TANGERANG |BELUPOS.Com — Pagi itu, matahari belum sepenuhnya membasuh halaman SMK YP Karya Bangsa di Jalan Pembangunan I, Kelurahan Batujaya, Kecamatan Batuceper. Pukul 06.30 WIB, ketika sebagian besar kota masih meregangkan pagi, seorang perwira berseragam cokelat sudah berdiri di gerbang sekolah — bukan untuk menertibkan, melainkan untuk berbicara dari hati.
Kompol Gunawan, Kapolsek Batuceper, datang bukan dengan sirene, melainkan dengan pesan. Diterima langsung oleh Kepala SMK YP Karya Bangsa, Nursyifa, M.Pd., beserta jajaran guru, ia menanggalkan sejenak citra komando dan memilih menjadi pembina upacara — seseorang yang berdiri di depan 250 pasang mata muda, berbicara tentang hal yang lebih mendasar dari hukum: tentang kemanusiaan.
Didampingi Bhabinkamtibmas Kelurahan Batujaya, Aiptu Suharno, Kompol Gunawan memulai arahannya dengan apresiasi. Bukan basa-basi protokoler, melainkan pengakuan sederhana bahwa ia membutuhkan ruang ini — ruang di mana generasi muda masih bisa diajak bicara sebelum jalanan lebih dulu mengajari mereka.
Kemudian ia menyentuh luka yang kerap tersembunyi di balik dinding kelas: bullying
Perundungan, katanya, bukan sekadar kenakalan remaja. Ia adalah kekerasan yang diwariskan oleh ketidakpedulian, tumbuh subur di ruang-ruang yang diam. Kompol Gunawan meminta para siswa menjaga persaudaraan, menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif — bukan hanya karena aturan, tetapi karena mereka layak belajar dalam rasa aman. Terlebih menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 pada 17 Agustus 2026, momen yang seharusnya menyatukan, bukan memecah.
> *”Kami mengimbau kepada seluruh siswa agar tidak ikut-ikutan dalam aksi yang dapat merugikan diri sendiri. Sebagai pelajar, kewajibannya adalah fokus belajar dan berlatih untuk meraih prestasi,”* ujar Kompol Gunawan — suaranya mantap namun tanpa nada menggurui, lebih menyerupai seorang paman yang tahu betul harga sebuah masa depan yang terbuang sia-sia di persimpangan jalan.
Ia menekankan bahwa tanggung jawab utama seorang pelajar adalah mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi, bukan menjadi bahan bakar kepentingan yang tidak mereka pahami. Para siswa, tegasnya, harus mampu membedakan antara keberanian dan kecerobohan — antara menyuarakan hati nurani dan terseret arus provokasi.
> *”Jangan mudah terprovokasi. Jangan mudah terpengaruh ajakan yang mengarah pada tindakan anarkis,”* imbuhnya — kalimat itu diucapkan pelan, nyaris seperti permohonan, seolah ia sedang berbicara kepada anak-anaknya sendiri di ruang makan pagi hari.
Pembicaraan kemudian bergeser ke tempat yang lebih lembut. Kompol Gunawan menatap barisan siswa yang berdiri tegak di bawah matahari pagi Tangerang, dan memilih menutup arahannya bukan dengan peringatan, melainkan dengan harapan.
“Semoga murid-murid SMK YP Karya Bangsa menjadi orang yang unggul, berprestasi, dan sukses ke depannya,”* pesannya — sebuah doa yang diucapkan bukan dari mimbar ibadah, melainkan dari lapangan upacara yang berbau tanah basah dan cita-cita. Matanya menyapu barisan seragam putih-abu itu dengan tatapan yang tidak bisa dipalsukan: percaya.
Lebih dari Sekadar Upacara Pagi
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Jaga Jakarta serta upaya mitigasi dan pembinaan Polsek Batuceper terhadap pelajar di wilayah hukumnya. Namun di balik formalitas program, ada urgensi yang lebih dalam. Di banyak kota di Indonesia, pendekatan kepolisian terhadap dunia pendidikan masih bersifat reaktif — datang setelah insiden, bukan sebelumnya. Polisi hadir ketika sudah ada korban, ketika video perundungan sudah viral, ketika pelajar sudah tertangkap di barisan demonstran. Apa yang dilakukan Kompol Gunawan di SMK YP Karya Bangsa adalah kebalikannya: ia hadir sebelum luka terbuka, memilih dialog sebelum catatan kriminal. Pendekatan edukatif semacam ini, jika dijalankan secara konsisten dan bukan sekadar seremonial musiman, berpotensi menjadi model pencegahan yang jauh lebih efektif daripada sekadar penempatan personel di depan gerbang sekolah. Pertanyaannya bukan apakah pendekatan ini tepat — melainkan apakah ia akan bertahan lebih lama dari satu kali upacara pagi.
—
Pukul delapan lewat, upacara selesai. Kompol Gunawan meninggalkan halaman sekolah. Tetapi 250 siswa yang tadi berdiri tegak di bawah terik Tangerang kini membawa pulang sesuatu yang tidak tertulis di kurikulum mana pun — bahwa keberanian sejati bukan soal turun ke jalan, melainkan soal tetap berdiri di kelas, membuka buku, dan memilih masa depan ketika seluruh kebisingan dunia mengajak mereka berlari ke arah sebaliknya.













