banner 728x250

Menembus Lumpur, Membuka Harapan: Jalan TMMD 129 Kodim Belu Jadi Urat Nadi Baru Warga Malaka

 

BESIKAMA |BELUPOS.Com-Pagi masih menyisakan embun di hamparan perbukitan Desa Naas, Kecamatan Malaka Barat. Di tengah jejak roda yang tenggelam dalam lumpur, deru alat berat perlahan memecah sunyi. Sejumlah prajurit TNI bersama warga berdiri di sisi jalan yang selama bertahun-tahun menjadi saksi perjuangan para petani mengangkut hasil bumi mereka dengan penuh kesabaran.

Kini, jalan tanah yang dahulu bergelombang, berdebu saat kemarau dan berubah menjadi kubangan ketika hujan turun, mulai menapaki babak baru.

Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Tahun 2026 yang dilaksanakan Kodim 1605/Belu resmi memulai pengerjaan peningkatan jalan sepanjang 1.500 meter atau 1,5 kilometer. Ruas jalan tersebut menjadi akses vital yang menghubungkan permukiman warga dengan lahan pertanian serta sejumlah fasilitas publik.

Alat berat dikerahkan. Material timbunan mulai dituang satu demi satu di atas badan jalan yang berlumpur dan berlubang. Di balik pekerjaan fisik itu, tersimpan harapan panjang masyarakat akan akses yang lebih layak dan kehidupan yang lebih baik.

Komandan Satuan Tugas TMMD ke-129 Kodim 1605/Belu, Letkol Arh Ariestyo Ardyanto, S.I.P., M.H.I., mengatakan bahwa pembangunan jalan tersebut dipilih berdasarkan kebutuhan mendesak masyarakat.

“Jalan sepanjang 1.500 meter ini merupakan urat nadi perekonomian warga di sini. Dengan peningkatan jalan ini, kita berharap waktu tempuh terpangkas dan biaya angkut hasil bumi menjadi lebih murah, sehingga kesejahteraan masyarakat otomatis meningkat,” ujar Ariestyo.

Menurutnya, kondisi jalan selama ini menjadi tantangan tersendiri bagi warga. Saat musim kemarau, debu tebal menyelimuti perjalanan. Namun ketika hujan datang, jalan berubah menjadi lumpur yang menyulitkan kendaraan roda dua maupun roda empat melintas.

Tidak jarang, para petani harus berjuang lebih keras hanya untuk membawa hasil panen keluar dari kebun menuju pasar.

“Akses jalan yang mantap bukan sekadar sarana transportasi, melainkan pintu pembuka kesejahteraan. Karena itu, kami berharap pembangunan ini tidak hanya mengatasi isolasi geografis, tetapi juga memangkas waktu tempuh dan biaya distribusi hasil bumi masyarakat,” katanya.

Secara kontekstual, pembangunan infrastruktur pedesaan seperti yang dilakukan melalui program TMMD memiliki arti strategis bagi wilayah-wilayah perbatasan dan kawasan pedalaman. Jalan yang baik tidak hanya mempercepat mobilitas manusia dan barang, tetapi juga memperkuat konektivitas ekonomi, membuka peluang investasi lokal, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan, kesehatan, dan pasar. Di banyak daerah, perubahan sebuah jalan sering kali menjadi titik awal perubahan wajah sosial dan ekonomi sebuah desa.

Di Malaka, peningkatan ruas jalan sepanjang 1,5 kilometer ini mungkin tampak sederhana di atas peta. Namun bagi warga yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan debu dan lumpur, jalan tersebut adalah harapan yang sedang dibangun sedikit demi sedikit.

Sebab pada akhirnya, pembangunan tidak selalu dimulai dari gedung-gedung megah di kota. Ia sering lahir dari suara alat berat di desa-desa terpencil, dari tangan prajurit dan warga yang bekerja bersama, lalu menjelma menjadi jalan yang kelak mengantarkan anak-anak menuju sekolah, petani menuju pasar, dan sebuah kampung menuju masa depan yang lebih terang.

banner 325x300
Penulis: Redaksi Belupos.comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *