ATAMBUA |BELUPOS.Com – Di tengah gema peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang bergulir serentak di seluruh penjuru nusantara, Sabtu (2/5/2026), suara dari perbatasan Belu mengalun tegas—bukan sekadar perayaan, melainkan panggilan perubahan.
Ketua PGRI Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Yanuarius Antonius Wadan Talok, S.Pd, menegaskan bahwa momentum Hardiknas harus dimaknai sebagai titik kebangkitan guru untuk terus memperbaiki kualitas diri dan profesionalisme.
Kepada media ini, Wadan Talok menyampaikan bahwa guru dituntut untuk bersatu, belajar, dan berjuang dalam meningkatkan seluruh aspek kompetensi agar mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah.
╔════════════════════════════════════════════╗
🌺 “Guru harus terus meningkatkan kualitas diri—profesional, pedagogis, sosial, berkepribadian, menguasai IT, dan adaptif terhadap perubahan. Dengan segala keunggulan itu, guru wajib membersamai murid dengan jujur, tulus, dan rela berkorban agar mereka tumbuh holistik, bahagia, dan sukses,” 🌺
╚════════════════════════════════════════════╝
Alumni FKIP Bahasa Inggris Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang tahun 2002 itu menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari proses pendampingan yang penuh ketulusan antara guru dan murid.
Menurutnya, peran guru harus melampaui ruang kelas—menjadi penggerak yang memastikan setiap anak bertumbuh dengan semangat, keselamatan, dan kebahagiaan.
Di sisi lain, ia juga menyuarakan harapan kepada Pemerintah Kabupaten Belu agar lebih responsif dan peduli terhadap kebutuhan para guru. Dukungan yang memadai, kata dia, akan menciptakan rasa aman dan nyaman bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara merdeka.
“Guru yang merasa diperhatikan akan bekerja dengan hati, dengan semangat yang tidak mudah padam,” ujarnya.
Namun demikian, ia tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih dihadapi dunia pendidikan di Belu, terutama dalam kemampuan dasar siswa seperti membaca, menulis, dan berhitung (calistung), serta penguatan literasi dan numerasi.
╔════════════════════════════════════════════╗
🌸 “Kami berharap Dinas Pendidikan dapat berkolaborasi dengan PGRI, sehingga seluruh kepala sekolah dan guru mendapatkan dukungan penuh untuk melakukan aksi bersama meningkatkan kualitas pendidikan,” 🌸
╚════════════════════════════════════════════╝
Ajakan itu menjadi penegasan bahwa perubahan pendidikan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus lahir dari kolaborasi yang kuat antara pemerintah, organisasi profesi, dan para pendidik di lapangan.
Di perbatasan negeri ini, Hardiknas bukan hanya seremoni tahunan—ia menjelma menjadi tekad bersama: bahwa dari tangan-tangan guru yang setia, masa depan anak-anak Belu sedang dipersiapkan dengan penuh harapan. (L.24)















