banner 728x250

Ukun Naran Bunaq Menggema di Tanah Lamaknen, Membuka Gerbang Festival Fulan Fehan IV 2026

ATAMBUA | BELUPOS.COM – Senja perlahan turun di kaki pegunungan Lamaknen ketika denting tihar mulai bergaung dari Kampung Adat Taek Berek, Desa Duarato. Di antara hembusan angin yang menyapu hamparan alam Fulan Fehan, suara doa-doa adat melayang ke langit, menyatu dengan harapan dan penghormatan kepada leluhur. Kamis sore, 25 Juni 2026, ritual sakral UKUN NARAN BUNAQ resmi membuka rangkaian Festival Fulan Fehan IV, sebuah perayaan budaya terbesar yang digelar lima tahunan di Bumi Timor Loro Toban.

Ritual adat yang sarat makna tersebut menjadi penanda dimulainya seluruh rangkaian festival. Bagi masyarakat adat Belu, UKUN NARAN BUNAQ bukan sekadar seremoni pembukaan, melainkan ketukan hati yang dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para leluhur agar seluruh kegiatan berlangsung dalam berkat, kedamaian, dan keselamatan.

Pembukaan festival dihadiri perwakilan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Tim Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Wakil Bupati Malaka, unsur Forkopimda Kabupaten Belu, Camat Lamaknen dan Lamaknen Selatan, para kepala desa, Ama Loro Lamaknen, Ama Nai Duarato, tokoh adat, serta masyarakat dari berbagai wilayah.

Suasana hangat langsung terasa sejak para tamu memasuki kawasan adat. Tarian Likuari yang dibawakan para pemuda dan pemudi menjadi sapaan pertama. Denting tihar, tala, serta gemerincing giring-giring di kaki dan tangan para penari mengalun merdu mengiringi prosesi pengalungan selendang adat kepada para tamu kehormatan.

Kain-kain tenun tradisional yang dikenakan masyarakat menciptakan panorama budaya yang memukau. Setiap helainya seakan menyimpan kisah panjang tentang identitas, perjuangan, dan kebanggaan masyarakat Belu yang diwariskan lintas generasi.

Perjalanan menuju rumah adat Suku Uma Metan Purbelis atau Halimutik menjadi momen yang menggetarkan hati. Para tamu melangkah perlahan menaiki tangga batu alam sambil menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan kepada pusara leluhur, Nai, serta para kerabat kerajaan yang telah mendahului.

Di sepanjang jalan, kehidupan budaya tampil apa adanya. Para ibu terlihat memintal benang dan menenun tais dengan ketekunan yang diwariskan turun-temurun. Para bapak melantunkan pantun adat penuh nasihat kehidupan. Sementara anak-anak menyambut dengan lagu daerah Lolan Gol, menghadirkan kehangatan yang lahir dari kesederhanaan dan ketulusan masyarakat adat.

Juru bicara adat bersama Ama Loro dan Ama Nai kemudian menyampaikan sapaan adat kepada seluruh tamu. Setelah itu, masyarakat menyuguhkan jamuan khas berupa kopi tanpa gula, ubi rebus, talas, pisang rebus, kacang goreng, serta ut kuhus yang disajikan di atas tikar anyaman warga Desa Duarato.

Doa bersama yang berlangsung di dalam rumah suku menjadi inti dari ritual tersebut. Suasana hening menyelimuti seluruh peserta saat harapan dan permohonan dipanjatkan kepada Sang Pencipta dan para leluhur. Setelahnya, seluruh tamu menikmati makan bersama yang menjadi simbol persaudaraan dan kebersamaan masyarakat Belu.

“Nai Maromak natún matak malirin, bodik oan bein Rai Belu no Raiklaran tomakan mak ba nala’o. Hukur Manaran Dahur Liban Fulan Fehan. Moris di’ak no kmanek lei ba ba dei, to’o nima-nimak.”

Doa itu menggambarkan harapan agar Tuhan dan leluhur senantiasa memberkati tanah Belu dan seluruh masyarakat yang terlibat dalam Festival Fulan Fehan IV.

Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama, perekaman video dokumentasi, serta tarian tebe yang berlangsung penuh sukacita. Lantunan lagu-lagu daerah mengalun di tengah senja yang mulai meredup, meninggalkan kesan mendalam bagi setiap orang yang hadir.

╔══════════════════════════════╗
Budaya tidak hidup karena dipertontonkan, tetapi karena diwariskan. Festival hanyalah panggung, sementara kehidupan sehari-hari adalah ruang sesungguhnya tempat identitas Belu dijaga dan dirawat.
╚══════════════════════════════╝

Dalam berbagai diskusi yang mengemuka selama festival, tokoh adat dan masyarakat menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya agar tidak hanya hadir setiap lima tahun sekali. Sejumlah gagasan pun disampaikan, mulai dari revitalisasi rumah adat dan situs budaya, penguatan kelembagaan adat, dukungan bagi sanggar budaya, pembentukan tim studi budaya, penyusunan buku muatan lokal dan kamus Bahasa Tetun, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui produk-produk budaya dan cendera mata khas Belu.

Secara kontekstual, Festival Fulan Fehan tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga merupakan strategi penting dalam memperkuat identitas masyarakat perbatasan. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial, ruang-ruang budaya seperti ini menjadi benteng yang menjaga memori kolektif, bahasa, nilai, dan filosofi hidup masyarakat Belu agar tetap hidup di hati generasi muda.

“Lestarikan budaya, bangkitkan pariwisata Belu. Semoga generasi muda semakin tertarik mengenal, mencintai, dan melestarikan warisan leluhur demi kejayaan Rai Belu,” menjadi harapan yang terus bergema sepanjang kegiatan.

Ketika malam akhirnya menutup langit Duarato, suara tihar perlahan mereda. Namun pesan yang ditinggalkan UKUN NARAN BUNAQ tetap tinggal di dada setiap orang: bahwa sebuah bangsa menjadi besar bukan hanya karena pembangunan yang terlihat, melainkan karena kesetiaannya menjaga akar yang tak pernah boleh tercerabut dari tanah leluhurnya.

banner 325x300
Penulis: Tim Redaksi Belupos.comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *