banner 728x250

Beras yang Tak Sekadar Putih: Ketika Negara Menyapa Meja Makan Perbatasan

ATAMBUA |BELUPOS.Com)-Di perbatasan, beras bukan hanya urusan perut.
Ia adalah cerita tentang jarak, tentang logistik yang menembus sunyi, dan tentang negara yang hadir—atau absen—di meja makan rakyatnya.
Dari Atambua, Bulog bergerak pelan namun pasti, menyusuri Belu, TTU, hingga Malaka, memastikan sebutir demi sebutir tak pernah benar-benar kosong.

—Di sudut timur Nusantara—menjadi simpul penting bagi kerja sunyi Perum Bulog Cabang Atambua. Wilayah kerjanya luas dan berlapis: Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara (TTU), hingga Malaka.

Di daerah-daerah ini, beras bukan sekadar komoditas, melainkan kebutuhan yang menentukan ritme hidup sehari-hari.

Pimpinan Bulog Atambua, Yermi F. R. Djami, berbicara dengan nada tenang, seolah menyadari bahwa pelayanan pangan adalah pekerjaan yang tak perlu gaduh, tetapi harus konsisten.

“Hingga 2025, kami telah membentuk ratusan Rumah Pangan Kita (RPK). Ini adalah wajah terdepan Bulog di tengah masyarakat,” ujarnya, Senin (22/12/2025).

RPK bukan hanya titik jual. Ia adalah simpul kepercayaan. Setiap minggu, RPK mendapatkan pasokan. Dan ketika stok menipis, pintu pemesanan selalu terbuka kembali. Tak ada jeda panjang, tak ada ruang bagi kelangkaan yang disengaja.

Menariknya, Bulog Atambua tak membatasi RPK hanya pada produk beras. Ketika ditanya soal kemungkinan menjual produk pangan lain di luar produk Bulog, Yermi menjawab lugas namun terbuka.

“Bisa. Kami tidak menutup ruang. Selama itu membantu kebutuhan masyarakat, kami persilakan,” katanya.

Di sinilah pelayanan berubah menjadi pendekatan. Negara tak lagi hadir sebagai menara gading kebijakan, melainkan sebagai mitra yang memahami denyut pasar rakyat.

Di wilayah perbatasan, pelayanan pangan adalah soal keberlanjutan hidup. Bukan hanya tentang harga stabil, tetapi tentang rasa aman—bahwa besok dapur tetap mengepul.

RPK menjadi metafora kecil tentang bagaimana negara seharusnya bekerja: dekat, fleksibel, dan mendengar.
Dan di Atambua, kerja itu berlangsung tanpa banyak sorot kamera, namun berdampak panjang—meninggalkan jejak kepercayaan di hati masyarakat.

 

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *