KUPANG |BELUPOS.Com— Gempa Flores tak hanya mengguncang tanah dan meninggalkan luka di tengah masyarakat. Di balik rumah-rumah yang rusak, jalur distribusi yang harus dijaga, dan kebutuhan warga yang terus bergerak, ada satu denyut lain yang tak boleh ikut terhenti: perekonomian.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama Tim Ekonomi kini memperkuat koordinasi untuk memastikan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak tetap tersedia, distribusi berjalan, dan gejolak harga tidak berkembang menjadi tekanan baru bagi masyarakat.
Langkah itu dibahas dalam Rapat Kerja Gubernur NTT bersama Tim Ekonomi, Senin, 24 Agustus 2026. Sejumlah isu strategis menjadi perhatian, mulai dari ketersediaan pangan, kelancaran distribusi, pasokan bahan bakar minyak (BBM), konektivitas transportasi, aktivitas perdagangan, hingga upaya menjaga stabilitas harga dan inflasi.
Di tengah situasi pascagempa, distribusi BBM menjadi salah satu urat nadi yang harus tetap terbuka. Pertamina NTT menyampaikan bahwa seluruh SPBU tetap beroperasi normal. Sebelumnya, pasokan BBM ke sejumlah wilayah Flores turut didukung melalui jalur Bima–Labuan Bajo.
Gubernur NTT meminta Pertamina NTT segera memastikan seluruh SPBU di wilayah Flores memperoleh sekaligus menyampaikan informasi mengenai penghentian sementara pemberlakuan PERGUB Nomor 13 Tahun 2025, yang telah diberlakukan sejak 15 Agustus 2026.
“Kepastian informasi di lapangan adalah bagian dari pemulihan. Masyarakat, pelaku usaha, terutama kendaraan pengangkut dan logistik, tidak boleh berjalan dalam ketidakpastian.”
Pesan tersebut menjadi penting karena dalam situasi bencana, gangguan informasi dapat berimbas pada lebih dari sekadar kelancaran perjalanan. Ketidakpastian distribusi dapat memengaruhi biaya angkutan, pasokan barang, aktivitas perdagangan, hingga harga kebutuhan pokok yang pada akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Karena itu, pemerintah terus mendorong Gerakan Pangan Murah, penguatan jalur distribusi, relaksasi pembiayaan bagi masyarakat terdampak, serta koordinasi transportasi dan logistik. Seluruh langkah tersebut diarahkan untuk menjaga agar proses pemulihan ekonomi Flores tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan bergerak dalam satu orkestrasi kebijakan.
Menjaga harga, menjaga daya tahan masyarakat
Secara kontekstual, perhatian terhadap inflasi setelah gempa bukan sekadar persoalan angka statistik. Bagi masyarakat yang sedang memulihkan rumah, kehilangan pendapatan, atau menghadapi terganggunya aktivitas usaha, kenaikan harga pangan, BBM, dan ongkos distribusi dapat menjadi beban berlapis. Karena itu, menjaga pasokan dan konektivitas sejak awal merupakan bagian penting dari strategi melindungi daya beli sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi NTT.
Masa tanggap darurat saat ini ditetapkan pada 15–28 Agustus 2026, dengan evaluasi lanjutan berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan. Pemerintah menempatkan pemulihan kehidupan masyarakat dan aktivitas ekonomi sebagai semangat utama dalam menghadapi fase pascagempa.
Di tengah upaya itu, PT Kawasan Industri Bolok (Perseroda) menyatakan dukungannya terhadap langkah bersama untuk menjaga stabilitas ekonomi NTT, memperlancar distribusi, serta mempercepat pemulihan masyarakat Flores.
Sebab, setelah gempa mengguncang bumi, tantangan berikutnya adalah memastikan kehidupan tidak ikut berhenti. Jalan distribusi harus tetap terbuka, pasar harus tetap bernapas, kebutuhan warga harus tetap sampai, dan ekonomi harus kembali menemukan iramanya.
Flores sedang bangkit. Dan setiap distribusi yang lancar, setiap harga yang terkendali, serta setiap aktivitas ekonomi yang kembali bergerak adalah bagian dari harapan agar tanah yang pernah berguncang itu segera kembali menjadi rumah yang hidup.













