Usulan pengambilalihan wewenang pendidikan dari pemerintah kabupaten/kota ke tingkat provinsi di Nusa Tenggara Timur mencerminkan kegelisahan mendalam atas intervensi politik yang menghambat kualitas sumber daya manusia demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
KUPANG|BELUPOS.Com – Di tengah riuhnya ambisi menuju Indonesia Emas 2045, sebuah narasi getir ditiupkan dari ufuk Nusa Tenggara Timur. Pendidikan, yang seharusnya menjadi kawah candradimuka bagi akal budi, dituding tengah sekarat di tangan syahwat politik lokal. Tata kelola sekolah di tingkat kabupaten dan kota dinilai telah kehilangan kompas pedagogisnya, terjebak dalam pusaran kepentingan tim sukses yang mengabaikan aturan main intelektualitas.
Ketua DPW Gerakan Indonesia Adil Sejahtera (Gias) NTT, Lodi Manek Lukas, dengan nada bicara yang sarat akan keprihatinan, mendesak Pemerintah Pusat untuk segera melakukan dekonstruksi kebijakan. Ia meminta agar wewenang pengelolaan pendidikan—mulai dari tingkat PAUD hingga SMP—ditarik kembali ke pangkuan Pemerintah Provinsi.
Baginya, otonomi pendidikan di tingkat kabupaten telah berubah menjadi panggung “obral aksi papale” di pasar politik, di mana jabatan kepala sekolah hingga kursi birokrasi dinas pendidikan diisi oleh mereka yang lebih akrab dengan dunia peternakan atau teknik ketimbang dunia literasi.
“Pendidikan adalah tentang mengurus manusia, bukan mengurus binatang. Kita butuh mereka yang mengerti pedagogi, bukan mereka yang hanya mendengar bisikan tim sukses,” tegas Lodi dengan tatapan tajam yang menyiratkan kekhawatiran akan masa depan generasi NTT yang bisa saja tertinggal jauh di bawah bayang-bayang negara tetangga, Timor Leste.
🌸 🌸
“❀ Pendidikan adalah litani kehidupan yang suci. Namun, kini ia sedang diserang virus politik yang mematikan. Mengapa negara-negara besar seperti Jepang dan Rusia melesat maju? Karena rahim pendidikan mereka steril dari kepentingan pragmatis penguasa daerah, ❀”
“❀ Mari kita kembalikan guru ke marwahnya, biarkan orang pendidikan mengurus akal budi, dan biarkan sektor lain berada di porsinya masing-masing. Jika kita terus membiarkan lelucon ini berlanjut, kita hanya akan melahirkan generasi yang mahir berretorika namun hampa dalam karya nyata. ❀”
Lodi juga menyoroti kurikulum yang seringkali terjebak dalam siklus proyek tanpa kepastian. Ia bermimpi tentang sebuah sistem pendidikan yang mengedepankan riset dan diklat sejak usia dini, menciptakan manusia-manusia tangguh yang tidak hanya bangga pada produk asing, tetapi mampu melahirkan inovasi dari tangan sendiri. Baginya, jika pendidikan tidak segera diselamatkan dari intervensi “orang luar” yang bukan berlatar belakang pendidikan, maka cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa hanya akan menjadi catatan kaki yang pahit dalam sejarah peradaban Indonesia.















