SoE |BELUPOS.Com —
Di kota kecil yang dikelilingi angin pegunungan dan doa-doa nenek moyang, kehangatan terasa lebih jujur dari sekadar cuaca.
Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, hari itu tidak sedang merayakan seremoni kenegaraan biasa.
Ia sedang merayakan persaudaraan—yang melampaui paspor, melampaui bendera, melampaui sejarah yang pernah retak.
Di tanah Nusa Tenggara Timur ini, kami berkumpul untuk memperingati hari kelahiran ke-76 Presiden Republik Demokratik Timor-Leste, José Ramos Horta. Namun yang dirayakan bukan sekadar usia seorang kepala negara. Yang dirayakan adalah perjalanan nurani, kesetiaan pada perdamaian, dan ikatan batin dua bangsa yang lahir dari satu rahim budaya: Pulau Timor.
Seorang Presiden, Seorang Saudara
Bagi saya, José Ramos Horta bukan hanya Presiden negara tetangga. Ia adalah saudara, seorang kakak yang telah lama memilih jalan sunyi bernama perdamaian—jalan yang tidak selalu populer, tetapi selalu bermartabat.
Dalam setiap perjumpaan, ada satu hal yang tak pernah berubah: matanya yang berbinar ketika berbicara tentang masa depan rakyatnya dan jembatan kerja sama dengan Indonesia. Tidak ada nada dendam di sana. Yang ada adalah harapan—harapan yang matang oleh pengalaman panjang sejarah.
“Pemimpin sejati tidak hidup dari luka masa lalu, tetapi dari keberanian menyembuhkan masa depan.”
Kalimat itu terasa hidup dalam sosok Ramos Horta—seorang negarawan yang pernah mengubah penderitaan bangsanya menjadi bahasa diplomasi dunia.
NTT dan Timor-Leste: Dua Negara, Satu Jiwa
Perayaan ulang tahun ini di bumi NTT bukanlah kebetulan geografis. Ia adalah pernyataan moral. Sebuah pesan lembut namun tegas bahwa batas negara hanyalah garis politik, sementara hati, budaya, dan ingatan kolektif orang-orang Timor telah lama menyatu.
Pulau ini tidak mengenal sekat dalam tarian adat, dalam bahasa ibu, dalam ritual leluhur, dan dalam rasa kehilangan yang pernah sama-sama dipikul. Kita adalah dua saudara yang sempat terpisah jalan, namun kini memilih berjalan berdampingan.
“Ita hanesan maun-alin rua—luta hamutuk ba prosperidade, la’ós ho senjata, maibé ho kepercayaan.”
(Kita seperti dua saudara—berjuang bersama menuju kemakmuran, bukan dengan senjata, melainkan dengan kepercayaan.)
Persaudaraan yang Harus Menjelma Kebijakan
Sebagai putra NTT, saya percaya persaudaraan tidak cukup berhenti pada simbol dan pidato. Ia harus menjelma menjadi kebijakan nyata—terutama bagi rakyat kecil yang hidup di wilayah perbatasan.
Komitmen saya bulat dan terbuka: mendorong terwujudnya kawasan perdagangan bebas (free trade zone) di perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Inilah jalan paling masuk akal dan bermartabat untuk membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi rakyat Belu, TTU, Malaka, dan kawasan sekitarnya.
“Kedaulatan harus dijaga dengan kepala tegak, tetapi kemakmuran hanya lahir jika pintu dibuka dengan hati yang luas.”
Perbatasan tidak boleh lagi menjadi halaman belakang negara. Ia harus menjadi teras depan kesejahteraan—ruang hidup yang produktif, aman, dan bermartabat.
Ulang Tahun sebagai Doa Bersama
Di usia ke-76, Ramos Horta tidak hanya menambah angka hidup. Ia menambah beban tanggung jawab moral sebagai simbol perdamaian di kawasan ini. Dari Soe, doa-doa dinaikkan—bukan hanya untuk Timor-Leste, tetapi untuk seluruh Pulau Timor.
“Tomak tinan ne’ebé aumenta, bele lori liután bensaun ba povu.”
(Semoga setiap tahun yang bertambah membawa semakin banyak berkat bagi rakyat.)
Selamat ulang tahun, Presiden José Ramos Horta, saudaraku. Semoga usia yang bertambah selalu sejalan dengan kebijaksanaan yang mendalam, kesehatan yang terjaga, dan keberanian untuk terus memilih jalan damai.
Mari kita terus berjalan lado-lado—berdampingan.
Karena masa depan Pulau Timor yang sejahtera, adil, dan bermartabat bukanlah mimpi satu bangsa, melainkan impian kita bersama.















