Di sebuah ballroom mewah di jantung Jakarta, nama Nusa Tenggara Timur kembali dipanggil. Singkat, namun cukup untuk membuat langkah seorang birokrat dari Kupang terasa lebih mantap.
JAKARTA |BELUPOS. Com)-Di panggung megah Hotel Kempinski, Jakarta, Senin pagi 1 Desember 2025, Selfi H. Nange—Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTT—berdiri mewakili Gubernur. Tak ada fanfare berlebihan.
Hanya selembar penghargaan yang disodorkan, namun cahayanya memantul jauh sampai ke timur: Championship TP2DD 2025, kategori Provinsi untuk kawasan Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
Penghargaan itu sampai di tangan NTT seperti hadiah ulang tahun yang datang lebih awal. Dua puluh hari lagi, provinsi berbatas laut ini memasuki usia ke-67. Dan pagi itu, sebelum pesta apa pun digelar, ia sudah menerima kabar baik.
Dalam pesan WhatsApp yang tenang namun berbobot, Selfi menuturkan bahwa besaran insentif bagi daerah pemenang masih menunggu waktu.
“Mekanisme salur tetap lewat insentif fiskal daerah,” tulisnya, seolah ingin memastikan publik mengerti bahwa sebuah penghargaan tidak hanya berhenti pada seremoni, tapi menyentuh jalur fiskal yang nyata.
Ia juga menegaskan bahwa kepastian nilai insentif akan diumumkan kemudian oleh Bank Indonesia dan Satgas TP2DD Kemenko Perekonomian. “Surat resmi akan diberikan kepada para pemenang,” lanjutnya. Kalimat sederhana yang mengisyaratkan mekanisme birokrasi yang sedang bergerak di belakang layar.
Dua hari sebelumnya, di Graha Bhasvara Icchana, Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto berdiri di hadapan para undangan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia.
Dengan gaya khasnya, ia memberi apresiasi kepada daerah yang menjaga inflasi, stabilitas harga, dan mendorong digitalisasi keuangan.
“Jumlahnya nggak terlalu besar, kok, kira-kira 786 miliar,” ujarnya tentang insentif fiskal yang sedang diusulkan kepada Presiden.
Airlangga tidak sekadar mengumumkan angka. Ia menaruh harapan: daerah yang bekerja keras patut diberi penghargaan yang terukur. Upaya mengendalikan harga dan memperluas digitalisasi bukan hal yang lahir tiba-tiba; ia tumbuh dari rapat-rapat kecil, dari koordinasi antarinstansi, dari ketekunan yang sering luput dari headline.
Dan pada titik itulah NTT berdiri: sebuah provinsi yang tidak pernah memilih jalan mudah, tetapi terus menempuh yang perlu.
Penghargaan Championship TP2DD 2025 bukan sekadar piala di panggung luas. Ia adalah pengakuan atas langkah-langkah sunyi yang berangkat dari kantor-kantor pemerintah daerah—tangan-tangan yang mengelola data, menata transaksi, dan memperlancar kanal pembayaran digital di wilayah yang medan dan jaraknya sering kali menantang.
Momen pagi itu tampak seperti potret slow-motion: lampu ballroom yang jatuh lembut; Selfi Nange menerima penghargaan dengan senyum terukur; tepuk tangan yang terdengar seperti gema dari masa depan digital NTT.
Tidak ada musik dramatis. Hanya keyakinan yang perlahan menguat bahwa transformasi digital bukan slogan, melainkan kerja panjang yang sedang berjalan.
Provinsi paling timur selatan ini, perubahan—betapapun pelan—tetap menemukan jalannya.















