Berita UtamaLensa PerbatasanPolitikPolkamwarta Kota

Prabowo Buka Jalan Kolaborasi Bersama Nobel

33
×

Prabowo Buka Jalan Kolaborasi Bersama Nobel

Sebarkan artikel ini

JAKARTA |BELUPOS.Com— Di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (28/08/2026), diplomasi bertemu dengan ilmu pengetahuan. Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Presiden Timor Leste José Ramos-Horta bersama 20 penerima Nobel. Pertemuan itu bukan hanya menjadi ruang mempererat hubungan kedua negara, tetapi juga membuka kemungkinan baru bagi Indonesia untuk memperluas jejaring keilmuan bersama para ilmuwan kelas dunia.

Dalam pertemuan tersebut, Prabowo dan Ramos-Horta membahas peningkatan kerja sama Indonesia-Timor Leste. Salah satu gagasan yang mengemuka ialah kolaborasi antara para penerima Nobel dengan peneliti dan akademisi Indonesia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, ruang kerja sama tersebut masih memiliki potensi yang luas untuk dikembangkan. Para penerima Nobel yang hadir datang dari beragam latar belakang keilmuan, antara lain biologi dan fisika.

“Ada lebih banyak potensi ke depan yang bisa kita eksplorasi,” kata Fadli Zon dalam keterangannya setelah pertemuan.

Potensi itu kemudian menemukan pijakannya di bidang riset. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menjelaskan bahwa kolaborasi dengan para peraih Nobel dapat menjadi fondasi penting untuk memperkuat ekosistem penelitian dan inovasi di Indonesia.

Menurut Arif, Presiden Prabowo menegaskan agar peluang kolaborasi tersebut tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi segera diwujudkan.

Indonesia sendiri telah memiliki pengalaman membangun kerja sama dengan penerima Nobel. BRIN sebelumnya berkolaborasi dengan peraih Nobel asal Jepang, Susumu Kitagawa, dalam pengembangan Metal-Organic Framework. Kerja sama tersebut diwujudkan melalui pembangunan sister lab di Indonesia yang berfokus pada pengembangan teknologi terkait gas alam.

Bagi Indonesia, kekuatan riset tidak hanya dibutuhkan untuk mengejar kemajuan teknologi, tetapi juga untuk menjawab persoalan yang tumbuh dari karakter geografis negeri kepulauan ini. Presiden Prabowo karena itu mendorong BRIN terus melahirkan inovasi untuk menghadapi potensi bencana.

Indonesia berada di kawasan ring of fire, dengan banyak titik yang memiliki kerentanan terhadap bencana. Situasi tersebut menuntut penelitian, teknologi, dan inovasi yang mampu bekerja bukan hanya setelah bencana terjadi, tetapi juga untuk mengantisipasi, mengurangi risiko, dan mencari solusi pencegahan.

Dorongan tersebut menempatkan ilmu pengetahuan pada posisi yang semakin strategis dalam pembangunan. Pengetahuan tidak berhenti di ruang laboratorium, tetapi diharapkan hadir sebagai teknologi yang memberi perlindungan dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pertemuan di Istana Merdeka itu pun menyiratkan pesan yang lebih luas: hubungan antarnegara dapat diperkuat bukan hanya melalui diplomasi politik dan ekonomi, tetapi juga melalui pertukaran pengetahuan dan kerja bersama para ilmuwan.

Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya dibangun dengan apa yang dimilikinya hari ini, tetapi juga dengan keberanian mengundang ilmu pengetahuan untuk menyalakan jalan menuju masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *