ATAMBUA |BELUPO.com— Riuh sukacita Nusra Youth Day (NYD) III memang telah berakhir di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, Maumere, Minggu (5/7/2026). Namun, gema pesannya belum usai. Ia terus bergaung, melintasi ruang-ruang gereja hingga pelosok paroki, mengajak Orang Muda Katolik (OMK) tidak berhenti pada semangat perjumpaan, melainkan melangkah menuju karya nyata yang menghidupi iman dan masyarakat.
Pesan itu menguat setelah Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, saat menutup NYD III mengajak kaum muda menghayati tema “Berjalan Bersama Membangun Bangsa dan Gereja” dengan menjadikan momentum tersebut sebagai energi perubahan melalui iman, akal budi, dan pengabdian di tengah kehidupan sosial.
Seruan tersebut mendapat sambutan dari Marcus Yoseph Mau, salah seorang tokoh umat Katolik di Paroki St. Petrus Tukuneno, Keuskupan Atambua. Kepada Belu Pos, Senin (6/7/2026), ia mengingatkan bahwa semangat OMK tidak boleh berhenti pada slogan atau euforia kegiatan.
“OMK harus menyala di hati, menyala di pikiran, menyala di omongan, dan lebih dari itu harus menyala di lapangan melalui aksi nyata. Semangat yang dibawa pulang dari NYD harus diterjemahkan menjadi karya yang dapat dirasakan Gereja dan masyarakat,” ujar Marcus Yoseph Mau.
Menurutnya, salah satu bentuk implementasi yang dapat segera dilakukan adalah memanfaatkan lahan-lahan kosong milik paroki agar menjadi ruang produktif yang memberi manfaat bagi umat.
Ia mengusulkan agar tanah paroki yang selama ini belum dimanfaatkan ditanami tanaman pangan, tanaman tahunan, maupun tanaman pakan ternak sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi umat.
Marcus juga mendorong Dewan Pastoral Paroki (DPP), khususnya Seksi Sosial Ekonomi, untuk mengambil peran aktif dengan menyediakan bibit tanaman maupun beberapa ekor sapi yang dapat dipelihara oleh OMK secara berkelanjutan.
“OMK bersama DPP harus bergandengan tangan. Jika dikelola dengan baik, hasil pertanian maupun peternakan dapat menjadi sumber pendapatan untuk mendukung kas OMK sekaligus membangun kemandirian generasi muda Gereja. OMK adalah tulang punggung Gereja,” katanya.
Ia menegaskan, semangat pelayanan hendaknya berjalan beriringan dengan semangat bekerja, sebagaimana warisan spiritual yang telah lama dikenal dalam tradisi Gereja.
“Orat et Labora—berdoa sambil bekerja. Iman tidak hanya tumbuh di altar, tetapi juga di kebun, di kandang, dan di setiap karya yang memberi kehidupan bagi sesama,” tuturnya.
Secara kontekstual, gagasan tersebut sejalan dengan arah pembangunan Gereja yang semakin menekankan pemberdayaan umat berbasis potensi lokal. Di berbagai keuskupan, pengembangan lahan produktif, pertanian, dan peternakan mulai dipandang bukan semata sebagai kegiatan ekonomi, melainkan juga sebagai sarana pendidikan karakter, kepemimpinan, dan kemandirian kaum muda agar mampu menghadapi tantangan sosial-ekonomi di masa depan.
Semangat yang lahir dari NYD III pada akhirnya tidak akan diukur dari meriahnya perayaan ataupun banyaknya peserta yang hadir. Nilainya justru akan tampak ketika setiap orang muda kembali ke parokinya, mengolah tanah yang terbengkalai menjadi sumber kehidupan, mengubah doa menjadi karya, dan membuktikan bahwa Gereja bertumbuh bukan hanya karena kata-kata, tetapi karena tangan-tangan muda yang setia bekerja demi sesama.















