banner 728x250

Kemenlu RI: Masa Depan Budaya Perbatasan Ada di Tangan Pemuda Duarato

ATAMBUA |BELUPOS.Com — Di beranda negeri yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, budaya tidak sekadar dipentaskan. Ia hidup, bernapas, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di Desa Duarato, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, denyut tradisi itu tampak begitu nyata ketika para pemuda dan pemudi mengambil peran terdepan—menyambut tamu dengan ritus adat, merawat keterampilan leluhur, hingga menyuguhkan kuliner lokal yang sarat makna. Pemandangan inilah yang memantik apresiasi mendalam dari perwakilan Kementerian Luar Negeri RI, Drs. Rabail Walangitan, M.A.

Bagi Rabail Walangitan, apa yang disaksikannya di Duarato jauh melampaui sebuah seremoni penyambutan. Ia melihat sebuah masyarakat yang masih memelihara identitas budayanya secara utuh, sekaligus menghadirkan generasi muda sebagai penjaga utama warisan yang telah bertahan melintasi zaman.

“Kami melihat kebudayaan yang luar biasa di Desa Duarato. Dari acara penyambutan, kegiatan adat, keterampilan budaya, hingga merasakan makanan lokal, semuanya merupakan aset adat yang perlu dilestarikan. Kuncinya tidak lain adalah melibatkan generasi muda,” ujar Rabail dengan penuh apresiasi.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi fondasi paling penting agar tradisi tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan terus hidup dalam praktik keseharian masyarakat. Ketika anak-anak muda merasa bangga mengenakan identitas budayanya, sesungguhnya mereka sedang menjaga akar peradaban di kawasan perbatasan.

Namun, menjaga budaya tidak cukup hanya dengan mewariskan cerita dari mulut ke mulut. Dalam dialognya bersama sejumlah akademisi, termasuk para dosen dan rektor perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur, Rabail memperoleh pandangan yang dinilainya sangat strategis bagi masa depan pelestarian budaya.

“Saya sempat berbincang dengan beberapa dosen dan rektor di NTT. Mereka menyarankan agar semua catatan budaya ini bisa dicatat secara tertulis, tidak hanya mengandalkan tradisi lisan. Tujuannya supaya budaya tidak hilang begitu saja, tetapi dapat diwariskan kepada generasi muda berikutnya untuk melanjutkan dan mempertahankan adat istiadat yang sangat istimewa ini,” jelasnya.

Dokumentasi tertulis, lanjutnya, akan menjadi benteng yang menjaga nilai-nilai filosofis, tata cara ritual, serta makna yang terkandung dalam setiap simbol budaya agar tetap utuh. Dengan demikian, warisan leluhur tidak hanya dapat dipelajari oleh masyarakat setempat, tetapi juga menjadi referensi berharga bagi dunia akademik, termasuk para peneliti internasional.

Kehadiran perwakilan Kementerian Luar Negeri RI di Desa Duarato sekaligus menegaskan bahwa kawasan perbatasan bukan sekadar garis geografis yang memisahkan dua negara. Di wilayah seperti inilah diplomasi budaya menemukan wajahnya yang paling autentik. Tradisi yang dirawat dengan baik mampu menjadi bahasa persahabatan, memperkuat citra Indonesia di hadapan masyarakat negara tetangga, Timor Leste, tanpa kehilangan jati diri.

Secara kontekstual, keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya menjadi tantangan sekaligus peluang di tengah derasnya arus globalisasi. Ketika banyak komunitas adat menghadapi ancaman berkurangnya regenerasi, apa yang terjadi di Desa Duarato menunjukkan bahwa tradisi tetap dapat tumbuh berdampingan dengan perkembangan zaman, selama diwariskan melalui ruang partisipasi yang nyata dan didukung oleh dokumentasi yang berkelanjutan.

Dengan dukungan pemerintah pusat, komitmen masyarakat adat, dan semangat generasi muda yang terus menjaga warisan leluhur, Desa Duarato berpeluang menjadi contoh bagi desa-desa perbatasan lainnya. Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya dikenali dari batas wilayahnya, tetapi juga dari kemampuannya merawat ingatan, menjaga akar budaya, dan mewariskannya dengan penuh kebanggaan kepada masa depan.

banner 325x300
Penulis: Redaksi Belupos.comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *