BATANG |BELUPOS.Com— Di sebuah desa, perubahan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia tumbuh dari percakapan sederhana, dari tangan yang memilah sampah, dari anak-anak yang belajar bahwa ejekan bukan sekadar candaan, atau dari mahasiswa yang duduk bersama warga untuk mendengarkan persoalan sehari-hari.
Di Desa Gringgingsari, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, mahasiswa KKN-R Universitas Diponegoro (Undip) Tim II menjalani masa pengabdian pada Juli hingga Agustus 2026 dengan cara itu: hadir, berinteraksi, belajar, sekaligus mengajak masyarakat melihat kembali persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Kehadiran mahasiswa tidak hanya ditandai program kerja yang telah disusun. Mereka ikut masuk ke denyut kehidupan desa melalui posyandu balita dan lansia, kegiatan mengajar, senam bersama, tahlilan rutin, kerja bakti, gotong royong hingga persiapan peringatan Hari Kemerdekaan.
Di ruang-ruang sederhana itulah proses pengabdian menemukan maknanya. Mahasiswa belajar mengenali karakter masyarakat, membangun komunikasi dan menyesuaikan gagasan dengan kebutuhan warga. Sebaliknya, masyarakat memperoleh ruang untuk berinteraksi langsung dengan generasi muda yang datang membawa pengetahuan dari kampus.
Ketika Sampah Menjadi Percakapan
Salah satu program yang dijalankan adalah pembagian Kartu Komitmen 3R kepada warga pada 2 Agustus 2026. Program tersebut mengangkat pengelolaan sampah melalui prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle.
Konsep itu mengajak masyarakat mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, menggunakan kembali barang yang masih dapat dimanfaatkan, serta mendaur ulang material yang memungkinkan untuk diolah kembali.
Namun, kartu tersebut tidak sekadar menjadi media penyampaian pesan.
Warga diberi ruang untuk menuliskan komitmen dan harapan mereka terkait pengelolaan sampah di Desa Gringgingsari, termasuk harapan terhadap pengembangan program Bank Sampah.
Dalam pelaksanaannya, warga mengisi kartu sembari berdialog dengan mahasiswa. Sejumlah warga bahkan mengajukan pertanyaan mengenai tata cara pengisian dan tujuan program.
Dari percakapan itu terlihat bahwa persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan dengan memberi tahu masyarakat apa yang harus dilakukan. Perubahan membutuhkan ruang untuk mendengar, berdiskusi dan membangun kesadaran bersama.
Pengelolaan sampah, pada akhirnya, dimulai dari tempat paling dekat: rumah, halaman dan kebiasaan sehari-hari. Karena itu, edukasi 3R dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, termasuk keberlanjutan Bank Sampah di desa.
Membicarakan Batas yang Harus Dihormati
Persoalan lain yang disentuh mahasiswa adalah pelecehan seksual dan kekerasan seksual.
Pada 26 Juli 2026, mahasiswa KKN-R Undip Tim II melaksanakan edukasi mengenai isu tersebut dengan menggunakan booklet dan presentasi PowerPoint.
Materi mencakup pengertian pelecehan seksual, bentuk-bentuk pelecehan dan kekerasan seksual, pentingnya memahami persetujuan atau consent, dampak yang dapat dialami korban, serta peran keluarga dan lingkungan dalam pencegahan.
Materi disampaikan dengan bahasa sederhana agar dapat dipahami masyarakat. Booklet yang dibagikan juga memungkinkan peserta membaca kembali informasi setelah kegiatan berakhir.
Edukasi tersebut diarahkan untuk membangun pemahaman mengenai pentingnya menghormati batas pribadi, menciptakan lingkungan yang aman serta mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi situasi yang tidak aman.
Dalam isu yang menyangkut kekerasan seksual, mahasiswa juga menempatkan perlindungan korban sebagai perhatian penting. Identitas dan informasi pribadi korban perlu dijaga agar proses penanganan tidak justru menimbulkan dampak tambahan.
Mengajarkan Anak Mengenali Perundungan
Dari ruang masyarakat, edukasi kemudian bergerak ke sekolah.
Pada 5 dan 7 Agustus 2026, mahasiswa melaksanakan program Anti-Bullying di SDN Gringgingsari dan MI Assyafiyah.
Anak-anak diperkenalkan pada pengertian bullying, bentuk-bentuknya, dampak yang dapat ditimbulkan serta langkah pencegahannya.
