KUPANG |BELUPOS .Com)-Di ruang rapat yang sejuk,di antara peta-peta ambisi dan data-data statistik, duduklah sang gubernur. Tamu dari Jakarta datang, membawa tiga kata ajaib: industri, UMKM, pariwisata. Kata-kata yang sama yang selalu menggantung seperti hujan yang tak kunjung membasahi tanah kering Nusa Tenggara Timur.
Hari itu di Kupang, kamar-kamar pemerintahan kembali menjadi panggung untuk sebuah ritual yang akrab: kunjungan kerja dan pidato sambutan.
Gubernur Melki Laka Lena menyambut dengan hangat, menyebut potensi yang “sangat besar”. Laut, gunung, tenun, dan senyum.
Semua telah menjadi mantra yang diulang-ulang dalam setiap sambutan resmi, seolah dengan menyebutnya, semua kekayaan itu akan serta-merta menjelma menjadi kemakmuran.
“NTT memiliki potensi yang sangat besar di berbagai sektor… Pemerintah provinsi terus berupaya memperkuat ekosistem ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”
Kalimat itu menggema, elegan dalam struktur retorisnya, namun terasa seperti deklarasi yang tertambat pada masa lalu. Ia adalah janji yang belum terpenuhi, sebuah pengakuan akan sebuah “potensi” yang tak kunjung matang menjadi realitas yang adil bagi anak-anak di pelosok.
Lalu, datanglah suara dari pusat. Dr. Saleh Partaonan Daulay dan rombongan Komisi VII DPR RI membawa kabar tentang UU yang disesuaikan, tentang kontrak siaran Piala Dunia. Dunia yang besar dan gemerlap itu dijanjikan akan menyiram berkahnya hingga ke ujung timur Indonesia. Namun, di telinga yang reflektif, seringkali janji dari pusat terdengar seperti gema di ngarai—nyaring saat diucapkan, lalu hilang diterpa angin, meninggalkan kesunyian yang sama.
Di antara narasi-narasi besar itu, sebuah usulan kecil namun berkilau muncul dari Restog Krisna Kusuma dari Kementerian Ekraf: event tenun internasional. Ini bukan sekadar program, tetapi sebuah kemungkinan metafora. Tenun ikat NTT bukan sekadar kain; ia adalah catatan perjalanan suku, peta filosofi hidup, dan kesabaran yang ditenun benang demi benang.
Mengusulkan event internasional untuk tenun adalah seperti mengajak dunia untuk membaca sebuah epik yang tertulis bukan dengan tinta, tetapi dengan ingatan dan tangan-tangan yang mulai renta.
Namun, bisakah tenun yang sakral ini hanya menjadi komoditas “ekonomi kreatif” tanpa kehilangan jiwanya?
Iman Brotoseno dari TVRI hadir dengan bahasa gambar.
Ia bicara tentang dokumentasi, tentang lensa kamera yang bisa merekam dan mempromosikan keindahan. Ia bahkan menyebut satu contoh konkret: dukungan Gubernur pada film dokumenter “Makan Bergizi Gratis”. Di sini, ada secercah harapan. Bahwa mungkin, di balik semua pertemuan formal, ada ruang untuk kisah nyata. Bahwa pembangunan bukan hanya tentang angka pertumbuhan, tetapi tentang cahaya di mata anak-anak SD Inpres Noelbaki yang mendapat makanan bergizi. Film itu bisa menjadi jembatan yang lebih kuat daripada seratus laporan keuangan.
Namun, Iman juga menyentuh sebuah luka lama: birokrasi perizinan. Ia berharap ada “lembaga satu pintu”. Sebuah frasa sederhana yang menyimpan kegelisahan seniman dan pekerja kreatif: bahwa keindahan NTT sering terkubur di bawah tumpukan administrasi, bahwa cerita-cerita hebat terhambat sebelum bisa lahir.
Pertemuan itu berakhir. Rapat usai. Para peserta beranjak. Lalu, apa yang tersisa? Apakah hanya notulen dan foto-foto untuk arsip? Atau benih-benih kolaborasi yang sungguh-sungguh akan disirami?
NTT, dengan luka-luka keringnya dan tenun-tenun yang berharga, tidak butuh lagi janji yang hanya elok di atas kertas. Ia menanti tangan yang bekerja, bukan hanya yang berjabat. Menanti film yang dibuat, bukan hanya dibicarakan. Menanti pintu yang benar-benar terbuka, bukan sekadar dijanjikan.
Kunjungan kerja itu mungkin hanya satu titik dalam kalender politik. Tetapi bagi tanah dan manusia NTT, waktu terus berjalan. Musim berganti. Dan mereka masih setia menenun harapan, sehelai demi sehelai, menanti apakah kata-kata yang dilontarkan di ruang rapat yang sejuk itu akan menjadi benang emas dalam tenunan masa depan mereka, ataukah hanya akan menjadi debu yang kembali menyelimuti bumi yang merindu hujan.















