Berita UtamaLensa PerbatasanPariwisataPendidikanPolitikPolkamwarta Kota

Mantan Presiden Jokowi Dinobatkan Raja Timor, Hormat Adat Mengalir

27
×

Mantan Presiden Jokowi Dinobatkan Raja Timor, Hormat Adat Mengalir

Sebarkan artikel ini

KUPANG | BELUPOS. Com — Riuh tepuk tangan membelah langit Kelurahan Lai Lai Besi Kopan, Kota Kupang, Sabtu (1/8). Di tengah iringan musik tradisional, tarian adat, dan lautan masyarakat yang memadati lokasi, mantan Presiden RI ke-7 Joko Widodo menerima sebuah penghormatan yang lahir dari akar budaya: penobatan sebagai “Raja Timor” oleh para raja adat se-Pulau Timor.

Momen itu bukan sekadar seremoni. Ia menjadi perjumpaan antara tradisi yang telah hidup lintas generasi dengan seorang tokoh nasional yang, setelah menuntaskan masa pengabdiannya sebagai kepala negara, masih terus menyapa masyarakat di berbagai daerah.

Prosesi penobatan berlangsung khidmat dalam rangkaian karnaval budaya yang dipenuhi simbol-simbol adat. Kehadiran ribuan warga menghadirkan suasana yang hangat sekaligus sakral. Tari Caci dan Tari Bonet dari Manggarai menghidupkan panggung budaya, sementara para tetua adat memimpin jalannya prosesi sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur yang terus dijaga.

Penobatan tersebut menambah daftar gelar kehormatan adat yang diterima Jokowi setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Sebelumnya, ia juga menerima gelar adat (adok) Baginda Pemuka Bangsa dari lima kerajaan adat Lampung di Bandar Lampung, yang disertai prosesi adat menginjak kepala kerbau di Kedatun Keagungan.

“Penobatan ini merupakan bentuk penghormatan masyarakat adat kepada Joko Widodo melalui prosesi yang dipimpin para raja se-Pulau Timor dalam rangkaian karnaval budaya di Kupang.”

Kunjungan Jokowi ke Nusa Tenggara Timur diketahui merupakan bagian dari rangkaian safari daerah bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Di sejumlah titik kunjungan, ia kembali berinteraksi dengan masyarakat, sebagaimana yang kerap dilakukannya selama aktif memimpin pemerintahan.

Dalam perspektif sosial-budaya, pemberian gelar kehormatan oleh komunitas adat tidak hanya dimaknai sebagai penghargaan kepada seorang tokoh, tetapi juga sebagai simbol hubungan emosional antara pemimpin dan masyarakat. Tradisi seperti ini memperlihatkan bagaimana ruang budaya tetap memiliki peran penting dalam membangun penghormatan, identitas, sekaligus memelihara nilai-nilai lokal di tengah dinamika politik nasional.

Pada akhirnya, di tengah perubahan zaman dan silih bergantinya kepemimpinan, penghormatan adat mengingatkan bahwa jejak seorang tokoh tidak selalu diabadikan melalui jabatan, melainkan juga melalui penghormatan yang lahir dari hati masyarakat dan diwariskan dalam ingatan budaya.

Penulis: Redaksi Belupos comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *