Ketika Batu, Sejarah, dan Harapan Bertemu di Tanah Sumba Timur
Ada ruang sunyi di Sumba Timur yang tidak berbicara dengan suara, melainkan dengan waktu. Di dinding batu Goa Mananga Marapu, telapak-telapak tangan purba masih melekat—seolah ingin berkata bahwa manusia pernah hadir di sini, hidup, berharap, dan mewariskan jejaknya kepada generasi yang belum lahir. Di hadapan sejarah yang membatu itulah, negara datang menyapa masa lalu.
WAINGAPU |BELUPOS.COM) — Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali, S.T., M.T., bersama Wakil Bupati Yonathan Hani, S.Kom., M.AP., mendampingi Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., dalam kunjungan ke Situs Goa Hunian Purba Mananga Marapu, Desa Hambapraing, Kecamatan Kanatang, Sabtu, 27 Desember 2025.
Kunjungan itu bukan sekadar agenda kenegaraan. Ia adalah ziarah budaya—langkah perlahan menyusuri lorong waktu, menyentuh dinding batu yang memikul ribuan tahun sejarah manusia Sumba.
Di dalam goa, Menteri Kebudayaan dan rombongan meninjau langsung jejak telapak tangan purba yang terpahat alami pada dinding batu. Jejak itu diyakini sebagai bukti autentik kehidupan manusia prasejarah—sebuah bahasa visual purba yang melampaui kata dan aksara.
Goa sebagai Kitab Sunyi
Goa Mananga Marapu bukan sekadar lubang batu. Ia adalah kitab sunyi peradaban, tempat manusia purba menandai keberadaannya bukan dengan tulisan, tetapi dengan sentuhan tubuh dan keyakinan.
Telapak tangan itu bukan tanda kepemilikan, melainkan pengakuan akan hidup—bahwa manusia pernah bernafas di sini, berbagi ruang dengan alam, dan menghormati kekuatan yang lebih besar dari dirinya.
Di Sumba, Marapu bukan hanya kepercayaan, melainkan cara memandang semesta: manusia adalah bagian dari kosmos, bukan penguasa tunggalnya.
Suara dari Pemerintah Daerah
Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, menegaskan bahwa situs Goa Hunian Purba Mananga Marapu merupakan aset budaya tak ternilai yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
“Goa Mananga Marapu adalah identitas sejarah Sumba Timur. Ia bukan hanya milik hari ini, tetapi milik masa depan. Pemerintah daerah berkomitmen menjaga dan melestarikannya agar tetap hidup sebagai sumber edukasi, pengetahuan, dan kebanggaan generasi mendatang,” ujar Umbu Lili Pekuwali dengan nada reflektif.
Komitmen itu, lanjutnya, juga diarahkan pada pengembangan pariwisata berbasis budaya dan sejarah—pariwisata yang tidak merusak, tetapi merawat.
Budaya dan Negara
Kehadiran Menteri Kebudayaan RI di Goa Mananga Marapu menjadi simbol penting: negara hadir untuk mendengar suara masa lalu. Bahwa pelestarian cagar budaya bukan hanya tugas daerah, melainkan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat adat.
Kunjungan ini diharapkan menjadi pintu pembuka bagi dukungan kebijakan, riset arkeologis, serta pengelolaan situs budaya yang berkelanjutan, sehingga Goa Mananga Marapu tidak sekadar dikenal, tetapi dipahami dan dihormati.
Empati untuk Masa Lalu, Harapan untuk Masa Depan
Di Goa Mananga Marapu, waktu tidak berlalu—ia tinggal. Batu-batu tetap diam, tetapi maknanya terus bergerak, mengetuk kesadaran manusia modern yang kerap lupa dari mana ia berasal.
Ketika negara menunduk di hadapan sejarah, dan masyarakat menjaga warisan leluhur, maka peradaban tidak hanya dikenang—tetapi dihidupkan kembali dengan hormat.
Sumba Timur, melalui goa purbanya, sedang berbicara kepada dunia:
bahwa masa depan yang beradab selalu lahir dari penghormatan pada masa lalu.















