Berita UtamaLensa PerbatasanPolkamwarta Kota

Di Bawah Cahaya Lilin, Seroja Haliwen Bersaksi Janji Setia

73
×

Di Bawah Cahaya Lilin, Seroja Haliwen Bersaksi Janji Setia

Sebarkan artikel ini

ATAMBUA |BELUPOS.Com– Kegelapan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Seroja Haliwen tidak terasa mencekam, melainkan melahirkan sebuah keheningan yang sakral. Tepat pada detik-detik pergantian hari, Senin (17/8/2026), waktu seolah berhenti sejenak di bumi perbatasan. Hanya desau angin malam dan kilauan api dari ratusan lilin serta obor yang memecah sunyi, menerangi jejak-jejak sejarah 68 pahlawan yang terbaring tenang di bawah nisan-nisan putih.

Malam itu, Kabupaten Belu tidak hanya memperingati ulang tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia sedang melakukan ritual memori kolektif. Di tengah hamparan rumput yang basah oleh embun, Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST, bersama jajaran Forkopimda, TNI, Polri, ASN, hingga mahasiswa, berdiri tegak dalam barisan khidmat. Mereka bukan sekadar peserta upacara, melainkan saksi hidup dari sebuah janji yang diwariskan melalui darah dan air mata.

Komandan Kodim 1605/Belu, Letkol Arh Ariestyo Ardyanto, S.I.P., M.H.I., yang bertindak sebagai Inspektur Upacara, memimpin prosesi Renungan Suci dengan keteguhan seorang prajurit dan kelembutan seorang pemimpin spiritual. Suaranya lantang namun bergetar, menembus dinginnya malam perbatasan, membawa hadirin menyelami makna pengorbanan yang sering kali terlupakan di tengah hiruk-pikuk modernitas.

Kami bersumpah dan berjanji, perjuangan saudara-saudara adalah perjuangan kami pula. Jalan kebaktian yang telah saudara tempuh adalah jalan bagi kami juga.”

Ucapan Dandim Ariestyo tersebut bukan sekadar rutinitas protokoler. Ia adalah afirmasi historis yang menghubungkan masa lalu yang heroik dengan masa kini yang penuh tantangan. Kalimat itu bergema di dada setiap hadirin, mengingatkan bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah gratis, melainkan utang budi yang harus dibayar dengan kesetiaan menjaga kedaulatan NKRI.

Dalam konteks geografis Belu yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, renungan ini memiliki dimensi strategis yang lebih dalam. TMP Seroja Haliwen bukan hanya tempat peristirahatan terakhir bagi 9 personel TNI, 1 anggota Polri, 1 PNS, 43 pejuang rakyat, dan 14 pahlawan tak dikenal. Ia adalah benteng simbolis nasionalisme. Di wilayah di mana identitas kebangsaan sering kali diuji oleh dinamika lintas batas, kehadiran para pemuda dan pejabat negara di makam para pahlawan menjadi pernyataan tegas: bahwa akar sejarah adalah pondasi terkuat untuk menjaga integritas bangsa di ujung timur Nusa Tenggara.

Prosesi berlanjut dengan pembakaran lilin dan tabur bunga. Setiap kelopak bunga yang jatuh ke atas nisan adalah doa, setiap nyala lilin adalah harapan. Arwah para pahlawan didoakan agar diterima Tuhan Yang Maha Esa di sisi-Nya yang terbaik, sementara yang hidup diminta restu untuk terus menegakkan martabat Indonesia.

Malam Renungan Suci di Seroja Haliwen mengajarkan kita satu hal fundamental: bahwa lupa adalah bentuk pengkhianatan paling halus. Dengan menyalakan lilin di tengah kegelapan, masyarakat Belu tidak hanya mengenang jasa mereka yang gugur, tetapi juga menyalakan kembali api semangat kebangsaan di hati generasi muda. Karena selama kenangan itu hidup, maka Indonesia akan tetap berdiri tegak, meski badai zaman datang menerpa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *