Berita UtamaEksisHukum & KriminalKesehatanLensa PerbatasanPariwisataPendidikanPolitikPolkamwarta Kota

Keteladanan Nabi Jadi Kompas Jurnalis Independen

24
×

Keteladanan Nabi Jadi Kompas Jurnalis Independen

Sebarkan artikel ini

 

SURABAYA |BELUPOS.Com– Di tengah hiruk-pikuk dinamika informasi yang tak pernah berhenti mengalir, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah hadir sebagai oase ketenangan bagi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Jurnalis Independen Nusantara (IJEN). Pada Selasa (25/8/2026), organisasi ini tidak hanya merayakan kelahiran sang Rasul sebagai ritual seremonial, melainkan merenungkannya sebagai fondasi etika yang paling murni. Bagi para pewarta, momen ini adalah pengingat bahwa sebelum menjadi penyampai fakta, mereka adalah manusia yang dituntut untuk memegang teguh akhlak mulia di setiap langkah tugasnya.

Ketua Umum DPP IJEN, Ali Maskur, menegaskan bahwa esensi Maulid bukanlah nostalgia masa lalu, melainkan relevansi ajaran Rasulullah SAW yang harus hidup dalam ruang redaksi maupun interaksi sosial. Dalam pesannya, ia mengajak seluruh pengurus dan staf IJEN di semua tingkatan untuk menjadikan figur Nabi sebagai kompas moral yang tak tergantikan.

“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus meneladani akhlak dan ajaran Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.”

Lebih jauh, Ali Maskur—yang juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi rgntimes.id dan berasal dari Kabupaten Tuban—menyematkan harapan khusus agar nilai-nilai tersebut termanifestasi dalam praktik jurnalistik yang bermartabat. Ia menekankan bahwa independensi seorang jurnalis tidak boleh dipisahkan dari integritas pribadi yang diajarkan oleh Sang Nabi.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah. Mari kita jadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai teladan dalam tugas-tugas jurnalistik.

Dalam lanskap media kontemporer yang sering kali terjebak pada sensasi dan polarisasi, ajakan Ali Maskur memiliki urgensi kontekstual yang tinggi. Keteladanan Rasulullah SAW—yang dikenal dengan kejujuran (siddiq), amanah, dan kelembutan—berfungsi sebagai antitesis terhadap degradasi etika pers. Ketika jurnalis menginternalisasi nilai-nilai ini, pemberitaan tidak lagi sekadar memenuhi standar teknis verifikasi, tetapi juga menyentuh dimensi kemanusiaan. Persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama, yang menjadi inti ajaran Islam, sejalan dengan fungsi pers sebagai pilar demokrasi yang melindungi martabat masyarakat, bukan melanggarnya demi kepentingan sesaat.

Ali Maskur menutup pesannya dengan doa agar keberkahan Maulid mempererat silaturahmi internal organisasi, sekaligus menjaga marwah IJEN sebagai wadah jurnalis yang independen.

Maulid Nabi mungkin berlalu seiring bergantinya hari, namun jejak akhlak yang ditinggalkannya diharapkan tetap abadi di balik setiap kata yang ditulis dan setiap kebenaran yang disampaikan. Sebab, jurnalis yang hebat bukan hanya yang mampu mengungkap fakta, tetapi yang mampu melakukannya dengan hati yang bersih dan jiwa yang meneladani cahaya kenabian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *