Berita UtamaLensa PerbatasanPariwisata

KFU Belu

8
×

KFU Belu

Sebarkan artikel ini

Di ujung timur Nusa nan aman,
ada suara yang terus mengiang di telinga zaman.
Bukan dari gemerlap panggung buatan,
melainkan dari sebatang bambu hutan,
yang ia raih dengan sabar penuh ketulusan.

Dari kampung sunyi hingga lembah berdebu,
ia merajut jiwa di batang bambu.
Dialah peracik nada, pencipta ruas bernyawa,
yang membimbing jemari dan napas anak-anak muda,
agar warisan leluhur terus terpatri dalam dada.

Namanya adalah Fidelis Mali Bere,
pengabdi setia di pentas Fulan Fehan I hingga IV.
Di balik seragam dinas yang melekat,
di usianya yang prima ia terus bergerak,
mengetuk pintu sekolah, desa, hingga sanggar rakyat.

Dengan ide cemerlang dan kreasi hebat,
ia berkeliling pelosok Belu menyalakan semangat.
Ia tersenyum tenang dalam proses yang tak mudah,
meski menorehkan banyak prestasi dan sejarah,
ia tetap berdiri teguh dalam rendah yang tabah.

Ibarat bambu betung yang kokoh menjulang,
namun ujungnya tetap merunduk ke bumi tenang.
Kita tahu, pejuang sejati tak haus sorotan,
pelayan budaya tak meminta panggung kehormatan,
ia hanya ingin suara leluhur tak mati tergerus zaman.

Lihatlah buah dari kesetiaan itu hari ini,
Kfui telah harum namanya di bumi pertiwi,
diakui resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda negeri.
Inilah buah karya bersama di seantero Belu
Guru, murid, orangtua dan sekolah bersatu padu.

Ada tautan rasa dan akal sehat,
Dari semua pihak bagaikan seikat lidi.
Putra dan putri, perempuan dan laki-laki,
Bertekad kuat mengibarkan panji,
Agar Kfui tetap merdu abadi.

Wahai para pemuja seni dan pengabdi negeri,
pandanglah pegiat kita dengan ketulusan hati.
Perhatikan tangannya yang setia merawat tradisi,
dengarkan napasnya yang menghidupkan bumi Belu ini,
sebab ia yang menjaga budaya, layak meraih mimpi.

Tabe hadinan untukmu, Na’i Fidelis Mali Bere,
engkau bukan sekadar pendidik di ruang kelas biasa,
tetapi penyelamat jati diri yang merawat warisan bangsa.
Engkau mengajarkan pada kami arti hidup yang sejati:
bahwa hebat itu bukan meninggi, melainkan menunduk mengabdi.

Puisi untuk Abdi Praja/Saudara/Sahabat/Keluarga: Pak Fidelis Mali Bere, S.E.

Catatan:
Kfui (seruling bambu)
Tabe hadinan (terima kasih)
Na’i (Saudara laki-laki/Kakak Laki-laki)

Goresan:
Yanuarius Wadan, S.Pd.
Guru Bahasa Inggris
SMP Negeri Tasifeto Timur

Fulan Fehan, 27 Juni 2026
TOTAL-10

Penulis: Yanuarius Wadan, S.Pd.Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *