ATAMBUA |BELUPOS.Com — Di tengah alunan paduan suara yang mengisi Gedung Wanita Betelalenok, Kamis (30/4/2026), terselip sebuah kegelisahan yang tak bisa ditutupi harmoni nada. Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, berdiri di hadapan para guru—membuka lomba, sekaligus membuka realitas yang mengusik nurani pendidikan di tanah perbatasan.
Tema “Melodi Pendidikan Guru Bergerak, Indonesia Pintar” seolah menemukan maknanya yang paling jujur saat dihadapkan pada fakta: masih ada siswa kelas 4 dan 5 sekolah dasar yang belum mampu membaca dan menulis dengan baik.
Dengan nada tegas namun penuh keprihatinan, Bupati menyampaikan pesan yang menjadi peringatan bagi seluruh insan pendidikan.
╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Saya minta seluruh Kepala Sekolah dan Guru SD memperhatikan masalah literasi dan numerasi. Sangat memprihatinkan ketika anak mau naik kelas 5 tapi belum bisa menulis nama sendiri.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝
Pernyataan itu bukan sekadar kritik, melainkan alarm sunyi yang selama ini mungkin terabaikan. Ia menegaskan, lulusan sekolah dasar harus memiliki kemampuan dasar membaca dan menulis dengan baik sebagai fondasi masa depan.
Namun di balik ketegasan itu, terselip harapan. Bupati Willy Lay mengapresiasi semangat para guru yang tetap berkarya dan berinovasi, termasuk melalui lomba paduan suara PGRI yang diikuti 11 tim vokal group dari berbagai wilayah di Kabupaten Belu.
Ia pun mendorong agar kegiatan tersebut tidak berhenti di tingkat kabupaten, melainkan menjangkau hingga kecamatan.
╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Ke depan, lomba ini jangan hanya di tingkat kabupaten, tapi harus berkeliling ke setiap kecamatan.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝
Lebih jauh, Bupati mengungkapkan kondisi pendidikan Kabupaten Belu yang saat ini masih berada di peringkat tiga dari bawah. Sebuah fakta yang menuntut perubahan nyata, bukan sekadar wacana.
Momentum Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei, dijadikannya sebagai titik balik untuk berbenah secara sistemik.
╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Setelah Hardiknas, kita harus berubah. Guru harus memantau siswa kelas 1 dan 2 yang belum bisa baca tulis, lalu panggil orang tuanya. Ajak orang tua terlibat memantau anak-anak di rumah.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝
Seruan itu mempertegas bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga. Kolaborasi menjadi kunci untuk memastikan setiap anak tidak tertinggal.
Di sisi lain, Bupati juga menekankan pentingnya menjaga identitas budaya melalui penguatan muatan lokal. Ia mengingatkan agar bahasa daerah tetap hidup dalam keseharian anak-anak.
╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Di hari-hari tertentu, biasakan anak-anak berkomunikasi menggunakan bahasa daerah. Jangan sampai kita kehilangan jati diri.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝
Ketua PGRI Kabupaten Belu, Yanurius Antonius Wadan Talok, S.Pd, dalam laporannya menyebut PGRI sebagai rumah besar perjuangan yang sempat mengalami stagnasi. Namun sejak menerima mandat pada 13 Desember 2025, organisasi tersebut berkomitmen untuk bangkit dan memperkuat integritas pengabdian para guru.
Kegiatan ini turut dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Belu, pimpinan OPD, dewan juri, kepala sekolah SD dan SMP, serta seluruh peserta lomba.
Analisis Kontekstual
Rendahnya literasi dan numerasi di tingkat dasar menjadi indikator penting bahwa sistem pembelajaran awal masih membutuhkan penguatan serius. Keterlibatan orang tua, kualitas pengajaran, serta pengawasan berkelanjutan menjadi faktor kunci yang tidak bisa dipisahkan. Apa yang disampaikan Bupati Belu menjadi penegasan bahwa pembenahan harus dimulai dari akar, agar tidak melahirkan generasi yang tertinggal sejak langkah pertama.
Di tengah merdunya paduan suara para guru, pesan itu menggema lebih lama dari sekadar lagu: bahwa pendidikan bukan hanya tentang mengajar, tetapi memastikan setiap anak benar-benar belajar—hingga mampu menulis namanya sendiri sebagai awal dari menulis masa depannya.















