Berita UtamaLensa PerbatasanPariwisataPolkamwarta Kota

Tiga Kali Seruan Prabowo, Palestina Menggema di Gontor

23
×

Tiga Kali Seruan Prabowo, Palestina Menggema di Gontor

Sebarkan artikel ini

PONOROGO |BELUPOS.Com— Suasana syukur 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor mendadak berubah menjadi panggung solidaritas Palestina.

Di hadapan para kiai, ulama, pendidik, santri, dan tamu undangan yang memenuhi arena peringatan satu abad Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026), Presiden Prabowo Subianto tiba-tiba mengepalkan tangan kanannya.

Suaranya meninggi.

Tiga kali seruan itu meluncur dari panggung dan memecah suasana.

“Free Palestine! Free Palestine! Free Palestine!”

Teriakan tersebut segera disambut hadirin. Suara massa bergulung, tepuk tangan pecah, dan sejenak perhatian seluruh ruangan tertuju pada satu kata yang sama: Palestina.

Di tengah riuh tepuk tangan itulah, sebuah adegan lain berlangsung.

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdulfattah Al Sattari, bangkit dari tempat duduknya.

Ia bergerak menuju panggung.

Bukan dengan pidato panjang. Bukan pula dengan seremoni yang telah disiapkan.

Ia membawa sebuah keffiyeh bercorak bendera Palestina.

Sesampainya di panggung, Abdulfattah menghampiri Prabowo. Keffiyeh itu dibentangkannya, kemudian dipasangkan ke tubuh Presiden. Keduanya lalu berpelukan di atas panggung.

Tepuk tangan kembali menggema.

Dalam beberapa detik yang sederhana itu, panggung peringatan satu abad Gontor berubah menjadi ruang perjumpaan simbolik antara Indonesia dan Palestina.

Setelah berpelukan dan bersalaman, Abdulfattah kembali ke tempat duduknya. Prabowo kemudian meneruskan pidatonya.

Namun, seruan “Free Palestine” tadi belum selesai maknanya.

Beberapa saat kemudian, Prabowo menjelaskan kepada hadirin mengapa ia tiba-tiba meneriakkan seruan tersebut.

“Saya minta maaf tadi saya ingat saudara-saudara kita di Palestina. Mereka dibantai, mereka dibom, mereka diserang terus-menerus dan kita seolah-olah kurang berdaya untuk membantu mereka,” kata Prabowo.

Pernyataan itu menjadi titik balik suasana. Dari perayaan satu abad sebuah lembaga pendidikan Islam, pembicaraan bergeser kepada penderitaan yang terjadi jauh di Palestina.

Prabowo mengatakan kondisi tersebut semestinya menjadi dorongan bagi para kiai, ulama, pendidik, serta generasi penerus bangsa untuk bersungguh-sungguh dalam belajar dan membangun Indonesia.

Pesannya kemudian kembali diarahkan kepada kekuatan bangsa sendiri.

Bahwa solidaritas, dalam pandangannya, tidak cukup berhenti pada seruan. Indonesia harus dibangun menjadi negara yang kuat, berdaya, dan mampu mengambil peran dalam menghadapi persoalan dunia.

Di Gontor, tempat satu abad perjalanan pendidikan Islam dirayakan, seruan itu menemukan panggungnya sendiri.

Tiga kali “Free Palestine” menggema.

Satu demi satu tangan mengepal.

Tepuk tangan menyusul.

Dan sebuah keffiyeh Palestina kemudian terpasang di tubuh Presiden Republik Indonesia.

Adegan itu berlangsung singkat, tetapi meninggalkan gambar yang kuat: seorang Presiden berdiri di atas panggung dengan simbol Palestina di tubuhnya, sementara di hadapannya ribuan mata menyaksikan.

Di balik kemeriahan syukuran satu abad Gontor, Palestina hadir sebagai ingatan yang tidak ingin dibiarkan sunyi.

Dari Ponorogo, suara itu terdengar sederhana, tetapi gaungnya melampaui panggung: Free Palestine.

Penulis: Redaksi Belupos.comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *