ATAMBUA |BELUPOS.Com)-
Belu menyiapkan musim tanam baru. Pemerintah meminta kehadiran penuh para pendamping pertanian, dan masyarakat menuntut bukti yang tumbuh—bukan sekadar kalimat.
Di hadapan Koordinator dan PPL se-Kabupaten Belu, Kamis (4/12/2025), Wakil Bupati Vicente Hornai Gonsalves, ST., menegaskan bahwa pendampingan pertanian harus berakar pada praktik, bukan hanya laporan.
“Kalau laporan bagus tetapi hasil panen turun, berarti proses pendampingan tidak berjalan,” ujarnya.
Pendampingan tidak cukup hanya dikirim lewat format laporan atau grup WhatsApp. Ia harus menyentuh tanah, memegang cangkul, mencermati daun, memeriksa hama, hingga berdiri di ladang pada jam kerja.
Analitik Pertanian: Pendamping sebagai Model Budidaya
Dalam ilmu penyuluhan pertanian, PPL adalah demonstrator pertama. Artinya, sebelum menginstruksikan petani mengubah pola tanam, ia harus membuktikan pada lahan sendiri bahwa teori dapat tumbuh menjadi panen.
- Demonstration Plot (lahan contoh) tidak hanya berfungsi teknis, tetapi fungsi edukasi visual: petani belajar lebih cepat dengan melihat.
- Transfer Knowledge (alih pengetahuan) menjadi efektif jika penyuluh menunjukkan proses, bukan hanya menyampaikan konsep.
- Kepercayaan Sosial meningkat ketika penyuluh menanam apa yang ia ajarkan.
Itulah mengapa Wabup mewajibkan setiap PPL memiliki lahan percontohan minimal satu hektar.
Tuntutan Masyarakat: Bukti yang Menyemai Keyakinan
Kesan publik juga muncul. Seorang warga Belu, Paulus B, menyampaikan nada sederhana namun tajam:
“Setiap petugas PPL perlu memberikan contoh. Di rumahnya atau halaman rumah harus ada tanaman, supaya masyarakat tahu PPL turun lapangan bukan hanya bicara teori tetapi hasil kerja nyata.”
Komentar itu membuka ruang refleksi:
PPL bukan hanya profesi birokratis, tetapi figur teladan agraris yang dilihat, dinilai, dan diikuti oleh petani.
Jika di halaman rumahnya tumbuh jagung, tomat, cabai, atau padi mini plot, petani melihat lebih dari sekadar teori—mereka melihat keberanian contoh.
Teknologi sebagai Pengawas Etos
Absensi daring berbasis GPS titik koordinat yang sedang disiapkan Pemkab Belu melalui Dinas Kominfo sejatinya bukan alat kontrol semata, melainkan disiplin visual bagi profesi:
- kehadiran harus berpijak pada tanah binaan
- koordinat menjadi bukti integritas
- pendampingan tidak dapat digantikan tanda tangan
Jika absensi tidak aktif di lokasi tugas, sistem menolak. Kesederhanaan teknis itu sejatinya melindungi martabat profesi PPL yang benar-benar bekerja.
Pengetahuan, Praktik, dan Moral Pangan
Belu membutuhkan peningkatan produksi jagung hingga 6–7 ton per hektar—angka yang tidak akan dicapai jika pendamping absen.
Pertanian tidak hanya urusan ilmu budidaya, tetapi ilmu hadir.
Musim tanam 2025 adalah momentum untuk menyatukan tiga hal yang dulu kerap berjalan terpisah:
- Teori agronomi
- Praktik budidaya langsung
- Keteladanan sosial penyuluh
Jika ketiganya menyatu, lahan tidak hanya menjawab kebutuhan pangan, tetapi juga membangun kembali kepercayaan antara PPL dan petani—kepercayaan yang selama ini tumbuh lambat seperti tanah kering menanti hujan.
Belu sedang menata kembali masa tanam, sekaligus martabat penyuluh.
Sebab pada akhirnya, panen bukan hanya datang dari benih, tetapi dari kesetiaan pendamping berada di titik koordinat tugas dan titik koordinat nurani.















