banner 728x250

Kirab Budaya Mongondow Raya, Nyala Baru dari Timur Nusantara

MANADO | BELUPPO.Com) – Semangat sejarah kembali berdenyut di tanah Bolaang Mongondow Raya. Di bawah langit biru Sulawesi Utara, Yayasan Cahaya Timur Nusantara Emas tengah bersiap menggelar Kirab Festival Seni Budaya Mongondow Raya—pergelaran perdana berskala nasional yang akan menyingkap kembali jejak agung kerajaan masa lampau, sekaligus menyalakan obor kebangkitan daerah di Tanah Utara.

Festival bertajuk “Motobatu Moropot Molintak Art and Culture Festival” ini bukan sekadar parade budaya, melainkan napas panjang dari perjalanan sejarah Raja Loloda Mokoagow, simbol kejayaan dan martabat leluhur Mongondow.

Ketua Umum Yayasan Cahaya Timur Nusantara Emas, Johanis Eddy Fentus Tuwul—akrab disapa Bung Jefri—menegaskan bahwa festival ini lahir dari kerinduan akan persaudaraan dan penghargaan terhadap akar kebudayaan bangsa.

“Kirab ini bukan hanya milik Mongondow, tapi milik kita semua yang percaya pada kekuatan budaya sebagai jembatan sejarah dan masa depan,” ujar Bung Jefri dengan penuh semangat di Manado.

Dalam persiapannya, Bung Jefri telah berdiskusi dengan pemerhati sejarah Kotamobagu, Aipda Sumitro Tegela, mengenai jejak panjang Kerajaan Bolaang Mongondow yang berdiri sejak abad ke-13. Dari Mokodoludut sebagai raja pertama hingga masa keemasan maritim yang dikenal para pelaut Eropa sebagai Rey de Boulan, sejarah Mongondow menjadi cermin kejayaan Nusantara di masa lalu.

Bolaang Mongondow Raya (BMR) sendiri mencakup empat kerajaan besar—Mongondow, Kaidipang Besar, Bintauna, dan Bolang Uki—yang pernah bersatu dalam Swapraja Federasi Serikat Bolaang Mongondow. Sejarah mencatat, pada 1 Juli 1950, para raja dan pemangku adat secara sukarela melepas sistem monarki dan bergabung dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kini, ketika semangat otonomi kembali bergelora, wilayah seluas 7.754 kilometer persegi dengan lebih dari 630 ribu jiwa penduduk ini tengah diperjuangkan menjadi Provinsi Bolaang Mongondow Raya. Wacana yang sempat tertunda akibat pandemi Covid-19 kini masuk dalam daftar 32 calon daerah otonomi baru (DOB) di Indonesia.

Menurut Bung Jefri, Kota Kotamobagu layak diusulkan sebagai ibu kota provinsi baru karena posisinya yang strategis dan perkembangan infrastrukturnya yang pesat.

“Kami ingin Bolmong Raya menjadi simbol kemajuan yang berakar pada budaya. Kirab ini menjadi awal dari perjalanan panjang menuju otonomi yang berdaulat dan bermartabat,” tegasnya.

Penasihat Yayasan Cahaya Timur Nusantara Emas, Dr. Wibisono, S.H., M.H., menambahkan bahwa wilayah ini menyimpan potensi luar biasa di sektor pertanian, pertambangan, perikanan, pariwisata, serta warisan budaya dan arkeologi.

“Dengan otonomi yang utuh, Bolmong Raya dapat menjadi lokomotif ekonomi baru di Sulawesi Utara,” ujarnya.

Rencananya, festival ini akan dihadiri tokoh nasional, pejabat pusat, dan perwakilan negara sahabat. Sebuah momentum di mana budaya dan sejarah berpadu dalam harmoni, mempertemukan masa lalu yang agung dengan cita-cita masa depan yang gemilang.

“Kami mohon dukungan semua pihak agar Kirab perdana ini berjalan lancar dan menjadi persembahan terbaik dari Timur untuk Indonesia,” tutup Bung Jefri Tuwul penuh harap.

 

banner 325x300
Penulis: MilaEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *