banner 728x250

NTT Mart & Dapur Flobamorata: Dari Mimpi Kolektif Menuju Etalase Ekonomi NTT

KUPANG |BELUPOS.Com)– Matahari siang menyorot hangat halaman tempat acara peluncuran NTT Mart dan Dapur Flobamorata di Kota Kupang, Selasa (12/8/2025). Spanduk besar berwarna biru dan oranye menyambut tamu, sementara aroma kopi robusta dari Manggarai bercampur harum wangi kain tenun yang digelar di meja pamer.

Di barisan kursi depan, para pelaku UMKM duduk rapi, sebagian membawa contoh produk: botol madu dari Lembata, keripik pisang dari Alor, hingga garam kristal putih dari Sabu Raijua. Wajah mereka memancarkan harapan—harapan akan pintu pasar yang lebih lebar dari sebelumnya.

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, berdiri di panggung dengan nada suara penuh keyakinan. “NTT Mart bukan sekadar pusat perbelanjaan. Ini etalase kita. Dari desa langsung ke pasar modern, bahkan hingga ke luar negeri,” katanya.

Kalimat itu disambut tepuk tangan hangat. Beberapa ibu-ibu UMKM terlihat saling pandang, seolah membicarakan kemungkinan produk mereka berada di rak NTT Mart yang terang dan tertata rapi.

Menurut Melki, ide ini lahir dari banyak perbincangan: bagaimana kopi Flores, kain tenun ikat, garam, madu, dan hasil laut bisa menembus pasar tanpa harus kehilangan identitas lokal. NTT Mart, jelasnya, adalah jawabannya—tempat di mana ekonomi rakyat dan kebanggaan daerah bertemu.

Tak hanya NTT Mart, Gubernur juga memperkenalkan Dapur Flobamorata, sebuah ruang yang tak hanya menjual makanan khas, tapi juga mengembangkan resep-resep lokal. “Orang Makassar punya restoran khas, orang Bali, Batak, dan Padang juga punya. Kita NTT? Belum. Maka kita buatkan dapur Flobamora. Ini langkah awal yang pasti berdampak untuk masyarakat,” tegasnya.

Di sudut acara, seorang ibu dari Rote Ndao, Maria Lede, memegang toples abon ikan buatannya. “Kalau bisa masuk NTT Mart, saya yakin bisa jual lebih banyak. Tidak perlu lagi titip di warung yang kadang pembayarannya lama,” ujarnya sambil tersenyum.

Melki menegaskan, kedua program ini harus dikelola dengan manajemen modern, transparan, dan akuntabel. Ia tak ingin NTT Mart hanya menjadi proyek sesaat. “Kita ingin ini jadi simbol kedaulatan ekonomi daerah, pusat interaksi budaya, dan jembatan antara tradisi dan inovasi,” katanya.

Rencananya, gerai NTT Mart akan hadir di setiap kabupaten/kota, dengan pusat terbesar di Labuan Bajo. Sementara Dapur Flobamorata akan menjadi laboratorium inovasi pangan yang membuka peluang usaha bagi ibu rumah tangga, kelompok tani, dan komunitas lokal.

Acara ditutup dengan peninjauan stan produk. Para pejabat, tamu undangan, dan media berkeliling mencicipi kopi, mencoba kain tenun, dan memotret berbagai olahan lokal. Di antara riuhnya percakapan, terasa sebuah energi optimisme: bahwa dari sini, produk NTT akan melangkah lebih jauh.

“Belanja di NTT Mart dan Dapur Flobamorata berarti kita sedang membangun ekonomi desa, mengurangi kemiskinan, membuka lapangan kerja, dan menumbuhkan kebanggaan sebagai orang NTT,” pungkas Gubernur Melki, sebelum meninggalkan lokasi dengan senyum lebar.


 

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *