banner 728x250

Laut Bukan Warisan Nenek Moyang, Melainkan Titipan Anak Cucu: Pesan Tegas Wagub NTT dari Pulau Buaya

ALOR | BELUPOS .Com– Matahari siang menggantung hangat di langit Pulau Buaya ketika debur ombak memecah kesunyian pesisir. Di pulau kecil yang dikelilingi bentangan laut biru itu, warga berkumpul menyambut kedatangan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma. Tidak sekadar membawa agenda kunjungan kerja, ia datang membawa pesan yang menyentuh inti kehidupan masyarakat pesisir: menjaga laut berarti menjaga masa depan.

Di hadapan tokoh masyarakat, tokoh adat, para pemuda, nelayan, serta warga Pulau Buaya, Kabupaten Alor, Rabu (24/6/2026), Johni mengingatkan bahwa laut bukan hanya hamparan air yang setiap hari memberi ikan dan penghidupan. Laut adalah warisan kehidupan yang harus dijaga agar tetap dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

“Alam harus dijaga untuk anak cucu kita. Jika laut rusak, maka sumber kehidupan juga hilang,” tegas Johni Asadoma dengan nada penuh keprihatinan sekaligus harapan.

Kunjungan kerja tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, Ketua TP PKK Kabupaten Alor Lidya Siawan, para pimpinan perangkat daerah Kabupaten Alor, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta seluruh warga Pulau Buaya. Hadir pula Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi NTT Alexon Lumba, Staf Ahli Gubernur Bidang Kesejahteraan Rakyat Henderina Laiskodat, dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi NTT Noldy Pellokila.

Dalam dialog yang berlangsung hangat di tengah masyarakat, Wakil Gubernur menyoroti pentingnya menjaga kelestarian laut Alor yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari kelas dunia. Ia mengingatkan bahwa praktik penangkapan ikan menggunakan bom tidak hanya menghancurkan terumbu karang yang membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh, tetapi juga merusak rantai kehidupan laut yang menjadi sandaran ekonomi masyarakat.

Menurutnya, ketika ekosistem laut rusak, dampaknya tidak berhenti pada berkurangnya hasil tangkapan nelayan. Kerusakan tersebut juga mengancam sektor pariwisata, mengurangi pendapatan masyarakat, dan perlahan menghilangkan daya tarik alam yang selama ini menjadi kebanggaan Kabupaten Alor.

“Menjaga laut bukan hanya soal melindungi ikan dan terumbu karang, tetapi menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat yang bergantung pada kekayaan alam tersebut,” pesan Johni dalam semangat yang sama saat mengajak warga meninggalkan praktik-praktik penangkapan ikan yang merusak.

Selain isu lingkungan, Wakil Gubernur juga mendengarkan berbagai aspirasi masyarakat terkait kebutuhan dasar yang masih menjadi tantangan di Pulau Buaya. Ketersediaan air bersih, keterbatasan fasilitas pendidikan, hingga pelayanan kesehatan yang belum optimal karena belum tersedianya puskesmas menjadi perhatian utama yang disampaikan warga.

Merespons kebutuhan tersebut, Johni menyatakan komitmennya untuk membantu pembangunan satu unit sumur bor di Pulau Buaya. Survei lokasi sebelumnya telah dilakukan sebagai langkah awal untuk menghadirkan akses air bersih yang lebih baik bagi masyarakat.

“Pemerintah hadir untuk mendengarkan dan berupaya membantu kebutuhan masyarakat sesuai kemampuan yang ada. Yang terpenting adalah kita terus membangun komunikasi dan kerja sama yang baik,” ujarnya.

Secara kontekstual, pesan yang disampaikan Wakil Gubernur memiliki relevansi yang semakin kuat di tengah meningkatnya ancaman terhadap ekosistem pesisir dan laut di berbagai wilayah Indonesia. Daerah-daerah kepulauan seperti Alor tidak hanya bergantung pada laut sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai fondasi ekonomi, pariwisata, dan identitas budaya. Karena itu, menjaga laut bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk memastikan keberlanjutan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.

Sementara itu, Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo menyampaikan apresiasi atas perhatian yang terus diberikan Pemerintah Provinsi NTT kepada masyarakat Kabupaten Alor.

“Kehadiran Wakil Gubernur NTT menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendengarkan dan menjawab kebutuhan masyarakat, sekaligus memperkuat sinergi pembangunan di tengah berbagai keterbatasan fiskal yang dihadapi daerah,” ungkap Rocky.

Apresiasi serupa disampaikan Kepala Desa Pulau Buaya, Hasim Anwar. Ia menjelaskan bahwa Pulau Buaya dihuni sekitar 1.835 jiwa dengan sebagian besar perempuan bekerja sebagai penenun dan laki-laki berprofesi sebagai nelayan. Ia juga mengungkapkan bahwa banyak generasi muda Pulau Buaya telah merantau ke berbagai daerah untuk mencari kesempatan hidup yang lebih baik.

Usai berdialog dengan masyarakat, Wakil Gubernur meninjau sejumlah fasilitas yang ada di Pulau Buaya. Sebelum mengakhiri kunjungan, ia menyempatkan diri menyaksikan turnamen sepak bola lokal dan memberikan motivasi kepada para pemuda agar terus berprestasi meskipun berada dalam keterbatasan fasilitas.

Di pulau yang dikelilingi lautan luas itu, pesan tentang menjaga alam terasa lebih dari sekadar seruan pemerintah. Ia menjadi pengingat bahwa setiap terumbu karang yang terlindungi, setiap ikan yang berkembang biak dengan baik, dan setiap ombak yang tetap membawa kehidupan adalah investasi sunyi bagi masa depan. Sebab pada akhirnya, laut yang dijaga hari ini adalah harapan yang akan diwariskan kepada generasi yang belum lahir esok hari.

banner 325x300
Penulis: Redaksi Belupos.comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *