banner 728x250

Mencari Kebenaran di Balik Janji Beasiswa KIP

JAKARTA, [BELUPPO.Com] — Di tengah padatnya agenda kunjungan kerja ke sejumlah kementerian di Jakarta, dua legislator asal Timor Tengah Utara (TTU) menyelipkan satu misi penting: memperjuangkan masa depan anak-anak TTU yang menaruh harapan pada beasiswa KIP Kuliah.
Ketua Fraksi Golkar DPRD TTU, Wilem Oki, bersama Ketua Komisi I DPRD TTU, Hironimus Jhoni Tulasi, mendatangi langsung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi — langkah yang mereka sebut sebagai “perjalanan mencari kebenaran.”

“Kami datang bukan untuk menuding siapa pun,” ujar Wilem Oki dengan nada tenang namun tegas. “Kami datang karena ingin memastikan nasib dan masa depan ratusan anak TTU yang sejak awal diperjuangkan untuk mendapat layanan beasiswa KIP Kuliah di STIKES Nusantara Kupang.”

Dalam suasana audiensi yang berlangsung hangat, kedua legislator TTU diterima oleh Divisi Pelayanan KIP Wilayah Nusa Tenggara. Dari pertemuan itu, terkuak sejumlah fakta yang sebelumnya tak banyak diketahui publik.

Menurut penjelasan pihak kementerian, terdapat tiga kategori KIP Kuliah yang dikelola Kemendikti:

  1. KIP untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN),
  2. KIP untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS) melalui LLDIKTI, dan
  3. KIP Pemangku Kepentingan (Aspirasi) yang hanya dapat diajukan melalui anggota DPR RI.

Semua layanan KIP, ditegaskan, telah ditutup pada 7 Oktober 2025.

Yang paling mengejutkan, Kemendikti menyatakan tidak pernah menjalin kerja sama atau MoU dengan pemerintah daerah dalam penyaluran beasiswa ini. Kemitraan hanya dilakukan dengan perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, dan pendistribusian beasiswa bersifat merata — berdasarkan kapasitas daya tampung kampus, bukan berdasarkan wilayah asal mahasiswa.

Dari data resmi yang diperoleh, STIKES Nusantara Kupang hanya mendapat alokasi 15 penerima KIP Kuliah kategori PTS dan 1 mahasiswa dari jalur KIP Aspirasi, yang ternyata bukan berasal dari Kabupaten TTU.

“Jika benar anak-anak TTU dijanjikan KIP Kuliah dari jalur aspirasi, maka pertanyaannya sederhana,” tutur Hironimus Tulasi lirih namun menohok, “KIP Aspirasi dari anggota DPR RI siapa?

Pernyataan itu menggema sebagai refleksi dari keresahan panjang: janji yang tak berujung kepastian.

Kunjungan ke Kemendikti hari itu bukan sekadar langkah politik, tetapi bentuk tanggung jawab moral. Kedua legislator TTU ingin agar anak-anak muda di perbatasan tidak terus hidup dalam narasi dan asumsi, tetapi berdiri di atas fakta dan kejelasan.

“Kami harus jujur kepada masyarakat. Ini bukan soal mencari siapa yang salah, tetapi memastikan agar masa depan anak-anak kita tidak tergadai oleh janji yang belum tentu nyata,” tegas Wilem Oki sebelum meninggalkan gedung kementerian.

Di antara hiruk-pikuk ibu kota, langkah kecil dua wakil rakyat TTU itu menyiratkan pesan besar — bahwa perjuangan sejati bukan hanya tentang bicara di mimbar, tetapi turun langsung mencari kebenaran.

Tagline: BELU POS – Menyuarakan Kebenaran dari Perbatasan.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *