ATAMBUA |BELUPOS .Com— Api melahap sebuah pohon beringin yang ditanam oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, di Simpang Lima Kota Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Minggu (23/8/2026).
Pohon yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari lanskap dan ingatan sejarah Kota Atambua itu kini tinggal kenangan. Batang dan tajuknya yang dahulu menaungi kawasan Simpang Lima, perlahan berubah menjadi sisa-sisa yang hangus setelah dilalap si jago merah.
Hingga berita ini ditulis, penyebab kebakaran belum diketahui.
Namun, yang terbakar bukan sekadar sebatang pohon. Di balik kulit kayunya yang menghitam, ada jejak sejarah yang pernah hidup bersama denyut Kota Atambua—sebuah kota perbatasan yang menyimpan begitu banyak cerita tentang perjalanan bangsa.
“Beringin ini bukan hanya pohon. Ia adalah bagian dari ingatan sejarah yang semestinya dirawat, dijaga, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” demikian kegelisahan yang mengemuka dari peristiwa tersebut.
Ironisnya, pohon beringin itu disebut telah mengalami kerusakan dan jatuh sekitar tiga tahun lalu. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Belu untuk memastikan keberadaan dan nilai historisnya tetap terpelihara.
Kini, setelah api menghanguskan beringin tersebut, kekhawatiran tentang hilangnya jejak sejarah kembali mengemuka.
Sebab, ketika sebuah peninggalan sejarah dibiarkan lapuk, roboh, lalu lenyap tanpa upaya penyelamatan, yang hilang bukan hanya benda fisiknya. Bersamanya ikut terkikis cerita tentang siapa yang pernah datang, apa yang pernah dilakukan, dan bagaimana sebuah daerah menjadi bagian dari perjalanan panjang Republik Indonesia.
Dalam konteks itu, peristiwa kebakaran ini menjadi pengingat bahwa pelestarian sejarah tidak cukup berhenti pada seremoni atau catatan administratif. Warisan sejarah membutuhkan perhatian nyata, perawatan, dokumentasi, serta kesadaran bersama agar simbol-simbol masa lalu tidak hilang begitu saja diterpa perubahan zaman.
Di tengah modernisasi yang terus bergerak, ungkapan “Neter no Taek”—nilai yang selama ini melekat dalam kehidupan masyarakat setempat—dikhawatirkan perlahan kehilangan makna apabila generasi hari ini tidak lagi memiliki kepedulian terhadap jejak sejarah dan budaya yang diwariskan para pendahulu.
Beringin di Simpang Lima Atambua itu kini tidak lagi berdiri seperti dahulu. Ia menyisakan abu, ingatan, dan pertanyaan: berapa banyak lagi jejak sejarah yang harus hilang sebelum kita sadar bahwa sebuah bangsa bukan hanya dibangun oleh masa depan, tetapi juga oleh keberanian menjaga kenangan masa lalunya?
Selamat tinggal, beringin sejarah. Semoga dari abu yang tersisa, tumbuh kesadaran bahwa sejarah yang tidak dirawat pada akhirnya hanya akan menjadi cerita—dan cerita yang kehilangan jejaknya akan sulit diwariskan kepada generasi berikutnya.
(L.24)













