banner 728x250

Jenazah Almarhum Kepala BPBD Belu Telah Diotopsi di RSUD Atambua

 

Laporan Khusus: Ketika Ilmu Forensik Menjadi Jalan Kebenaran

Ruang Putih, Doa, dan Bedah Kebenaran

Di ruang putih RSUD Mgr Gabriel Manek SVD Atambua, Selasa (11/11/2025), tubuh Fransiskus Asten—Kepala BPBD Kabupaten Belu—kembali “berbicara”.
Ia tak lagi bersuara, tapi tubuhnya menyimpan rahasia yang hanya bisa dibaca dengan ilmu dan doa.

Proses otopsi yang dipimpin dr. Edwin Tambunan, Sp.F, dokter forensik dari Polda NTT, menjadi harapan terakhir keluarga. Mereka ingin tahu: apakah kepergian Fransiskus memang alami, atau ada sesuatu yang disembunyikan oleh waktu?

Pemeriksaan berjalan lancar, berkat doa keluarga. Kami lakukan pemeriksaan luar dan dalam, serta mengambil beberapa komponen sebagai sampel,
dr. Edwin Tambunan, Sp.F, Dokter Forensik Polda NTT.

Langkah Ilmiah di Tengah Duka

Otopsi berlangsung sekitar satu setengah jam. Seluruh prosedur dilakukan sesuai standar kedokteran forensik—mulai dari observasi eksternal, pembedahan organ dalam, hingga pengambilan jaringan yang nantinya diperiksa di laboratorium patologi anatomi.

Di ruangan beraroma eter itu, sains dan nurani bersatu. Tidak ada teriakan, tidak ada sangka-sangka. Hanya kerja sunyi yang menjunjung kebenaran.

Prosesnya sangat transparan. Keluarga korban pun ikut menyaksikan langsung di dalam ruang otopsi,
dr. Edwin Tambunan, Sp.F.

Ketika Sains Menjadi Saksi

Dalam ilmu hukum pidana, otopsi adalah alat pembuktian ilmiah—scientific evidence—yang berdiri di antara rasa kehilangan dan pencarian keadilan.
Ia bukan sekadar tindakan medis, melainkan bagian dari rekonstruksi hukum yang menentukan arah penyelidikan.

Keluarga pun tidak sekadar ingin tahu hasilnya. Mereka ingin memastikan bahwa setiap jejak, setiap luka, dibaca dengan jujur oleh ilmu dan dicatat dengan hormat oleh hukum.

Kami hanya ingin tahu penyebab pastinya. Bukan mencari siapa yang salah, tapi mencari kebenaran,”istri almarhum
Perwakilan keluarga Fransiskus Asten.

Tubuh yang Menyimpan Pesan

Fransiskus Asten dikenal sebagai pejabat yang bersahaja, ramah, dan berdedikasi. Kabar kematiannya menggetarkan masyarakat Belu.
Namun di balik segala tanda tanya, proses otopsi itu menjadi cahaya kecil di tengah kabut.

Ia mengingatkan kita bahwa tubuh manusia tidak pernah benar-benar diam. Dalam keheningannya, ia masih bisa bersaksi.
Dan di ruang forensik itu—tempat paling sunyi di dunia—keadilan sering kali memulai langkah pertamanya.

Menutup dengan Hening

Hasil laboratorium patologi anatomi memang belum keluar. Tapi bagi keluarga, proses otopsi ini sudah cukup menenangkan hati.
Sains memberi jawaban yang tidak dimiliki oleh desas-desus.

Fransiskus Asten kini telah tenang di peristirahatan terakhirnya.
Namun bagi hukum dan nurani publik, perjalanan menuju kebenaran baru saja dimulai.

Tagline BELUPOS.Com:
Laporan Khusus — Menyelami Kematian, Menegakkan Kebenaran


 

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *