Berita UtamaLensa PerbatasanPendidikanPolkamwarta Kota

Ketika Dongeng Mengantar Anak Jatuh Cinta Membaca

70
×

Ketika Dongeng Mengantar Anak Jatuh Cinta Membaca

Sebarkan artikel ini

JAKARTA TIMUR |BELUPOS.Com] — Pagi di halaman SDN Jati 01, Jalan Kakap Raya No. 36, Jati, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Rabu (12/8/2026), berubah menjadi panggung kecil bagi dunia anak-anak. Tawa pecah, permainan berlangsung, hadiah berpindah tangan, dan sebuah boneka bernama Ayis menjadi pusat perhatian.

Di tengah riuh itu, pesan tentang membaca justru menemukan jalannya sendiri.

Perpustakaan Jakarta Timur menggelar roadshow kegemaran membaca dengan menyambangi SDN Jati 01. Ratusan siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan yang dikemas dengan pendekatan interaktif, edukatif, sekaligus menghibur.

Anak-anak tidak hanya diajak memahami pentingnya membaca. Mereka juga terlibat dalam berbagai permainan dan lomba ketangkasan yang membuat suasana halaman sekolah jauh dari kesan kaku.

Kemeriahan semakin terasa ketika pendongeng nasional Kak Harris, yang memiliki nama lengkap Harris Rizki Akhiruddin, hadir sebagai bintang tamu.

Dengan gaya mendongeng yang interaktif, Harris membawa anak-anak masuk ke dalam cerita. Tawa dan respons spontan para siswa menjadi bagian dari pertunjukan yang membuat pesan literasi terasa lebih dekat dengan dunia mereka.

Sosok Ayis, boneka yang dibawakan Kak Harris, bahkan menjadi magnet tersendiri.

Tingkah Ayis mengundang gelak tawa. Setelah acara selesai pun sejumlah anak masih mengerubungi Harris dan boneka Ayis. Mereka berinteraksi dan bahkan menanyakan media sosial pribadi sang pendongeng.

“Ketika buku belum mampu mengetuk pintu hati anak, dongeng bisa menjadi jalan masuknya. Dari tawa, rasa ingin tahu tumbuh; dari cerita, kegemaran membaca perlahan menemukan rumahnya.”

Bagi Harris, kunjungan ke SDN Jati 01 merupakan bagian dari rangkaian roadshow yang dilakukannya di sejumlah kota di Indonesia.

Kehadirannya menjadi salah satu cara memperkenalkan dunia membaca melalui pendekatan yang akrab dengan anak-anak: menghibur tanpa kehilangan pesan edukasi, serta mengajak belajar tanpa membuat mereka merasa sedang digurui.

Kepala Perpustakaan Jakarta Timur, Fitria Aulia, selaku Plt. (Pelaksana Tugas), mengatakan roadshow kegemaran membaca merupakan agenda rutin yang dilakukan sebagai salah satu upaya meningkatkan budaya membaca di kalangan pelajar sekolah dasar di Jakarta Timur.

Menurut dia, pengenalan budaya membaca tidak cukup dilakukan melalui imbauan. Anak-anak membutuhkan pengalaman belajar dan membaca yang menyenangkan agar perpustakaan dan buku tidak hadir dalam bayangan mereka sebagai sesuatu yang membosankan.

Sementara itu, Kepala SDN Jati 01 Jakarta Timur, Nuryanti, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi dapat terus dilaksanakan setiap tahun.

“Kami ingin sekali kegiatan seperti ini tetap terus diagendakan setiap tahunnya.”

Harapan itu menjadi penting ketika budaya membaca anak berhadapan dengan tantangan zaman. Dunia digital menawarkan hiburan yang cepat, visual, dan nyaris tanpa batas. Karena itu, buku membutuhkan cara baru untuk kembali memenangkan perhatian anak-anak.

Di sinilah roadshow literasi menemukan relevansinya.

Secara kontekstual, kegiatan semacam ini bukan sekadar kampanye membaca, melainkan upaya membangun pengalaman emosional anak terhadap buku dan pengetahuan. Ketika membaca diperkenalkan melalui dongeng, permainan, interaksi, dan kegembiraan, buku tidak lagi hadir sebagai kewajiban sekolah, tetapi sebagai pintu menuju imajinasi. Namun, pengalaman satu hari tidak akan cukup untuk membentuk kebiasaan.

“Roadshow boleh menyalakan percikan, tetapi kebiasaan membaca hanya tumbuh ketika sekolah, keluarga, perpustakaan, dan anak-anak bersama-sama menjaga apinya.”

Karena itu, keberlanjutan program menjadi bagian penting. Ketersediaan buku yang menarik dan sesuai usia, peran guru, dukungan orang tua, serta akses anak terhadap perpustakaan perlu berjalan beriringan.

Roadshow dapat menjadi pemantik. Tetapi budaya membaca membutuhkan perawatan setiap hari.

Di SDN Jati 01, pesan itu tampak sederhana: anak-anak tertawa, bermain, mendengar dongeng, lalu pulang membawa hadiah.

Namun di balik kemeriahan tersebut tersimpan harapan yang jauh lebih panjang—agar cerita yang mereka dengar hari itu tidak berhenti ketika panggung dibongkar dan rombongan meninggalkan sekolah.

Sebab membaca bukan sekadar mengajari anak mengeja kata. Membaca adalah mengajari mereka melihat dunia yang jauh lebih luas daripada halaman tempat mereka berdiri.

Kegiatan kemudian ditutup dengan lomba ketangkasan dan pembagian hadiah kepada para siswa. Halaman SDN Jati 01 pun kembali perlahan tenang.

Tetapi barangkali, dari antara ratusan anak yang pulang hari itu, ada satu yang kelak membuka sebuah buku bukan karena disuruh.

Melainkan karena ia telah jatuh cinta pada sebuah cerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *