banner 728x250

Keluar dari IGD RS Polri, Dokter Tifa Tampak Lemas: Dari Kursi Roda Menuju Mobil Tahanan

JAKARTA | BELUPOS.Com — Senja telah lama turun di Kramat Jati ketika pintu ruang Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Polri akhirnya terbuka. Di tengah sorot lampu yang dingin dan langkah aparat yang teratur, Tifauzia Tyassuma—yang lebih dikenal publik sebagai Dokter Tifa—muncul dalam keadaan yang menyita perhatian.

Tidak ada pernyataan. Tidak ada gestur panjang. Hanya tubuh yang tampak kehilangan tenaga.

Sekira pukul 19.58 WIB, Dokter Tifa keluar dari area IGD dengan duduk di kursi roda. Ia mengenakan pakaian hitam, kerudung serta masker berwarna krem, sementara selimut hijau rumah sakit menutupi sebagian tubuhnya. Seorang perempuan berpakaian hitam-putih mendorong kursi roda itu perlahan menuju mobil tahanan milik Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dit Tahti) Polda Metro Jaya.

Di pelataran rumah sakit, suasana bergerak pelan namun terasa berat.

Sesampainya di dekat kendaraan, seorang pria berkemeja biru terlihat membopong Dokter Tifa untuk masuk ke dalam mobil tahanan. Setelah berada di dalam kendaraan, ia mengambil posisi di sisi kiri, lalu menyandarkan kepala ke bahu seorang petugas perempuan yang duduk di sampingnya. Sepanjang proses itu, tidak sepatah kata pun keluar darinya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai kondisi kesehatan yang menyebabkan Dokter Tifa tampak lemas.

Sebelumnya, Dokter Tifa bersama Roy Suryo menjalani pemeriksaan kesehatan terkait status keduanya sebagai tersangka dalam perkara dugaan ijazah palsu Presiden RI ketujuh, Joko Widodo.

Berbeda dengan Dokter Tifa, Roy Suryo yang lebih dahulu memasuki mobil tahanan terlihat dalam kondisi bugar. Ia sempat melempar senyum dan mengangkat tangan kanan yang mengepal sambil mengucapkan singkat, “Siap.”

Mobil tahanan kemudian bergerak menuju Gedung Anton Soedjarwo di lingkungan RS Polri. Berdasarkan informasi yang dihimpun, gedung tersebut difungsikan untuk pelayanan pasien rawat inap.

Roy Suryo dan Dokter Tifa selanjutnya dibawa masuk oleh pihak kepolisian dengan pendampingan kuasa hukum mereka, Refly Harun. Namun hingga kini belum ada kepastian resmi apakah keduanya menjalani perawatan inap.

Di tengah sorotan publik dan tingginya tensi perkara yang menyertainya, momen di pelataran rumah sakit itu memperlihatkan satu sisi yang kerap luput dari perdebatan hukum: bahwa di balik status, opini, dan narasi yang saling bertabrakan, tubuh manusia tetap memiliki batas yang tak selalu dapat disembunyikan.

Malam pun menutup halaman itu tanpa banyak jawaban—menyisakan gambar yang diam, langkah yang tertahan, dan pertanyaan yang masih menunggu penjelasan.

banner 325x300
Penulis: Redaksi Belupos.comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *