banner 728x250

Air, Amanah, dan Tenggat Waktu

Satu Tahun untuk Mengembalikan Kepercayaan dari Keran-Keran yang Pernah Kering

ATAMBUA | BELUPOS.Com —
Pagi itu, udara di Atambua terasa lebih hening dari biasanya. Di sebuah ruang kerja yang tak terlalu luas, sumpah jabatan diucapkan dengan suara tegas—namun di baliknya, tersimpan beban yang jauh lebih besar dari sekadar kata-kata. Air, kebutuhan paling dasar manusia, kini kembali dipertaruhkan.

Antonius K. K. Jumadi Manek, S.E, M.M, resmi dilantik sebagai Direktur Perusahaan Umum Daerah Air Minum Kabupaten Belu untuk masa jabatan 2026–2031. Pelantikan yang dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, S T, Selasa (27/1/2026), bukan sekadar seremoni administratif. Ia adalah titik mula dari sebuah ujian kepemimpinan—dan juga harapan.

Di hadapan pejabat dan dokumen negara, Wabup Vicente tak berbicara dengan bahasa basa-basi. Kalimatnya singkat, namun tajam, seolah ingin memastikan pesan itu menempel lama di benak direktur yang baru dilantik.

“Perumda Air Minum bukan hanya soal bisnis. Ia adalah urat nadi pelayanan publik. Di situlah negara hadir paling nyata—di keran-keran rumah warga,” ujarnya.

Air, bagi masyarakat Belu, bukan sekadar komoditas. Ia adalah cerita panjang tentang antrean, tentang pipa bocor, tentang aliran yang kadang datang—kadang hilang tanpa pamit. Maka jabatan Direktur Perumda Air Minum, kata Wabup Vicente, adalah amanah besar yang menuntut komitmen, dedikasi, dan keberanian mengambil keputusan.

Merapikan dari Dalam, Menjangkau ke Luar

Di balik meja kerja Bupati Belu, pesan itu disampaikan berlapis-lapis. Dari dalam organisasi hingga ke ujung jaringan distribusi.

Secara internal, Wabup Vicente meminta Jumadi Manek untuk segera mengakhiri sekat-sekat lama yang menghambat kinerja. Konflik kecil, perbedaan sikap, atau ego sektoral—menurutnya—adalah racun yang perlahan mematikan pelayanan publik.

“Buang semua perbedaan. Sekecil apa pun konflik dalam organisasi akan berdampak buruk. Mulai hari ini, semua harus bersatu,” tegasnya, tanpa nada kompromi.

Namun tantangan sesungguhnya justru menunggu di luar pagar kantor. Jaringan yang belum merata. Distribusi yang belum stabil. Keluhan pelanggan yang menumpuk seperti catatan lama yang tak pernah benar-benar dituntaskan.

Wabup Vicente mendorong percepatan pengembangan jaringan, peningkatan kualitas distribusi air bersih, serta penguatan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Targetnya satu: masyarakat benar-benar merasakan perubahan, bukan hanya mendengarnya dalam laporan tahunan.

Empat Pesan, Satu Tenggat

Dalam suasana yang sarat harapan itu, Wabup Vicente menitipkan empat pesan kunci—bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai peta jalan kepemimpinan:

  1. Peningkatan cakupan layanan, dengan memetakan wilayah yang belum teraliri air bersih dan mempercepat sambungan baru.
  2. Efisiensi dan inovasi, terutama menekan angka kehilangan air (non-revenue water) melalui modernisasi infrastruktur dan pemanfaatan teknologi.
  3. Integritas dan profesionalisme, dengan tata kelola perusahaan yang transparan, akuntabel, dan bebas dari praktik KKN.
  4. Penguatan komunikasi publik, agar setiap keluhan pelanggan dijawab cepat, tepat, dan bertanggung jawab.

Namun pesan paling tegas datang di akhir: tenggat waktu satu tahun.

“Kami akan memantau dan mengevaluasi. Jika tidak ada perubahan signifikan, evaluasi dan perbaikan akan segera dilakukan,” ujar Wabup Vicente, nadanya dingin namun pasti.

Menunggu Air Mengalir Lebih Jujur

Pelantikan itu akhirnya usai. Dokumen ditandatangani. Jabatan resmi disematkan. Tetapi bagi masyarakat Belu, cerita baru saja dimulai.

Satu tahun ke depan, publik akan menilai bukan dari pidato, melainkan dari air yang benar-benar mengalir—lebih jernih, lebih merata, dan lebih dapat diandalkan. Dari keran-keran rumah yang selama ini menjadi saksi sunyi dari janji-janji pelayanan.

Dan di sanalah, kepemimpinan diuji: bukan di ruang kerja, melainkan di dapur-dapur warga.
Di mana air bukan sekadar cairan, melainkan hak, harapan, dan kepercayaan.

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *