LARANTUKA |BELUPOS.Com,)-Ia lahir dari tanah yang sama tempat tradisi Semana Santa berdetak menjaga ingatan: Larantuka. Dan pada 22 November 2025, putra itu dipanggil pulang — bukan sebagai peziarah, tetapi sebagai gembala. Paus Fransiskus menunjuk Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Pr. sebagai Uskup Larantuka, sebuah lingkaran yang seolah menutup sekaligus membuka perjalanan panjang seorang imam yang ditempa jauh dari kampung halamannya.
Ia tumbuh di bawah bayang-bayang Ile Mandiri, lalu menempuh jalan panggilan di Seminari Santo Domingo Hokeng. Di sana, benih ketenangan dan ketekunan mulai ditanam. “Liturgi itu bukan sekadar tata urut, tetapi cara Gereja bernapas,” demikian ia pernah menulis dalam salah satu kuliahnya—sebuah kalimat yang menggambarkan arah hidupnya kelak: mengajar, membimbing, dan menghidupi ritme Gereja dengan penuh disiplin.
Perjalanannya kemudian mengalir ke Ledalero, tempat filsafat dan teologi ditempa dalam hening yang panjang, sebelum akhirnya ia dikirim jauh ke Wina, Austria. Di kota itu, ia bukan hanya menyelesaikan licentiate dan doktoralnya dalam bidang liturgi; ia juga belajar tentang manusia dan gereja yang bergerak di lanskap budaya berbeda. Di Wina pula ia menjadi vikaris paroki di gereja Franz-von-Assisi dan Maria Himmelfahrt—ruang di mana ia menyaksikan bagaimana iman menjadi jembatan lintas bahasa.
Tahbisan imamatnya sudah dua puluh enam tahun berlalu—14 Juli 1999—namun langkahnya tetap seperti seorang pelayan yang tidak pernah selesai belajar. Sepulangnya ke Indonesia pada 2018, Monteiro kembali ke Ledalero sebagai dosen liturgi dan menjadi formator di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret. Dua dunia itu—teori dan pembentukan calon imam—menjadikannya sosok yang jernih dalam berpikir dan lembut dalam membimbing.
Namanya sering muncul dalam kerja-kerja Komisi Liturgi KWI. Ia bukan tipe yang mencari panggung; karyanya berbicara melalui ketelitian dan kepekaan. Bukunya, “Semana Santa di Larantuka: Sejarah dan Liturgi,” bukan sekadar dokumentasi, tetapi semacam upaya memulangkan Gereja kepada akarnya—kepada lorong-lorong tua Larantuka yang penuh lilin dan doa.
“Kita kembali ke tradisi bukan untuk tinggal di masa lalu, tetapi untuk menemukan cahaya yang tak pernah padam,” tulisnya. Kalimat itu kini seperti nubuat kecil tentang tugas barunya.
Kini, ia pulang sebagai uskup. Di tanah yang membesarkannya, ia akan memikul beban sejarah, harapan umat, dan napas tradisi tua yang menunggu disentuh dengan kebijaksanaan. Tapi hidupnya sendiri adalah bukti bahwa pulang bukan sekadar kembali—melainkan menghadirkan terang yang dulu dicari di tempat jauh.
Larantuka mendapatkan seorang gembala yang memahami hening, sejarah, dan kedalaman liturgi. Dan Monteiro, anak kampung yang pernah menatap dunia dari jendela Wina, kini berdiri di hadapan umatnya sendiri.
Sederhana. Tenang. Tegas.
Siap menjadi servus bagi tanah yang memanggilnya pulang.















