KUPANG | BELUPOS.Com —
Lampu-lampu Hotel Harper Kupang menyala hangat, memantul di wajah-wajah yang menyimpan perjalanan panjang sejarah. Kamis siang itu, 22 Januari, ruangan tak hanya dipenuhi kursi dan bendera, tetapi juga ingatan—tentang pilihan, tentang kesetiaan, tentang luka yang disembuhkan oleh waktu dan keyakinan.
Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Dr. Sjafrie Sjamsoeddin, M.B.A., hadir menyaksikan pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat Uni Timor Aswa’in (UNTAS) masa bakti 2025–2030. Sebuah seremoni yang berlangsung khidmat, namun denyutnya jauh melampaui formalitas. Di sinilah negara memberi hormat—bukan sekadar kepada organisasi, melainkan kepada sejarah hidup Warga Negara Indonesia asal Timor Timur yang memilih tetap setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di barisan kursi undangan, rasa kebangsaan terasa padat. Tak ada euforia berlebihan. Yang ada adalah keteguhan—keteguhan orang-orang yang telah melewati masa sulit, lalu memilih berdiri di sisi republik, bukan karena paksaan, melainkan karena keyakinan.
Kehadiran Menhan menjadi penanda sikap negara: bahwa UNTAS bukan sekadar entitas sosial, melainkan penjaga ingatan kolektif dan simpul strategis persatuan di Nusa Tenggara Timur. Organisasi ini dinilai memiliki nilai historis yang tak tergantikan, sekaligus peran penting dalam merawat stabilitas sosial dan kebangsaan di wilayah timur Indonesia.
Dalam arahannya, Menhan berbicara dengan nada reflektif—seolah mengajak seluruh hadirin menoleh sejenak ke belakang, bukan untuk meratapi, melainkan untuk memahami.
“Sejarah Timor Timur adalah urusan kebangsaan.
Ia harus dipahami dengan ketulusan, empati, dan persaudaraan,
agar dapat menjadi fondasi membangun masa depan bangsa.”
Kata-kata itu jatuh perlahan, namun menghunjam. Sejarah, menurut Menhan, bukan beban yang harus dipikul sendirian, melainkan pelajaran kolektif yang mesti dikelola dengan hati dan kebijaksanaan.
Menhan menaruh harapan besar pada UNTAS agar terus berkarya nyata—bukan hanya sebagai penjaga memori, tetapi sebagai mitra strategis negara. Konsolidasi internal, penguatan peran sosial, dan kontribusi terhadap pembangunan nasional menjadi agenda penting yang disorot, terutama dalam konteks ketahanan negara di kawasan timur.
“UNTAS diharapkan terus menguatkan konsolidasi,
berkarya nyata bagi masyarakat,
dan menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan negara.”
Di titik ini, UNTAS ditempatkan bukan di pinggiran sejarah, melainkan di pusat tanggung jawab kebangsaan. Dari Kupang, pesan itu mengalir ke seluruh NTT—bahwa persatuan bukan slogan, melainkan kerja sunyi yang dijalani hari demi hari.
Pengukuhan pun usai. Tepuk tangan menggema singkat, lalu reda. Namun gema sesungguhnya justru tertinggal di benak para hadirin: apa yang akan dilakukan setelah sejarah diakui dan kepercayaan diberikan?
Cliffhanger itu belum terjawab hari ini.
Ia menunggu langkah-langkah konkret pengurus baru UNTAS—menunggu apakah semangat kebangsaan yang menghangatkan ruangan Hotel Harper siang itu benar-benar menjelma menjadi karya, pengabdian, dan keteguhan menjaga Indonesia dari timur.
Sejarah telah memberi panggung.
Kini, masa depan menunggu untuk dimainkan.















