banner 728x250

Belu Siap Guncang Dunia dari Fulan Fehan, 444 Penari Likurai Akan Tampil dalam Festival Budaya Akbar

ATAMBUA | BELUPOS.COM – Hamparan savana Fulan Fehan yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon wisata paling memukau di Kabupaten Belu kembali akan menjadi pusat perhatian. Pada Sabtu, 27 Juni 2026 pukul 10.00 WITA, kawasan yang berada di jantung pegunungan Belu itu akan berubah menjadi panggung budaya raksasa, tempat ratusan penari Likurai menampilkan warisan leluhur yang telah hidup lintas generasi.

Pemerintah Kabupaten Belu mengundang seluruh masyarakat Indonesia dan Timor Leste untuk hadir dan menyaksikan secara langsung Festival Budaya Likurai Fulan Fehan, sebuah perhelatan budaya yang menjadi simbol pelestarian identitas masyarakat Belu sekaligus sarana promosi budaya ke tingkat nasional dan internasional.

Ajakan tersebut disampaikan Bupati Belu, , pada Rabu (17/6/2026). Menurutnya, Festival Likurai bukan hanya sebuah agenda hiburan, melainkan panggilan untuk menjaga dan merawat kekayaan budaya yang diwariskan para leluhur.

Kami mengundang seluruh masyarakat Indonesia dan Timor Leste untuk datang ke Fulan Fehan pada 27 Juni 2026. Tujuannya adalah melestarikan budaya Belu sekaligus mempromosikan budaya kita kepada dunia, ❞ ujar Bupati Wily Lay.

Di balik kemegahan panggung budaya yang sedang dipersiapkan, semangat para pelaku seni terus berkobar. Salah satu pelatih seni tarian budaya Fulan Fehan Zona 4, , mengatakan festival tahun ini akan menjadi salah satu pertunjukan budaya terbesar yang pernah digelar di kawasan tersebut.

Sebanyak 444 penari Likurai dipastikan akan ambil bagian dalam festival yang akan menyatukan harmoni gerak, tabuhan, dan semangat budaya masyarakat Belu di tengah bentangan alam Fulan Fehan yang eksotis.

Festival Budaya Fulan Fehan merupakan promosi budaya yang sangat luar biasa. Sebanyak 444 peserta penari Likurai akan ikut memeriahkan kegiatan ini pada 27 Juni 2026. Kami mengajak seluruh masyarakat Belu dan Timor Leste untuk datang dan meramaikan festival ini bersama-sama, ❞ kata Robi Alberto.

Festival ini memiliki arti strategis bagi Kabupaten Belu. Selain menjadi wadah pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga menjadi instrumen penting dalam memperkuat sektor pariwisata daerah. Fulan Fehan yang selama ini dikenal hingga mancanegara memiliki potensi besar untuk menjadi etalase budaya Pulau Timor, sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi masyarakat perbatasan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Festival Likurai adalah perayaan identitas. Ketika ratusan penari bergerak serempak di atas savana Fulan Fehan, yang dipertontonkan bukan hanya keindahan tarian, melainkan juga kisah panjang tentang sejarah, kebersamaan, dan kebanggaan sebuah masyarakat yang tetap menjaga akar budayanya di tengah perubahan zaman.

Pada akhirnya, Fulan Fehan bukan hanya akan menjadi tempat berlangsungnya sebuah festival. Ia akan menjadi ruang tempat budaya berbicara, sejarah kembali dihidupkan, dan Belu memperkenalkan dirinya kepada dunia melalui bahasa paling universal: warisan leluhur yang terus dijaga dengan cinta dan kebanggaan.

banner 325x300
Penulis: Redaksi Belupos.comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *