banner 728x250

Di Pulau yang Menjanjikan Damai, Stigma Masih Mencari Korbannya”

BALI |BELUPOS.Com)-Di Bali—pulau yang selama berabad-abad menjadi metafora ketenangan—gelombang kegelisahan justru datang dari sudut yang sering luput dilihat: para perantau asal Nusa Tenggara Timur yang setiap hari berjuang mencari tempat tinggal, pekerjaan, dan sepotong rasa aman.

I Putu Agus Karsha Saskara Putra, S.Kom, pemuda Bali keturunan Manggarai yang tumbuh dengan dua identitas budaya, merasakan luka itu bukan dari cerita, tetapi dari denyut hidup sehari-hari.
Saya sangat menyesalkan tindakan oknum yang kemudian menyeret nama seluruh warga NTT. Ini tidak adil.” ujarnya, dengan nada tenang namun tegas—seakan sedang menata ulang lanskap empati di tengah riuh stereotip.

Fenomena diskriminasi tempat tinggal dan pekerjaan, menurut Agus, bukanlah badai besar yang datang tiba-tiba, melainkan percikan api dari segelintir individu yang melakukan kerusuhan, lalu menyulut kecurigaan massal. Dari satu kesalahan kecil, terbentuklah gunung prasangka.

Padahal, sebagian besar warga NTT datang ke Bali dengan niat sederhana: bekerja halal, menghormati adat, dan hidup berdampingan secara damai. Namun, realitas yang menyambut justru pahit—penolakan kos karena asal daerah, syarat sewa yang dibuat lebih berat, hingga dugaan hambatan SARA dalam proses rekrutmen kerja.

Kami meminta masyarakat Bali memisahkan perilaku individu dari identitas kolektif. Mayoritas saudara-saudara kami datang untuk bekerja terhormat.” lanjut Agus.

Membentuk Jalan Damai: Upaya dari Komunitas NTT

Agus percaya, solusi bukan sekadar meredakan ketegangan, melainkan membangun jembatan sosial yang lebih kokoh. Ia memaparkan sejumlah langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan publik—sebuah jurnalisme solusi yang hidup dari tindakan, bukan retorika.

1. Peningkatan disiplin dan pendidikan moral
Organisasi kedaerahan, khususnya paguyuban Manggarai, diminta rutin mengadakan edukasi etika hidup di Bali: bagaimana menghormati adat lokal, memahami batas-batas kesopanan, dan menaati hukum setempat.

2. Sistem pengawasan internal dan pendataan anggota
Pendataan anggota—terutama perantau yang tinggal di rumah kos—dirancang bukan untuk membatasi, tetapi untuk mencegah kesalahpahaman dan mempermudah koordinasi ketika terjadi persoalan.

3. Dialog lintas-identitas
Dialog rutin dengan Bendesa Adat, lurah, tokoh masyarakat, serta aparat TNI-Polri dianggap penting untuk meruntuhkan sekat sosial.
Kegiatan sosial dan gotong royong bersama warga lokal dirancang sebagai jembatan emosional yang menyatukan—bahwa harmoni bukan kata sifat, melainkan kerja kolektif.

4. Peningkatan kualitas SDM NTT
Agus menekankan pentingnya sertifikasi keterampilan agar warga NTT memiliki daya saing profesional, terutama di sektor pariwisata dan perhotelan.
Jalan keluar dari stigma, katanya, adalah meningkatkan kompetensi tanpa meninggalkan akar budaya.

Menata Ulang Framing: Seruan untuk Media

Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan, Agus memandang media sebagai “cermin besar” yang menentukan siapa yang tampak mulia dan siapa yang tampak bersalah.

Media seharusnya mencerahkan, bukan memperkeruh. Hindari judul yang memancing emosi dan menghakimi kelompok.

Ia mengingatkan prinsip sederhana namun sakral dalam etika jurnalistik: verifikasi yang ketat, konteks yang berimbang, dan keberpihakan hanya pada kebenaran. Sebab narasi yang sensasional bukan hanya memperburuk stigma, tetapi juga merusak citra Bali sebagai pulau yang menjunjung tinggi Tri Hita Karana.

Media—ucap Agus—seharusnya menjadi pelita yang meredam, bukan bara yang menyulut.

Harapan yang Tetap Dinyalakan

Menutup refleksinya, Agus menyampaikan pesan yang terasa seperti doa:

Warga NTT adalah bagian dari Indonesia. Identitas bukan alasan untuk mencurigai. Bali tetap rumah kami, dan kami akan menjaganya.

Ia percaya, harmoni akan tetap mungkin selama semua pihak—masyarakat Bali, komunitas NTT, aparat keamanan, hingga media—bersedia melihat masalah bukan sebagai perang identitas, melainkan sebagai tanggung jawab individu.

Dan di pulau yang menjanjikan damai ini, setiap langkah kecil menuju keadilan akan menjadi cahaya yang menuntun pulang siapa saja yang datang dengan niat baik.

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *