Berita UtamaLensa PerbatasanPariwisataPolkamwarta Kota

Doa di Atas Gelombang Asap Selat Lombok

105
×

Doa di Atas Gelombang Asap Selat Lombok

Sebarkan artikel ini

LOMBOK BARAT |BELUPOS. Com– Di keheningan dini hari yang seharusnya dipenuhi embun, Perairan Sekotong justru disambar oleh kepulan asap pekat dan aroma hangus yang menusuk hidung. Rabu (12/8/2026), pukul 04.15 WITA, KMP Putri Yasmin berubah dari alat transportasi menjadi panggung ketegangan di tengah Selat Lombok. Di atas dek yang bergoyang liar, 131 nyawa—termasuk sejumlah warga asal Sumba yang membawa rindu pulang—terjepit antara api yang menjalar dan laut dalam yang tak bertepi. Namun, di balik kepanikan itu, ada sebuah mukjizat kolektif: tidak ada satu pun jiwa yang hilang.

Rekaman video berdurasi 50 detik yang beredar luas menangkap momen paling memilukan sekaligus mengharukan. Para penumpang, dengan jaket keselamatan terpasang rapat, tidak saling dorong atau menjerit histeris. Mereka berdiri berhimpitan, tangan terkepal di dada, memanjatkan doa-doa terakhir dengan wajah pasrah namun tegar. Itu adalah potret keimanan yang lahir dari ujung tanduk maut, sebuah solidaritas sunyi di tengah deru mesin kapal yang mulai kehilangan kendali.

Titik koordinat 8°43’12.37″S – 115°47’35.93″E menjadi saksi bisu bagaimana negara bergerak cepat ketika warganya dalam bahaya. Laporan darurat dari Nakhoda RB 220 Mataram, Nurdin, yang diterima Kantor SAR Mataram pada pukul 04.39 WITA, memicu respons instan. Hanya dalam 25 menit, tim SAR gabungan sudah meluncur dari markas. Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi, menegaskan prinsip tunggal dalam operasi ini: “Keselamatan seluruh jiwa adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar.”

Sinergi lintas instansi terjalin seperti orkestra penyelamat di tengah kegelapan. KN 220 Mataram, RIB, RBB, hingga KN SAR Arjuna dari Denpasar membelah ombak. Dari udara, helikopter SGi Air Bali menyapu cakrawala, sementara di permukaan laut, KAL Lembar, Polairud, nelayan lokal Sekotong, hingga kapal yacht yang kebetulan melintas, semua melebur menjadi satu tujuan. Puncaknya, KMP Portlink II berhasil mengevakuasi seluruh korban selamat, membawa mereka kembali ke daratan dengan selamat menuju Pelabuhan Padangbai dan Lembar.

Di antara nama-nama yang tercatat selamat, ada kisah-kisah kecil dari Pulau Sumba yang menyentuh hati. Jefriyanus Tanggu Dedo (22 tahun), Nangto (20 tahun), Dominggus Djami (36 tahun) dari Patawang, Perlin Banaku Kahi SE (36 tahun) dari Prai Paha, Oktavia Warni Samuel (57 tahun) dari Patawang, serta Ferly Reru Manggurima (25 tahun) dari Praibakul. Mereka adalah representasi dari 114 penumpang—yang terdiri atas sopir, pengendara motor, dan pejalan kaki—serta 17 awak kapal yang berhasil lolos dari cengkeraman api. Bagi mereka, especially bagi yang berasal dari Sumba Timur, perjalanan ini bukan sekadar transit, melainkan bagian dari siklus migrasi dan kerinduan akan tanah leluhur.

Secara kontekstual, insiden ini menyoroti kerentanan infrastruktur maritim di wilayah kepulauan Indonesia yang padat arus penyeberangan. Meskipun prosedur keselamatan tampak berjalan efektif—terbukti dari nol korban jiwa—kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa faktor manusia dan teknis di laut selalu berada di ambang ketidakpastian. Keberhasilan evakuasi ini bukan hanya kemenangan logistik SAR, tetapi juga bukti bahwa kesiapsiagaan komunitas maritim lokal, mulai dari nelayan hingga kapal komersial, merupakan garis pertahanan pertama yang sering kali luput dari apresiasi publik.

Kini, setelah asap telah tersapu angin pagi dan ombak kembali tenang, sisa-sisa ketakutan itu perlahan menguap, digantikan oleh rasa syukur yang mendalam. Insiden KMP Putri Yasmin mengajarkan kita bahwa di tengah lautan luas yang dingin dan api yang panas, kemanusiaan tetaplah hangat ketika ia bersatu dalam doa dan aksi nyata. Karena pada akhirnya, setiap pulang yang selamat adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *