ATAMBUA |BELUPOS.Com — Langit pagi di Rumah Duka terasa lebih muram dari biasanya, Senin (18/5/2026). Di halaman , isak tangis pecah di antara barisan pegawai yang berdiri dengan wajah tertunduk. Sebuah peti jenazah berselimut Merah Putih perlahan dibawa keluar, mengiringi kepergian seorang tenaga kesehatan yang selama hidupnya dikenal ramah, penuh pengabdian, dan murah senyum.
Almarhumah dilepas secara kedinasan oleh Pemerintah Kabupaten Malaka dan keluarga besar RSUPP Betun setelah berpulang pada Jumat, 15 Mei 2026 pukul 18.01 WITA di RSU Prof. Dr. W.Z Yohanes Kupang akibat sakit yang dideritanya.
Suasana upacara pelepasan berlangsung penuh haru. Komandan Upacara,jalannya penghormatan terakhir dengan langkah tegap namun mata yang tak mampu menyembunyikan duka mendalam.
Sementara Inspektur Upacara, Agustinus Nahak,S.IP berdiri di depan peti jenazah saat prosesi penyerahan jenazah secara simbolis dari pihak keluarga kepada Pemerintah Kabupaten Malaka untuk dimakamkan secara kedinasan.
Di tengah keheningan upacara, riwayat hidup Almarhumah Fransisca Moni Sillan dibacakan satu per satu. Tentang perempuan kelahiran Atambua, 27 Agustus 1991 itu, yang mengabdikan dirinya sebagai Aparatur Sipil Negara selama 5 tahun 5 bulan 15 hari di Instalasi Farmasi RSUPP Betun.
Tentang seorang anak kedua dari lima bersaudara pasangan Drs. Edmundus Sillan dan Bernolda Lina Halek. Tentang seorang istri bagi dan ibu bagi putri kecil mereka, Galadriel Eleanor Anne Marie Bara Lay.
Namun takdir berkata lain.
Di balik senyumnya yang dikenal hangat oleh rekan-rekan kerja, Fransisca ternyata tengah berjuang melawan penyakit CA MAMAE yang perlahan menggerogoti tubuhnya. Ia sempat menjalani operasi hingga kemoterapi di RSU Prof. Dr. W.Z Yohanes Kupang dengan harapan dapat kembali sembuh dan pulang bekerja bersama rekan-rekannya di RSUPP Betun.
Pada 6 Mei 2026, kemoterapi keempat yang dijalaninya bahkan menunjukkan perkembangan membaik. Tetapi rasa sakit hebat kembali datang pada 14 Mei 2026. Sehari kemudian, Tuhan memanggilnya pulang untuk selama-lamanya.
❀༉┈┈⍣ “Atas nama Pemerintah Kabupaten Malaka dan keluarga besar RSUPP Betun, kami menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya serta terima kasih atas pengabdian Almarhumah selama menjalankan tugas sebagai ASN dan tenaga kesehatan,” ⍣┈┈༉❀
Ketika bendera Merah Putih dilipat perlahan untuk diserahkan kepada keluarga sebagai pusaka penghormatan negara, tangis keluarga dan rekan kerja pecah tak tertahan. Banyak yang masih sulit percaya bahwa sosok yang selama ini menyapa dengan senyum lembut itu kini telah pergi meninggalkan ruang-ruang pengabdian yang pernah dihidupinya.
Di tempat pemakaman, doa-doa lirih mengiringi penurunan peti ke liang lahat. Langit Kota Atambua, Lidak, seakan ikut berkabung saat tanah perlahan menutup peristirahatan terakhir Fransisca Moni Sillan.
❀༉┈┈⍣ “Selamat jalan teman… senyum yang selalu hadir saat berjumpa akan tetap hidup dalam kenangan kami. Sampai jumpa di keabadian,” ⍣┈┈༉❀
Di balik upacara kedinasan itu, tersimpan kisah tentang seorang perempuan sederhana yang mengabdikan hidupnya untuk melayani sesama hingga akhir hayatnya.
Dan di RSUPP Betun, namanya mungkin tak lagi terdengar memanggil pasien atau menyapa rekan kerja di lorong rumah sakit.
Namun jejak pengabdiannya akan tetap tinggal — hidup dalam ingatan, dalam doa, dan dalam hati mereka yang pernah mengenalnya.
✢════❁🕊️❁════✢
Syair Duka untuk Fransisca Moni Sillan
Pergilah dengan tenang,
wahai hati yang telah lelah berjuang…
Tuhan memanggilmu pulang
saat senyummu masih tinggal di banyak kenangan.
Lorong rumah sakit kini sunyi,
tak lagi ada langkah kecilmu yang ramah menyapa pagi.
Namun cinta dan pengabdianmu
akan tetap hidup di setiap doa yang dipanjatkan diam-diam.
Untuk keluarga yang ditinggalkan,
semoga Tuhan memeluk hati yang sedang patah.
Karena sesungguhnya,
orang baik tidak pernah benar-benar pergi…
ia hanya pulang lebih dulu ke keabadian.
✢════❁🤍❁════✢















