banner 728x250

Dari Ende, Gibran Menyusuri Jejak Pangan dan Kemandirian Desa

 

ENDE |BELUPOS.Com— Langit siang menyelimuti Bandara H. Hasan Aroeboesman ketika roda pesawat CN-295 menyentuh tanah Ende, Kamis (18/6/2026). Di ujung landasan, bukan sekadar prosesi penyambutan yang menanti, melainkan perjumpaan antara agenda negara dan denyut kebudayaan yang tetap berdiri menjaga ruangnya.

Sekitar pukul 11.22 WIB, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turun dari pesawat dan disambut tarian tradisional Wanda Pere—gerak yang mengalun seperti bahasa penghormatan masyarakat Ende kepada tamu negara yang datang membawa agenda pembangunan.

Di antara irama penyambutan itu, hadir pula tokoh adat, jajaran kepolisian, serta pejabat daerah termasuk Bupati Yosef Benediktus Badeoda. Prosesi adat berlangsung sebagai penanda bahwa di tanah Flores, langkah pembangunan tetap diawali dengan penghormatan terhadap akar dan identitas.

Usai penyambutan, Gibran dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju SMPN 1 Ndona, Nusa Tenggara Timur, untuk meninjau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG)—program yang menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam memperkuat kualitas generasi sejak usia sekolah.

Kunjungan tersebut tidak berhenti pada ruang kelas. Selama berada di NTT, Gibran juga dijadwalkan melihat pengembangan Koperasi Desa Merah Putih sebagai bagian dari penguatan ekonomi berbasis komunitas dan desa.

Menariknya, dalam rangkaian kunjungan kerja kali ini, Gibran turut mengajak perwakilan mahasiswa untuk ikut menyaksikan langsung agenda di Ende, Gorontalo, dan wilayah Papua. Langkah ini disebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pengawasan sekaligus menyempurnakan tata kelola program MBG dan Kopdes Merah Putih.

Kehadiran mahasiswa dalam kunjungan kerja memberi pesan bahwa pembangunan tidak lagi ingin berjalan dalam ruang tertutup. Negara mencoba membuka ruang pengamatan, menghadirkan generasi muda sebagai saksi sekaligus pengingat bahwa kebijakan publik bukan hanya soal pelaksanaan, tetapi juga soal akuntabilitas dan keberlanjutan.

Di Ende, sebuah kunjungan akhirnya tidak sekadar menjadi catatan protokoler—melainkan perjalanan yang mempertemukan tradisi, pendidikan, pangan, dan harapan; sebab pembangunan yang bertahan lama selalu dimulai dari kemampuan negara hadir hingga ke ruang paling dekat dengan rakyat.

banner 325x300
Penulis: Redaksi Belupos.comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *