banner 728x250

Dari Teguran ke Tusukan: Malam Tahun Baru yang Melukai Seorang Perantau Belu di Denpasar

BALI |BELUPOS.Com —
Suara petasan biasanya menjadi penanda kegembiraan. Di Jalan Akasia XVI B, Denpasar Timur, Rabu malam, 31 Desember 2024, suara itu justru menjadi awal dari sebuah kekerasan yang tak seharusnya terjadi. Dalam hitungan menit, sebuah teguran sederhana berujung pada luka tusuk yang nyaris merenggut nyawa seorang perantau asal Nusa Tenggara Timur.

Korban bernama Kristianus Bayu AP Soares, akrab disapa Abay, warga Kabupaten Belu, NTT. Sekitar pukul 19.00 WITA, Abay mengalami penyerangan menggunakan tombak di depan rumah kos temannya. Ia menderita luka serius di telapak dan pergelangan tangan kanan, serta luka tusuk di bagian bawah perut. Dalam kondisi terluka, ia dilarikan ke RSAD Udayana, Denpasar Barat, untuk mendapat perawatan medis.

Malam itu, Abay datang ke kos di Jalan Akasia untuk menemui seorang temannya, Frelydino Nyongkianus Leki. Karena temannya sedang mandi, Abay duduk menunggu di teras kos. Di jalan depan kos, beberapa anak bermain petasan. Suaranya dianggap mengganggu. Abay menegur agar permainan itu dihentikan.

Teguran tersebut rupanya berbuntut panjang.

Tak lama setelah itu, seorang pria berinisial GK, yang diduga orang tua salah satu anak, datang bersama beberapa warga lain. Mereka membawa tombak. Tanpa dialog panjang, kelompok tersebut mendatangi Abay dan melakukan penyerangan. Warga sekitar yang mendengar keributan berhamburan keluar rumah, berusaha melerai dan menghentikan kekerasan.

“Saat saya masih di kamar mandi, Abay masih menjawab ketika saya panggil. Tapi kemudian dia diam. Ketika saya keluar, dia sudah tidak ada di teras. Warga sudah ramai di jalan. Tidak lama kemudian dia datang dengan tangan dan perut terluka. Dia bilang habis dikeroyok dan minta dibawa ke rumah sakit,”
ujar Frelydino, Kamis (1/1).

Abay berjalan tertatih menuju temannya, menahan darah yang terus mengalir. Malam tahun baru yang seharusnya menjadi waktu berkumpul dan berdoa berubah menjadi kepanikan. Petasan berhenti. Jalanan mendadak sunyi, menyisakan jejak ketegangan.

Beruntung, warga berhasil menghentikan aksi lanjutan sebelum situasi memburuk. Abay segera dievakuasi ke rumah sakit. Nyawanya tertolong.

Kapolsek Denpasar Timur Kompol I Ketut Tomiyasa membenarkan peristiwa tersebut. Kepolisian telah menangani kasus ini dan melakukan langkah-langkah sesuai prosedur hukum.

Kasus ini memperlihatkan betapa rapuhnya batas antara kehidupan sehari-hari dan kekerasan. Sebuah teguran yang dimaksudkan untuk menenangkan situasi justru disambut dengan kemarahan kolektif. Tidak ada ruang dialog. Tidak ada jeda untuk berpikir.

Abay adalah satu dari ribuan warga Belu yang merantau ke Bali untuk bekerja dan membangun hidup. Malam itu, ia tidak membawa apa pun selain niat bertemu kawan. Ia pulang dengan luka—dan pengalaman pahit tentang bagaimana amarah dapat berubah menjadi senjata.

Di tengah euforia pergantian tahun, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kekerasan sering lahir bukan dari konflik besar, melainkan dari ketidakmampuan menahan emosi dalam situasi kecil. Hukum akan berjalan, tetapi pekerjaan yang lebih panjang adalah merawat nalar publik: bahwa perbedaan, teguran, dan ketidaksenangan tidak pernah sah diselesaikan dengan senjata.

Malam tahun baru berlalu. Petasan habis terbakar. Namun luka—baik di tubuh Abay maupun dalam rasa aman warga—membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

 

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *