.
“Penataan lingkungan adalah langkah untuk mengatur dan mengelola lingkungan hidup agar lebih seimbang dan berkelanjutan. Ini bukan hanya soal menanam bunga, tetapi membangun kesadaran bersama,” ujar Robert Mali kepada Belu Pos.
Menanam Bunga, Menanam Kesadaran
Penanaman tanaman hias dan bunga di jalur dua Nenuk menjadi simbol komitmen pemerintah daerah dalam mempercantik sekaligus menjaga ekosistem kota. Namun, Robert menegaskan bahwa ruang lingkup penataan lingkungan jauh lebih luas.
Ia memaparkan, kegiatan tersebut meliputi berbagai aspek penting, antara lain:
- Pengelolaan sampah, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, pengolahan hingga pembuangan yang efektif dan efisien.
- Pengelolaan air, termasuk pengelolaan sumber daya air dan distribusi air bersih.
- Pengelolaan udara, melalui pengendalian polusi dan emisi gas buang.
- Pengelolaan tanah, seperti pengendalian erosi, pengelolaan limbah, dan rehabilitasi lahan.
- Pengelolaan keanekaragaman hayati, melalui perlindungan spesies dan pengelolaan habitat.
- Pendidikan lingkungan, guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keberlanjutan.
Menurutnya, semua aspek tersebut saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan jika ingin menjadikan Belu sebagai kabupaten yang sehat dan berdaya saing.
Lingkungan Berkualitas, Ekonomi Menguat
Penataan lingkungan, lanjut Robert, memiliki tujuan yang lebih besar dari sekadar estetika kota. Ia menyebut ada empat sasaran utama yang ingin dicapai.
Pertama, meningkatkan kualitas lingkungan hidup, termasuk udara, air, dan tanah.
Kedua, mengurangi dampak negatif aktivitas manusia seperti polusi dan kerusakan lahan.
Ketiga, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Keempat, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui lingkungan yang tertata dan menarik.
“Kalau lingkungan kita bersih dan tertata, kesehatan masyarakat meningkat. Kota menjadi nyaman. Wisata tumbuh. Ekonomi pun ikut bergerak,” tegasnya.
Tanggung Jawab Bersama
Robert Mali juga menekankan bahwa pengelolaan lingkungan bukan hanya tugas pemerintah. Ia menyebutnya sebagai tanggung jawab kolektif.
Pemerintah berperan dalam penyusunan kebijakan dan program.
Masyarakat berperan melalui partisipasi aktif dan pengawasan.
Swasta dapat berkontribusi lewat investasi dan inovasi teknologi ramah lingkungan.
Sementara organisasi non-profit berperan dalam advokasi dan edukasi publik.
“Lingkungan yang baik lahir dari kerja sama semua pihak. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri,” katanya.
Di bawah rindangnya jati Nenuk, bunga-bunga yang mulai bermekaran bukan sekadar penghias jalan. Ia menjadi simbol harapan bahwa Belu tidak hanya ingin dikenal sebagai kota perbatasan, tetapi juga sebagai kabupaten yang berani menata diri—dari tanah, air, hingga kesadaran warganya.
Karena pada akhirnya, kota yang indah bukan hanya yang dipenuhi warna, tetapi yang dijaga dengan komitmen bersama.















