ATAMBUA |BELUPOS.Com – Di sebuah sudut Kota Atambua yang tenang di Manuaman Lidak, Kecamatan Tasifeto Barat, Sabtu (6/6/2026), waktu seakan berjalan lebih lambat dari biasanya. Di halaman sederhana SMPN Satap Tala, senja pengabdian seorang guru perlahan menutup lembar terakhir perjalanan panjang yang telah ditulis selama 31 tahun.
Hari itu bukan sekadar perayaan ulang tahun ke-60. Bukan pula sekadar seremoni purna tugas. Hari itu adalah perjumpaan antara kenangan, pengabdian, dan perpisahan yang menyisakan jejak mendalam bagi keluarga besar sekolah.
Kepala SMPN Satap Tala, Hendrikus Ben Bone, S.Pd, resmi mengakhiri tugasnya sebagai Aparatur Sipil Negara sekaligus menutup masa pengabdiannya sebagai kepala sekolah yang telah dijalani selama dua tahun terakhir. Acara yang berlangsung sederhana namun hangat itu dihadiri komite sekolah, para guru, serta tenaga kependidikan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Ketua Komite SMPN Satap Tala, Servatius Due, S.Ag, dalam sambutannya menyampaikan bahwa seorang guru adalah pahlawan tanpa jasa yang mengabdikan hidupnya sebagai panggilan iman dan kemanusiaan.
╔══════════════════════════════════╗ ║ “Mencapai usia 60 tahun adalah ║ ║ karunia Tuhan yang patut ║ ║ disyukuri. Purna tugas bukan ║ ║ akhir perjalanan, melainkan ║ ║ awal dari perutusan baru untuk ║ ║ hari esok yang berbeda. Itu ║ ║ menjadi tantangan baru yang ║ ║ harus disikapi dengan bijak.” ║ ╚══════════════════════════════════╝
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dan pola makan sebagai bagian dari kesiapan memasuki fase kehidupan yang baru.
Suasana haru semakin terasa ketika Anastasia Bano, mewakili dewan guru, menyampaikan kesan dan pesan kepada sosok yang selama dua tahun terakhir memimpin sekolah tersebut.
Menurutnya, kehadiran Hendrikus Ben Bone menjadi pelengkap yang menghadirkan keseimbangan dalam keluarga besar SMPN Satap Tala.
╔════════════════════════════════════╗ ║ “Selama ini kami dipimpin oleh ║ ║ kepala sekolah perempuan. ║ ║ Kehadiran Bapak Ben Bone menjadi ║ ║ pelengkap yang menyempurnakan ║ ║ perjalanan kami. Banyak solusi, ║ ║ dedikasi, dan kebaikan yang ║ ║ ditinggalkan sebagai warisan ║ ║ berharga bagi sekolah ini.” ║ ╚════════════════════════════════════╝
Dengan suara yang sesekali bergetar oleh emosi, Anastasia menyampaikan permohonan maaf mewakili seluruh keluarga besar sekolah atas segala kekhilafan selama dua tahun kebersamaan mereka.
“Nikmati setiap momen indah dalam perjalanan pensiunmu,” ucapnya, disambut tepuk tangan dan tatapan haru dari para hadirin.
Momentum purna tugas itu tidak hanya menjadi perpisahan personal, tetapi juga refleksi tentang arti seorang pendidik di tengah masyarakat pedesaan. Di daerah-daerah yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, guru bukan sekadar pengajar di ruang kelas. Mereka adalah penuntun generasi, penjaga harapan, sekaligus penghubung cita-cita anak-anak menuju masa depan yang lebih baik. Karena itu, setiap purna tugas seorang guru sesungguhnya menandai berakhirnya satu bab pengabdian sekaligus lahirnya warisan nilai yang akan terus hidup dalam diri para murid dan rekan sejawatnya.
Dalam sambutan perpisahannya, Hendrikus Ben Bone memilih berbicara tentang makna kepemimpinan, kebenaran, dan pentingnya saling memaafkan.
╔══════════════════════════════════════╗ ║ “Setiap kebenaran harus tetap ║ ║ dijaga. Setiap ketidakbenaran ║ ║ harus dicermati dengan tenang ║ ║ sambil mencari solusi. Semua ║ ║ salah dan amarah hendaknya ║ ║ dibawa pergi bersama terbenamnya ║ ║ matahari di ufuk barat.” ║ ╚══════════════════════════════════════╝
Ia menyampaikan terima kasih kepada komite sekolah dan seluruh guru yang telah menerima dirinya sebagai bagian dari keluarga besar SMPN Satap Tala.
Menurutnya, kebersamaan selama dua tahun justru menjadi proses yang mendewasakan dirinya untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih berguna bagi sesama.
Acara kemudian ditutup dengan suasana penuh kehangatan. Sebuah cincin yang melingkar di jari manis menjadi simbol penghormatan dan kenangan dari keluarga besar SMPN Satap Tala kepada sosok yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia pendidikan.
Di ujung senja Manuaman Lidak, ketika kata-kata perpisahan perlahan mereda, yang tersisa bukanlah kesedihan semata. Yang tinggal adalah jejak-jejak pengabdian yang tak ikut pensiun bersama waktu. Sebab seorang guru boleh meninggalkan ruang kerjanya, tetapi nilai, teladan, dan cintanya kepada pendidikan akan terus hidup dalam hati mereka yang pernah disentuhnya.