Agar materi tidak terasa seperti pelajaran biasa, mahasiswa menggunakan metode fun learning. Contoh-contoh yang dekat dengan keseharian siswa digunakan untuk membantu mereka membedakan antara bercanda dan perilaku yang dapat menyakiti atau merugikan orang lain.
Siswa mengikuti penyampaian materi dan sesi tanya jawab. Mereka juga diberi kesempatan menjawab pertanyaan berdasarkan pemahaman masing-masing.
Pesan yang dibawa sederhana: sekolah harus menjadi tempat anak merasa aman untuk belajar dan bertumbuh.
Namun, pencegahan bullying tidak dapat dibebankan hanya kepada anak. Sekolah, keluarga dan lingkungan sekitar memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan ruang tumbuh yang aman dan saling menghargai.
Mahasiswa Datang untuk Belajar Juga
Salah satu mahasiswa yang terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut adalah Mutiara Aulya Laksmi, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.
Bagi Mutiara, KKN bukan sekadar kesempatan menerapkan pengetahuan akademik. Pengabdian juga menjadi ruang untuk memahami kehidupan masyarakat secara langsung.
“Melalui kegiatan KKN ini, kami berharap materi dan kegiatan yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Kami juga mendapatkan banyak pengalaman dari interaksi langsung dengan warga dan anak-anak, sehingga kegiatan ini menjadi proses belajar bagi kedua belah pihak,” ujar Mutiara.
Menurutnya, berbagai kegiatan yang dilakukan menyentuh persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pengelolaan sampah hingga edukasi mengenai interaksi sosial dan perlindungan anak.
Karena itu, pendekatan edukasi perlu menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan disesuaikan dengan karakteristik peserta.
“Kami berharap hal-hal positif yang sudah disampaikan selama kegiatan dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan Desa Gringgingsari,” lanjutnya.
Mutiara juga melihat bahwa pengalaman KKN mengajarkan pentingnya mendengarkan masyarakat sebelum menjalankan sebuah kegiatan.
Mahasiswa, menurutnya, tidak hanya datang membawa materi. Mereka perlu membangun komunikasi agar program dapat diterima dan dikembangkan bersama.
Pengabdian yang Tak Berakhir di Foto
Rangkaian kegiatan KKN-R Undip Tim II di Gringgingsari memperlihatkan bahwa pengabdian masyarakat tidak berhenti pada terlaksananya sebuah agenda. Program lingkungan, pendidikan, edukasi sosial dan keterlibatan dalam kegiatan warga merupakan bagian dari proses membangun hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Secara kontekstual, tantangan terbesar dari program semacam ini justru berada setelah mahasiswa meninggalkan desa. Waktu KKN terbatas, sedangkan perubahan perilaku membutuhkan proses panjang. Karena itu, edukasi 3R dan pengembangan Bank Sampah membutuhkan keterlibatan warga secara berkelanjutan, sementara pencegahan bullying dan kekerasan seksual membutuhkan kesinambungan peran sekolah, keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan pengabdian tidak semata diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, melainkan dari seberapa jauh gagasan tersebut dapat diteruskan setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Di luar program utama, mahasiswa tetap hadir dalam kegiatan posyandu balita dan lansia, tahlilan, mengajar, senam bersama, kerja bakti, gotong royong hingga persiapan peringatan Hari Kemerdekaan.
Kehadiran dalam aktivitas tersebut membuat mahasiswa tidak hanya mengenal desa melalui agenda resmi, tetapi melalui kehidupan masyarakat sehari-hari.
Bagi mahasiswa, Gringgingsari menjadi ruang belajar yang tidak memiliki dinding. Bagi masyarakat, kehadiran mereka menjadi kesempatan berbagi pengalaman, pengetahuan dan gagasan.
Pada akhirnya, KKN bukan tentang berapa banyak program yang sempat ditinggalkan dalam sebuah desa. Ia tentang apakah sebuah percakapan mampu berlanjut, apakah sebuah kebiasaan baik menemukan penerus, dan apakah pengetahuan yang dibawa dari kampus dapat tumbuh menjadi kesadaran bersama.
Sebab pengabdian yang paling berarti bukan yang paling ramai dikenang saat mahasiswa pergi, melainkan yang tetap hidup ketika mereka telah lama kembali.













