banner 728x250

Ketika Air Naik dan Negara Turun Tangan

Catatan Sunyi dari Aek Harse: Banjir, Ketakutan, dan Tangan-Tangan Penyelamat

TAPANULI TENGAH |BELUPOS.Com)—
Air datang tanpa aba-aba. Ia naik perlahan, lalu meluap dengan getir, menyergap harapan warga yang sedang berlari menyelamatkan diri. Di Kecamatan Tukka, Jumat (2/1/2026), Sungai Aek Harse kembali menunjukkan wajah murkanya. Hujan yang tak henti turun menjelma banjir susulan, memerangkap puluhan warga di batas tipis antara keselamatan dan petaka.

Di saat kepanikan mengeras dan arus sungai semakin liar, negara hadir bukan lewat kata-kata, melainkan lewat langkah-langkah cepat di medan berlumpur. Satgas Penanggulangan Bencana Alam (Gulbencal) Kodim 0211/Tapanuli Tengah turun tangan, menjemput satu per satu nyawa yang terjebak oleh amukan alam.

Sebanyak 46 warga—dari Desa Saur Manggita, Kalangan II, Lingkungan V Siantar Gunung, hingga Kelurahan Hutanabolon—berhasil dievakuasi. Mereka sempat terhenti di sekitar aliran Aek Harse, ketika jalur menuju pengungsian berubah menjadi arus deras yang tak lagi bersahabat.

Evakuasi dilakukan oleh Babinsa Koramil 03/Pandan bersama personel gabungan dan perangkat desa. Setiap langkah diukur, setiap keputusan ditimbang dengan cermat. Arus sungai yang meninggi tak menyurutkan kehati-hatian maupun keberanian. Dalam kesenyapan hujan dan dinginnya malam, operasi kemanusiaan itu berlangsung dengan satu tujuan: menyelamatkan kehidupan.

“Dalam bencana, yang paling berharga bukan harta, melainkan nyawa manusia. Dan negara tidak boleh absen ketika rakyatnya terancam,”
Kolonel Inf Asrul Kurniawan Harahap, S.E., M.Tr.(Han).

Seluruh warga akhirnya tiba di posko pengungsian Hutanabolon. Tak ada korban jiwa. Tak tercatat kerugian materiil. Yang tersisa hanyalah rasa lelah, syukur, dan kesadaran bahwa alam tak pernah bisa ditantang, hanya bisa dihadapi dengan kesiapsiagaan.

Babinsa pun tak berhenti pada evakuasi semata. Masyarakat diimbau menjauhi zona merah, wilayah yang telah ditetapkan rawan banjir. Aktivitas di sekitar sungai diminta dihentikan. Keselamatan menjadi hukum tertinggi yang harus ditaati bersama.

Kapendam I/Bukit Barisan menegaskan, kehadiran TNI di tengah bencana bukanlah seremoni, melainkan panggilan nurani.

“Sinergi TNI, pemerintah daerah, dan unsur terkait adalah kunci. Bencana tidak bisa ditangani sendiri-sendiri. Ia menuntut kebersamaan, kecepatan, dan kepedulian,” tegasnya.

Banjir di Tukka kembali mengajarkan satu pelajaran lama: alam bisa murka kapan saja, tetapi kemanusiaan tak boleh surut. Di antara derasnya air dan langit yang kelabu, masih ada tangan-tangan yang setia bekerja—tanpa sorotan, tanpa pamrih—demi satu hal yang paling mendasar: hak setiap warga untuk selamat.

 

 

banner 325x300
Penulis: Pendam I/BB)Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *