Berita UtamaLensa PerbatasanPolkamwarta Kota

Perak Kaul Mengukir Kesetiaan Melampaui Segala Kehilangan

110
×

Perak Kaul Mengukir Kesetiaan Melampaui Segala Kehilangan

Sebarkan artikel ini

ATAMBUA  |BELUPOS.Com– Di hadapan altar Tuhan, syukur tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupi. Di tengah Misa Syukur 25 Tahun Hidup Membiara, Suster Maria Vianney Rua, SSpS berdiri dengan hati yang penuh keheningan, mengenang seperempat abad perjalanan panggilan yang ditempa oleh air mata, kehilangan, pengorbanan, sekaligus sukacita yang lahir dari kesetiaan kepada Allah.

Di ruang doa itu, setiap langkah hidupnya seakan menjadi gema sabda Kitab Suci: “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib” (Mazmur 139:14).

Dengan wajah yang memancarkan kedamaian, sang yubilaris terlebih dahulu menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan menyukseskan perayaan syukur tersebut, sejak tahap persiapan hingga Misa Syukur berlangsung.

“Dari tempat ini saya mengucapkan terima kasih kepada kita semua yang sudah hadir untuk bersyukur bersama atas kesetiaan Tuhan yang begitu dahsyat dan ajaib yang memampukan saya meraih perak kaul dalam hidup membiara,” ungkap Suster Maria Vianney Rua, SSpS.

Baginya, perayaan ini bukan sekadar penanda perjalanan waktu. Motto hidup yang diambil dari Mazmur 139:14, “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib,” menjadi benang merah yang menuntun seluruh ziarah panggilannya selama seperempat abad sebagai anggota Kongregasi Servarum Spiritus Sancti (SSpS).

“Angka 25 mungkin bagi sebagian orang hanyalah angka biasa atau belum apa-apa. Tetapi bagi saya, 25 tahun dalam hidup membiara adalah angka yang penuh syukur. Syukur karena saya menemukan kasih Tuhan yang dahsyat dan ajaib dalam setiap pengalaman hidup,” tuturnya.

Ia mengakui, perjalanan panggilan tidak pernah bebas dari badai kehidupan. Ada pahit dan manis, jatuh dan bangun. Namun di setiap musim kehidupan itu, ia selalu merasakan penyertaan Allah yang tidak pernah meninggalkannya.

“Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Apa pun pengalaman hidup saya, pahit maupun manis, jatuh maupun bangun, Tuhan melalui rahmat Roh Kudus selalu menguatkan, menghibur, serta menghadirkan kebahagiaan dan kedamaian batin,” katanya.

Kesetiaan itu terus ditempa ketika ia memilih hidup sebagai biarawati SSpS. Ia menjalani hidup menurut nasihat Injil, menaati Tata Biara, manuale, serta menghayati tiga kaul suci: kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan.

“Di sanalah kualitas kesetiaan saya diuji. Syukur kepada Tuhan, saya tidak pernah mundur, sekalipun tantangan selalu datang,” ujarnya.

Ujian terberat datang ketika ia harus mengikrarkan kaul kekal pada saat yang hampir bersamaan dengan kepergian sang ibu. Di tengah duka mendalam, ia berada di persimpangan yang tidak mudah: melangkah menuju altar Tuhan atau mengurungkan niat demi merawat ayahnya yang terserang stroke di samping jenazah ibundanya.

Namun, ia memilih tetap melangkah menuju altar.

“Tuhan dengan kekuatan cinta-Nya yang dahsyat memberanikan saya untuk tetap mengikrarkan kaul kekal. Setelah itu saya membawa bapak ke biara dan merawatnya,” kenangnya.

Selama setahun ia merawat sang ayah hingga akhirnya ayahnya pun berpulang ketika berada bersamanya di Komunitas Biara Atambua. Kesedihan belum berhenti. Ia kembali harus merelakan kepergian Suster Hedwiga SJMJ, sosok yang selama ini dianggap sebagai pengganti orang tua.

Namun, bagi dirinya, setiap kehilangan justru menjadi jalan untuk semakin mengenal kasih Allah.

“Saya bersyukur boleh mengalami semua peristiwa ini. Bukan hanya kehilangan orang-orang tercinta, tetapi juga setiap tantangan dalam hidup membiara. Justru melalui semuanya itu Tuhan menguatkan panggilan saya. Dengan penuh kesadaran dan kebebasan batin, saya membalas kesetiaan Tuhan dengan tetap setia menjadi pelayan-Nya dan menyerahkan diri sepenuhnya melalui tugas dan pelayanan setiap hari,” pungkas sang yubilaris.

Perjalanan Suster Maria Vianney Rua memperlihatkan bahwa hidup membiara bukan sekadar memilih jalan pelayanan, melainkan sebuah panggilan untuk tetap setia ketika hidup menghadirkan kehilangan yang paling menyakitkan. Kesetiaan selama 25 tahun menjadi kesaksian bahwa kualitas pengabdian tidak diukur dari ringan atau beratnya salib yang dipikul, tetapi dari keteguhan hati untuk tetap percaya kepada Tuhan di setiap musim kehidupan.

Sabda Tuhan dalam Yesaya 41:10 seolah menemukan maknanya dalam perjalanan sang yubilaris: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Firman itu menjadi nyata dalam kisah seorang religius yang tidak menyerah ketika kehilangan datang silih berganti, tetapi memilih tetap berdiri karena percaya pada penyelenggaraan Tuhan.

Perayaan Misa Syukur 25 Tahun Hidup Membiara itu turut dihadiri Camat Kota Atambua, Lurah Manumutin, umat Paroki Katedral Santa Maria Imakulata Atambua, keluarga besar sang yubilaris, serta para tamu undangan yang bersama-sama memanjatkan doa syukur atas perjalanan panggilan yang dipenuhi kasih dan penyertaan Allah.

Di penghujung perayaan, yang tersisa bukan sekadar kenangan tentang seperempat abad hidup membiara, melainkan sebuah kesaksian iman bahwa kesetiaan selalu menemukan jalannya di tengah penderitaan. Sebagaimana ditegaskan Rasul Paulus, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Timotius 4:7). Barangkali, di sanalah makna terdalam perak kaul itu bersemayam: ketika seorang hamba Tuhan memilih tetap setia, maka setiap air mata tidak lagi menjadi akhir dari kisah, melainkan benih yang pada waktunya akan berbunga menjadi rahmat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *