banner 728x250

Wapres Gibran Dicegat Mahasiswa di Kupang, Aspirasi Amfoang Akhirnya Menembus Istana

KUPANG | BELUPOS.COM – Malam di Kota Kupang terasa berbeda ketika pesawat yang membawa Wakil Presiden RI, , mendarat di Bandara Internasional El Tari, Kamis (21/5/2026) sekitar pukul 19.50 Wita.

Di balik penyambutan resmi jajaran Forkopimda NTT, sekelompok mahasiswa telah berdiri menunggu. Bukan untuk membuat kericuhan, melainkan membawa keresahan panjang dari wilayah pedalaman Amfoang yang selama ini merasa belum sepenuhnya didengar negara.

Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Kemanusiaan itu mencegat rombongan Wakil Presiden untuk menyampaikan langsung berbagai persoalan mendasar di Kabupaten Kupang, mulai dari jalan dan jembatan rusak, rumah sakit pratama yang belum beroperasi, hingga kelangkaan BBM yang masih menghimpit masyarakat.

Ketua Perhimpunan Mahasiswa Kabupaten Kupang, Asten Bait, menegaskan bahwa aksi tersebut bukan bentuk demonstrasi anarkis, tetapi murni upaya agar pemerintah pusat mendengar langsung suara masyarakat pedalaman.

╔════════════════════════════════╗
“Hari ini kami tidak ada niat aksi, tapi ini karena Pak Wapres yang turun dan ketemu dengan kami, kami sampaikan persoalan yang terjadi di Amfoang.”
— Asten Bait
╚════════════════════════════════╝

Menurut Asten , seluruh tuntutan telah diterima langsung oleh dan mendapat komitmen untuk diberikan perhatian khusus.

“Semua poin tuntutan kami ini telah disampaikan ke Pak Wapres dan beliau berkomitmen untuk memberikan atensi khusus untuk Amfoang,” ujarnya.

Ia juga menilai selama ini kunjungan pejabat pusat ke daerah lebih banyak melihat sisi baik desa, sementara persoalan nyata di pedalaman sering luput dari perhatian.

╔════════════════════════════════╗
“Sejauh ini yang kita lihat, Pemerintah Pusat ketika turun ke desa-desa hanya melihat hal yang baik. Tetapi hal yang buruk di pedalaman itu justru tak terlihat.”
— Asten Bait
╚════════════════════════════════╝

Respons cepat pun diperlihatkan . Keesokan harinya, di tengah guyuran hujan, ia langsung meninjau kondisi jalan rusak hingga Jembatan Termanu dan Kapsali di Desa Manubelon yang putus total.

Rombongan Wakil Presiden mendarat di lapangan SD Inpres Oelamopu sebelum bergerak menuju sejumlah titik kerusakan infrastruktur. Pengawalan ketat aparat tidak mengurangi antusiasme masyarakat yang berdiri di sepanjang jalur kunjungan sambil memanggil nama Gibran.

Secara kontekstual, momentum ini menunjukkan bahwa persoalan pembangunan di wilayah perbatasan dan pedalaman NTT masih menjadi pekerjaan besar negara. Infrastruktur yang rusak bukan hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap pelayanan kesehatan, distribusi kebutuhan pokok, hingga pertumbuhan ekonomi warga di daerah terpencil seperti Amfoang.

Kunjungan itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda kenegaraan. Di tengah hujan dan jalan berlumpur, masyarakat Amfoang sedang menitipkan harapan agar suara mereka tidak berhenti sebagai laporan kunjungan, melainkan berubah menjadi kerja nyata yang benar-benar menyentuh pedalaman.

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *