Oleh: Andreas Nahak, S.H.
Pemerhati Buku Pendidikan
Pagi hari di ruang kelas, seorang guru IPA menuliskan tiga kata di papan tulis: padat, cair, gas. Murid-murid menyalin, menghafal, lalu diuji. Tak ada yang salah—setidaknya menurut buku paket resmi yang selama puluhan tahun dijadikan kitab suci pembelajaran sains di Indonesia. Namun, di situlah persoalan bermula: sains yang diajarkan berhenti di masa lalu, sementara dunia telah lama melangkah ke depan.
Dalam buku IPA tingkat SD, SMP, hingga SMA di seluruh Indonesia, wujud zat masih diajarkan sebatas tiga: padat (solid state), cair (liquid state), dan gas (gas state). Padahal, sejak 1947, dunia ilmu pengetahuan telah mengakui plasma sebagai wujud zat keempat. Artinya, selama lebih dari tujuh dekade, ada pengetahuan fundamental yang dihilangkan secara sistematis dari ruang kelas kita.
“Sains tidak pernah statis. Ketika buku pelajaran membeku, yang tertinggal bukan hanya materi, tetapi cara berpikir generasi.”
Sebelum plasma ditemukan dan dipahami secara ilmiah, memang benar manusia hanya mengenal tiga wujud zat. Namun pasca penemuan dan pengembangannya—yang kini menjadi dasar teknologi modern mulai dari lampu neon, layar plasma, reaktor fusi, hingga kajian astrofisika—pandangan sains berubah. Wujud zat kini dikenal sebagai:
- Solid state (padat)
- Liquid state (cair)
- Gas state (gas)
- Plasma state (plasma)
Plasma bahkan disebut sebagai wujud zat paling dominan di alam semesta, karena bintang-bintang, termasuk Matahari, tersusun atas plasma. Ironisnya, anak-anak Indonesia justru tumbuh tanpa pernah diperkenalkan pada fakta ini di bangku sekolah.
Pertanyaannya kemudian: mengapa buku IPA nasional masih bertahan pada pengetahuan pra-1947?
Salah satu jawabannya terletak pada manajemen kurikulum dan buku ajar yang stagnan. Setiap pergantian menteri, kurikulum boleh berganti nama—Kurikulum 2006, 2013, Merdeka—namun isi buku paket nyaris tak disentuh pembaruan substansial. Yang diubah sering kali format, istilah, atau pendekatan pedagogik, bukan kemutakhiran ilmunya.
Lebih memprihatinkan lagi, penyusunan buku paket IPA SD, SMP, dan SMA nyaris tidak melibatkan profesor atau ilmuwan aktif sebagai penulis maupun editor utama. Akibatnya, kesalahan konseptual yang seharusnya sudah ditinggalkan dunia sains global terus direproduksi dan dilegalkan secara nasional.
Saya pernah mendiskusikan hal ini dengan seorang Profesor Fisika dari ITS Surabaya. Jawabannya singkat, tegas, dan tanpa ragu:
wujud zat bukan tiga, melainkan empat—termasuk plasma.
Fakta ini tidak diperdebatkan dalam komunitas ilmiah internasional. Yang diperdebatkan justru, mengapa Indonesia memilih menutup mata.
“Jika sejak sekolah dasar kita diajarkan sains yang usang, jangan heran bila riset kita tertatih dan inovasi kita tertinggal.”
Negara-negara lain telah lama menyesuaikan buku pelajaran mereka dengan perkembangan sains mutakhir. Indonesia, sebaliknya, masih mempertahankan buku IPA yang sama, digunakan secara nasional oleh Kementerian Pendidikan RI, seolah waktu berhenti berputar di ruang kelas kita.
Ini bukan sekadar soal plasma. Ini soal cara negara memperlakukan ilmu pengetahuan. Ketika sains tidak diperbarui, maka yang rusak bukan hanya kurikulum, tetapi masa depan nalar kritis generasi muda.
Ilmu yang ketinggalan akan melahirkan riset yang tertinggal. Dan riset yang tertinggal akan menempatkan bangsa ini terus di barisan penonton.
Plasma telah lama diakui dunia. Yang belum berubah, tampaknya, hanyalah keberanian kita untuk mengoreksi buku pelajaran sendiri.















