banner 728x250

Ketika GPS Mengukur Dedikasi

Dari Aula Pertanian, Absensi Digital Memulai Bab Baru Disiplin PPL Belu

ATAMBUA |BELUPOS.Com —Di sebuah aula sederhana milik Dinas Pertanian Kabupaten Belu, Rabu siang itu (14/01/2026), teknologi tidak hadir sebagai alat dingin yang memerintah, melainkan sebagai janji: janji tentang keteraturan, keadilan, dan tanggung jawab. Sebanyak 75 Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) duduk berderet, menyimak layar dan penjelasan—menandai dimulainya sebuah perubahan kecil yang berdampak besar: absensi digital berbasis GPS.

Sosialisasi aplikasi Absensi Mobile Pemda Belu yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Belu ini merupakan tindak lanjut dari arahan Wakil Bupati Belu pada 4 November 2025, tentang penataan sistem kehadiran digital bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN). Bagi para PPL—yang bekerja jauh dari meja kantor, menyusuri ladang dan desa—kebijakan ini bukan sekadar soal “hadir” atau “tidak hadir”, melainkan tentang pengakuan atas kerja lapangan yang sering luput dari perhatian.

Teknologi yang Menyapa Lapangan

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Belu Simplisius V Dalung. ST melalui Kepala bidang Infrastuktur dan Teknologi (IT) Firdaus, S.E menjelaskan teknis penggunaan aplikasi yang dirancang berbasis Android dan GPS, guna memastikan kehadiran tercatat sesuai titik lokasi kerja masing-masing PPL.

“Kami mendapat tugas untuk membangun absensi mobile berbasis Android menggunakan GPS, agar titik lokasi kehadiran benar-benar mencerminkan tempat kerja PPL,”
— Firdaus, S.E., Kepala Bidang Infrastruktur dan Teknologi Dinas Kominfo Belu

Firdaus menegaskan, titik lokasi yang digunakan dalam aplikasi bersandar pada Surat Keputusan (SK) Pokja, lalu dimasukkan ke dalam sistem berdasarkan koordinat geografis tempat PPL bertugas.

“Lokasi absensi ditentukan sesuai SK Pokja dan dimasukkan ke aplikasi berdasarkan titik koordinat di mana yang bersangkutan berada saat bertugas,” ujarnya.

Menyadari tantangan sinyal di wilayah tertentu, Kominfo juga menyiapkan mekanisme koordinasi lokal.

“Jika di lapangan diperlukan penyesuaian, kami akan menempatkan koordinator di tingkat kecamatan, kelurahan, atau desa—pada titik dengan jaringan internet yang memadai—sesuai kesepakatan dan arahan Wakil Bupati,” pungkas Firdaus.

Antara Disiplin dan Penghargaan

Dari pihak Dinas Pertanian, apresiasi disampaikan sebagai bentuk pengakuan bahwa kerja lapangan membutuhkan sistem yang memahami realitas.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Dinas Kominfo Kabupaten Belu yang telah memberikan sosialisasi teknis pengisian absensi digital kepada para PPL yang selama ini bekerja di lapangan,”
— Frida Adriani Bria, S.TP., Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan

Menurut Frida, kehadiran aplikasi ini diharapkan mengakhiri kebingungan teknis dan meminimalkan kendala administratif bagi PPL yang bertugas di kecamatan, kelurahan, hingga desa.

“Harapannya, setelah sosialisasi ini, tidak ada lagi kendala dalam pengisian absensi bagi teman-teman PPL,” tandasnya.

Kegiatan ini turut dihadiri Sekretaris Dinas Pertanian Wendelinus Meak, S.E., serta tim teknis dari Bidang Infrastruktur dan Teknologi Kominfo Belu.

Ketika Teknologi Meminta Etika

Di balik layar aplikasi dan koordinat GPS, terselip sebuah pertanyaan penting: apakah teknologi sekadar alat kontrol, atau justru sarana keadilan? Absensi digital, jika dipahami secara dangkal, bisa menjadi mekanisme pengawasan. Namun jika dikelola dengan etika atensi, ia berubah menjadi alat penghargaan—mengakui kehadiran nyata di ladang, di kebun, di desa-desa yang jauh dari pusat kekuasaan.

Teknologi menuntut tanggung jawab dua arah. Aparatur dituntut disiplin dan jujur, sementara pemerintah berkewajiban memastikan sistem bekerja adil, manusiawi, dan peka terhadap keterbatasan infrastruktur. Koordinator wilayah, penyesuaian titik sinyal, dan dialog lapangan adalah bukti bahwa kebijakan yang baik tidak memaksa realitas tunduk pada sistem, melainkan menyesuaikan sistem dengan realitas.

Dari aula Dinas Pertanian hari itu, Belu belajar satu hal penting: reformasi birokrasi tidak selalu dimulai dari gedung tinggi atau jargon besar, tetapi dari aplikasi sederhana yang dirancang dengan nurani. Ketika teknologi memuliakan kerja manusia, di situlah disiplin berubah menjadi martabat.

Belu Pos
Suara dari Perbatasan untuk Keadilan Dunia.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *