banner 728x250

Di Antara Kandang dan Masa Depan

Tentang Ternak, Tanah Kosong, dan Pilihan Hidup Orang Belu

ATAMBUA |BELUPOS. Com) —
Pagi di Kelurahan Umanen,Kecamatan Atambua terasa berbeda. Di halaman kantor lurah, derap kaki petani dan peternak menyatu dengan harapan yang tak bersuara. Di sana, bukan sekadar ternak yang diserahkan, tetapi sebuah pertaruhan sunyi: apakah bantuan ini akan tumbuh menjadi masa depan, atau kembali lenyap seperti banyak kisah sebelumnya, Jumat, 19 Desember 2025, Staf Ahli Bupati Belu Bidang Pemerintahan, Politik dan Hukum, Aloysius Fahik, S.STP, berdiri sederhana.

Tangannya menyerahkan bantuan hibah ternak—sapi, babi, kambing, ayam KUB—lengkap dengan pakan dan obat-obatan. Namun yang ia titipkan bukan hanya hewan, melainkan cara berpikir baru.

“Bantuan ini bukan untuk dihabiskan, tetapi untuk dikembangkan,” katanya pelan, namun tegas.

Bupati Belu tak hadir secara fisik. Ia tengah mengikuti rapat daring bersama Menteri Dalam Negeri, membahas cuaca ekstrem dan Program Dapur Makan Bergizi (MBG)—program prioritas Presiden Republik Indonesia. Tetapi suaranya tetap hadir, disampaikan melalui wakilnya, menyusup ke antara bangku-bangku kayu dan wajah-wajah yang berharap.

Ternak Bukan Sekadar Hewan, Ia Adalah Disiplin

Aloysius tidak berbicara tentang angka terlebih dahulu. Ia berbicara tentang lahan kosong, tentang rumput yang harus ditanam, tentang pakan yang tak bisa ditunggu datang dari belas kasihan pasar.

“Sapi dan kambing tidak hidup dari janji. Pakannya harus ditanam. Jangan pelihara ternak kalau belum siap menyiapkan makanannya,” ujarnya.

Kalimat itu menggantung di udara—tajam, jujur, dan relevan. Sebab di banyak tempat, ternak mati bukan karena penyakit, tetapi karena kelalaian manusia yang berharap hasil tanpa kesabaran.

Pelajaran dari Masa Lalu yang Tak Boleh Terulang

Ia lalu mengingatkan sebuah ironi sejarah. Program Impres Desa Tertinggal (IDT) yang dulu datang dengan niat baik, namun hilang tanpa jejak.

“Waktu itu IDT diterjemahkan sebagai ‘Indonesia Diak Tebes’. Bantuan datang, lalu habis. Kalau dulu dikembangkan, anak cucu kita hari ini sudah menikmati hasilnya,” katanya lirih.

Di titik itu, suasana berubah. Bantuan tak lagi terasa gratis. Ia menjelma menjadi utang moral kepada masa depan.

Kelompok yang Hidup, Bukan Nama di Kertas

Sebanyak 77 kelompok di 11 kecamatan Kabupaten Belu menerima hibah ternak tahun ini: sapi, babi, kambing, dan 50 kelompok ayam KUB. Angkanya besar. Namun Aloysius mengingatkan, angka tak berarti tanpa kerja bersama.

“Satu kelompok berisi sepuluh orang. Semua harus bekerja. Kalau hanya dua atau tiga yang bergerak, kelompok itu akan mati perlahan,” katanya.

Ia mengajak penerima bantuan untuk tidak berjalan sendiri. Penyuluh Lapangan (PPL), Dinas Peternakan, camat, lurah—semua siap mendampingi. Tinggal satu hal yang dibutuhkan: kemauan untuk berubah.

Dari Kandang ke Martabat

Acara ditutup dengan penyerahan simbolis kepada lima kelompok perwakilan. Tepuk tangan terdengar, namun tak gegap gempita. Mungkin karena semua sadar, pekerjaan sesungguhnya baru dimulai setelah panggung dibongkar.

Di Belu, ternak bukan sekadar komoditas. Ia adalah cara bertahan, cara bermartabat, dan cara menanam harapan di tanah sendiri. Di antara kandang dan masa depan, pilihan kini ada di tangan para penerima.

Apakah bantuan ini akan tumbuh menjadi cerita keberhasilan—atau kembali menjadi catatan kaki dalam sejarah pembangunan?

Waktu, rumput yang ditanam hari ini, dan kesabaran manusialah yang akan menjawabnya.

 

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *