ATAMBUA | BELUPOS.COM — Di tengah riuh suara tawar-menawar dan langkah kaki yang berdesakan, ketertiban kerap menjadi hal yang nyaris terlupakan. Namun di Pasar Tradisional Wemori, Desa Tohe, Rabu (22/4/2026), satu upaya sederhana menghadirkan perubahan: jalan yang kembali bernapas, ruang yang kembali tertata.
Adalah Babinsa Desa Tohe Koramil 1605-08/Haekesak, Sertu Dominggus Pereira, yang turun langsung memantau aktivitas pasar. Ia tidak hanya berdiri sebagai pengawas, tetapi hadir menyapa, berdialog, dan perlahan menata ulang kebiasaan yang sempat abai—terutama soal parkir kendaraan yang kerap memadati badan jalan.
Di sela aktivitas itu, pendekatan yang dilakukan terasa hangat. Komunikasi sosial dibangun, bukan dengan perintah keras, tetapi dengan sentuhan persuasif kepada warga dan pengunjung pasar. Kendaraan roda dua dan roda empat diarahkan ke tempat yang semestinya, agar arus lalu lintas tak lagi tersendat.
╔══❀🌷💖❀══╗
“Kegiatan ini kami lakukan untuk menjaga dan menciptakan situasi pasar agar selalu aman dan nyaman, sehingga pedagang dan pengunjung merasa lebih tenang saat beraktivitas.”
╚══❀🌷💖❀══╝
Penertiban itu bukan sekadar soal parkir. Ia adalah upaya merawat ruang bersama—agar jalan tetap menjadi milik semua, bukan hanya milik mereka yang datang lebih dulu. Perlahan, kesadaran itu mulai tumbuh. Warga diarahkan untuk memarkir kendaraan di tempat yang telah disediakan, demi menjaga kelancaran aktivitas di sekitar pasar.
Analisis Kontekstual
Fenomena semrawutnya parkir di pasar tradisional bukanlah hal baru, terutama di wilayah dengan mobilitas tinggi seperti perbatasan. Minimnya kesadaran kolektif sering kali mempersempit ruang publik dan mengganggu sirkulasi ekonomi. Kehadiran aparat teritorial seperti Babinsa dalam pendekatan persuasif menjadi penting—bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai penggerak perubahan perilaku masyarakat dari bawah.
Pada akhirnya, ketertiban tidak lahir dari larangan semata, melainkan dari kesadaran yang dipupuk bersama. Dan di Pasar Wemori hari itu, di antara riuh dan debu yang beterbangan, ada satu hal yang perlahan kembali tertata: harmoni antara manusia, ruang, dan aturan.















